Sukarni, 30 Tahun Sudah Mengais Rezeki di Antara Batu Nisan

Sukarni 30 Tahun Sudah Mengais Rezeki di Antara Batu Nisan Sukarni, 30 Tahun Sudah Mengais Rezeki di Antara Batu Nisan. Foto: Laila Marni

Covesia.com - Langit mendung sore ini menemani kegiatan yang biasa ia geluti. Dengan camping berwana biru seorang kakek berkumis dan berjanggut tipis berlindung dari terik siang dan rinai hujan.

Namanya Sukarni, namun lebih sering disapa dengan sebutan Pak Puak. Saat ditemui, ia sedang sibuk menyiangi rumput di pemakaman umum Tunggul Hitam.

Sukarni mengatakan bahwa ia telah lama bekerja di sana. "Lebih kurang 30 tahun, saya bekerja di sini," ungkapnya kepada Covesia.

Rambutnya sudah memutih. Bukan berarti semangatnya mengais rezeki terhenti. Setiap hari ia ke pemakaman, kecuali bila sakit.

Rezekinya bergantung dari permintaan ahli waris yang ingin pemakaman keluarganya dibersihkan. Penghasilan tak menentu, kadang sehari paling besar ia peroleh uang Rp 50 ribu.

"Saya syukuri saja," ujarnya.

Ia mengatakan, Taman Pemakaman Umum Tunggul Hitam ini sudah ada sejak 1971. Tiap harinya ada yang datang mengantar pilu.

"Mereka mengantarkan jasad anggota keluarga. Kebanyakan yang bermakam di sini bukanlah penduduk asli," terangnya.

Ayah dari 12 anak itu menuturkan, dirinya tak banyak berharap pada pemerintah. "Saya pribumi di sini," sambil menunjukkan daerah di seberang sungai, "Saya tinggal di Siteba," ujarnya lagi.

Selama 30 tahun bekerja, tak sedikit kesulitan yang dihadapinya. Kadang dimarahi pelayat karena makam berair.

"Padahal itu tidak bisa dihindari karena tanah mengandung air," ungkapnya.

Sukarni pun menjelaskan telah banyak pemakaman yang diputihkan dan dibangun makam baru.

"Dulu sekali 8 tahun, menjadi sekali 4 tahun untuk memperpanjang izin, dan sekarang sekali 2 tahun, tak lain karena tak banyak ahli waris yang memperpanjangnya. Boleh dibilang, mengantar mayat ke sini seperti halnya ke WC. Setelah tujuan selesai, mereka tidak menengok lagi. Amat jarang ahli waris yang kembali," jelasnya.

Walaupun begitu, masih ada beberapa makam yang sudah lama, yang tahun 80-an tetap dikunjungi juga diperpanjang masa izinnya oleh sanak familinya.

Sukarni menjelaskan ada beberapa faktor yang menyebabkan makam tidak diurus ahli warisnya.

"Pertama, karena ahli waris sudah pindah tempat tinggal, kedua masalah harta gono-gini, mereka tak peduli dengan makam lagi yang dipentingkan adalah harta," ungkapnya.

Sukarni berharap ahli waris selayaknya peduli dengan makam keluarganya, meskipun telah tiada mereka masih patut diperdulikan.

Sukarni melangkah menjauhi pemakaman, ia mengatakan ingin menunaikan salat.

Kontributor: Laila Marni

Berita Terkait

Baca Juga