Puluhan Depot Pengisian Ulang Air di Kota Pariaman Tidak Layak Konsumsi

Puluhan Depot Pengisian Ulang Air di Kota Pariaman Tidak Layak Konsumsi Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Pariaman, Syahrul (Perimusliadi)

Covesia.com - Dinas Kesehatan Kota Pariaman, menyebutkan bahwa air dari 45 depot pengisian ulang di daerah itu tidak layak untuk dikonsumsi, sebab tidak lulus uji laboratorium dan habis masa kelayakan sehat.

"Terdata untuk Kota Pariaman, ada 71 unit depot air disepanjang tahun 2019 ini. Tapi dari sebanyak itu, baru 26 depot air yang sudah dinyatakan layak untuk dikonsumsi," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Pariaman, Syahrul pada Minggu (6/10/2019).

Lanjut Syahrul, yang 45 unit depot pengisian ulang ini, mereka yang hingga saat ini belum ada melakukan pengujian laboratorium oleh pemerintah daerah setempat.

"Mungkin para pemilik depot ini, masih enggan untuk melakukan pengujian laboratorium. Karena mereka tidak mau repot," sebutnya 

Menurut Syahrul, dengan kondisi seperti ini, kesadaran pemilik depot pengisian ulang masih kurang. Sebenarnya keinginan masyarakat untuk mengkonsumsi minuman sehat sudah ada.

"Tinggal dipenyedia airnya saja yang masih lalai dalam hal ini.

Nanti kami akan turun secara bersama dengan tim akan dilakukan tindakan kalau memang ditemui dilapangan masih ada juga yang tidak layak," sebut Syahrul.

Makanya dikatakan Syahrul, diharapkan kepada setiap depot harus bisa melakukan pengujian laboratorium dan memiliki stiker layak konsumsi. Kemudian harus selalu melakukan perawatan dan pergantian penyaringan serta pembunuh kumannya secara berkala.

"Jika ini tidak dilakukan maka air tersebut bisa dikatakan tidak layak konsumsi karena sistem penyaringan dan pembunuh bakterinya tidak berfungsi lagi," jelasnya.

Syahrul menyebutkan, kepada masyarakat juga diharapkan untuk bisa memperhatikan, saat melakukan  pengisian ulang air. Depot yang layak dikonsumsi ada stikernya.

Selanjutnya Syahrul menjelaskan, dalam pemeriksaan depot ini, seharusnya pemilik depot melakukan nya dua kali setahun. 

"Seharusnya sekali enam bulan. Tapi kalau dari kami, sekali setahun," ujarnya.

Kontributor: Perimusliadi

Berita Terkait

Baca Juga