Keterbatasan Fisik Tak Halangi Jaka dan Dua Temannya untuk Terus Berkarya

Keterbatasan Fisik Tak Halangi Jaka dan Dua Temannya untuk Terus Berkarya Jaka, Dino dan Edi sedang bersiap-siap untuk menampilkan pertunjukan musik tradisional di loby hotel Grand Inna Muara Padang, Sabtu (9/11/2019) (foto: Covesia/ Laila)

Covesia.com - Alunan syair menggunakan bahasa daerah didengungkan oleh tiga orang pemuda berseragam biru pagi itu. Mereka sibuk memainkan musik sembari menyanyikan lirik-lirik lagu yang membuat tamu kadang tertawa, terharu serta antusias dalam menyaksikan setiap penampilan mereka.

Penuh semangat, ketiga pemuda yang memiliki keterbatsan secara fisik itu terlihat cukup lihai dalam mengolah nada menjadi musik serta mengkombinasikannya dengan nyanyian yang mampu memagnet para penonton yang menyaksikan.

Kalaulah tidak dibilang hebat, namun setidaknya kepiawaian Jaka, Edi, dan Dino dalam memainkan musik dan bernyanyi patut diacungi jempol. 

Berasal dari daerah yang berbeda, namun karena sama-sama menyandang disabilitas yakninya tuna netra mereka bertemu di sebuah panti sosial bina netra atau biasa mereka sebut PSBM Tuah Sakato.

Di panti binaan Dinas Sosial (Dinsos) Sumatera Barat inilah mereka memperdalam ilmu berbagai bidang termasuk kesenian.

Jaka misalnya sekarang ia sudah berkeluarga, dan memiliki 4 orang anak. Ia mengaku berasal dari Pesisir Selatan dan telah menyelesaikan pendidikannya di PSBM Tuah Sakato yang beralamat di Kalumbuk Padang.

"Sehari-hari saya buka praktek pijat, di sini hanya selingan ketika dipanggil oleh panti maka saya ke sini,"ungkapnya kepada Covesia, Sabtu (9/11/2019).

Jaka mengatakan bahwa bermain musik adalah kesenangan sendiri semenjak kecil. "Saya mempelajari musik dari teman-teman di kampung, mendengarkan lalu hafal dengan sendirinya," ungkapnya.

Namun untuk sekarang Jaka mengaku bahwa pantun yang dinyanyikannya terinspirasi dari YouTube. "Di YouTube sangat banyak informasi, tak hanya musik tapi lagu dan pantun melimpah," ujarnya.

Ayah dari empat anak itu mengatakan amat senang diundang ke acara-acara seperti ini, selain dapat menghibur tamu dan undangan ia dapat menyalurkan hobinya.

Ia bercerita kalau dahulu ia lebih sering diundang ke acara pernikahan. "Jadi kami mulai dari jam setengah sembilan malam hingga subuh, namun sekarang kami juga bisa tampil di hotel," ungkapnya.

Senada dengan Jaka, Edi (34) berasal dari Pariaman mengatakan inspirasi dari lagu yang dibawakannya tidak lain mendengarkan lagu lama, membawakan menjadi pantun. "Saya masih didik di panti, menjalani banyak pelatihan, semoga yang saya lakukan ada manfaatnya untuk orang lain," ungkapnya.

Pun demikian dengan Dino. Dari segi umur ialah yang Laing kecil dari dua rekannya, umurnya masih 16 tahun namun kemampuannya memainkan musik gendang jangan ditanya. "Saya senang musik juga menciptakan pantun-pantun untuk dinyanyikan," jelasnya.

Anak muda asal Solok Selatan itu pun berujar bahwa bikin pantun hal yang menyenangkan. Bahkan Jaka mengakui keahlian Dino tidak hanya mengarang pantun juga bermain band.

Setelah bertanya pada mereka covesia memutuskan untuk duduk dan memperhatikan mereka bermain musik dan menyanyikan pantun yang mereka karang, sesekali para tamu datang mendengarkan sembari menyelipkan uang pada mereka.

Ternyata mereka tidak hanya bertiga, ada yang mendampingi mereka ialah Erdiman.

Ia mengatakan bahwa anak-anak binaan panti tidak boleh dipandang enteng. "Dinas sosial berusaha menata masa depan anak-anak disabilitas netra, supaya tidak menjadi peminta-minta," jelasnya.

Setiap hari mereka diajarkan berbagai ilmu untuk modal kehidupan mereka di masa mendatang. Dinas sosial akan membina netra selama 3 tahun, memberikan pelatihan berupa keterampilan memasak, musik, bahasa Inggris, komputer, mengaji hingga pijat.

"Jumlah yang dibina di panti saat ini ada 50 orang ada laki-laki dan perempuan," ungkap Erdi.

Ada ketentuan juga untuk dibina di panti sosial bina netra, mereka memiliki usia rentang 15-35 tahun. "Setelah dibina 3 tahun dinas akan melepaskan mereka dan mereka bisa mandiri dengan pelatihan yang telah diberikan.

"Jaka itu alumni kami, sekarang dia sudah buka jasa pijat," ujarnya.

Kami ingin mengangkat derajat penyandang tuna netra supaya tak dilihat sebelah mata lagi. "Meski memiliki keterbatasan mereka tidak terhalang untuk berkarya," ungkap instruktur PSBN di bidang pijat Massage dan Shiatsu

Kontributor: Laila Marni

Berita Terkait

Baca Juga