Di Penghujung Usia, Warga Pariaman Ini Jalani Hidup Sebatang Kara di Gubuk Reot

Di Penghujung Usia Warga Pariaman Ini Jalani Hidup Sebatang Kara di Gubuk Reot Nenek Dasima saat berada di gubuk reotnya, di Desa Sungai Rambai, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman (Foto: Covesia/ Peri)

Covesia.com - Hidup di usia senja dengan tubuh yang telah ringkih termakan usia, tentu bukanlah perkara yang mudah untuk dilalui. Maka di sini, peran keluarga sangat dibutuhkan. Tapi lain halnya dengan yang dirasakan oleh Dasima seorang wanita berumur 89 tahun yang hidup sebatang kara di Kota Pariaman. 

Sebab, di penghujung usianya yang semakin redup, ia harus berjuang sendirian, setelah suaminya Adam Manuri meninggal 30 tahun lalu.

Karena, Dasima hanya hidup sebatang kara tinggal di gubuk reyotnya di Desa Sungai Rambai, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman. Anak yang diharapkan bisa merawatnya dimasa tua itu, namun tidak ia miliki. Kemudian sanak familinya pun juga dirundung kemiskinan dan berada di negeri orang. 

Terpaksa keseharian dilalui oleh wanita tua kelahiran 1930 silam itu, harus dibantu oleh tetangga yang berada di sekitar rumahnya.

"Saya tidak mempunyai anak, dan keluarga saya semua di rantau. Kehidupan mereka juga miskin, jadi bagaimana mungkin bisa membantu saya," kata Dasima, dengan wajah tersenyum dan mata berkaca menceritakan kisahnya sambil duduk di teras gubuknya yang beralasan papan, pada Kamis (7/11/2019).

Kesepian itu, mulai dirasakan wanita tua tersebut, sepeninggalan belahan jiwanya. Kenapa tidak, tempat berbagi dan menceritakan keluh kesah, telah meninggalkannya untuk selamanya. 

Sekarang terpaksa masa tua Dasima, hanya ditemani oleh sepuluh ekor ayam pelihara miliknya, yang setiap harinya Dasima ditopang tongkat kayu sambil berjalan tertatih-tatih dan membungkuk memberikan makan ayam miliknya. 

Dulu, Dasima saat suaminya masih hidup, ia merantau di Kota Duri, bersama suaminya Adam Manuri. Di sana suaminya bekerja sebagai tukang urut. 

Namun, kepergian suaminya itu membuat petualangan Dasima di rantau orang harus kembali ke gubuk reot yang berukuran 3x5 meter buatan suaminya sebelum meninggal itu. 

"Saya kembali pulang ke sini, karena suami sudah meninggal. Karena tidak mungkin saya masih bertahan di rantau orang sendirian, sedangkan umur kian menua," sebut wanita tua itu, sesekali sambil tertawa. 

Sebagai penopang hidup, setiap hari Dasima hanya mengharapkan dari hasil petikan buah kelapa miliknya, sekitar 500 buah sekali tiga bulan.

"Untuk biaya makan, saya dapat dari hasil petikan buah kepala yang ada di sekitar rumah ini. Tapi beruntung, beberapa bulan ini saya juga mendapatkan bantuan dari Pemerintah Kota Pariaman, yaitu dapat bantuan Rp 200 ribu perbulannya, dan dibayarkan sekali enam bulan," ungkapnya. 

Melewati malamnya, Dasima diterangi oleh lampu lentera dan senter. Sebab gubuk milikinya belum dialiri listrik. Bukan hanya itu, air untuk keperluan sehari-harinya juga sulit ia dapat. 

"Kalau malam hanya pakai lampu lentera dan senter saja. Bagaimana mungkin akan ada listrik, sedangkan air untuk mandi dan untuk kebutuhan sehari-hari hanya menunggu hujan turun. Kalau tak ada hujan, tunggu air diberikan tetangga," sebut Dasima sambil mengharap. 

Banyak harapan Dasima untuk dibantu lagi oleh pemerintah. Yang paling dibutuhkannya air bersih dan kamar mandi. Sebab selama ini Dasima tidak memiliki kamar mandi, jangan itu, untuk kakus saja dia hanya menggunakan "kakus terbang". 

Ini sedikit kisah anak manusia dalam menjalani hidupnya sebatang kara. Memang kisah ini tidak menjadi harapan setiap orang.

Penulis: Peri Musliadi

Berita Terkait

Baca Juga