Walhi Desak Pemprov Lakukan Pencegahan dan Penanggulangan Karhutla

Walhi Desak Pemprov Lakukan Pencegahan dan Penanggulangan Karhutla Kabut asap menyelemuti Riau. Foto: Covesia/ Husni Afriadi

Covesia.com - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah Sumatera Barat dan kiriman asap dari provinsi tetangga telah menyelimuti 18 kabupaten/ kota kecuali Mentawai. Ke semua wilayah tersebut berada pada tingkat ketebalan kabut ringan dan sedang. 

"Pantauan kami berdasarkan citra satelit MODIS Aqua Terra,  pada 11-13 September 2019  di Sumbar terdapat 4 titik hotspot yang tersebar di 4 Kabupaten dengan tingkat kepercayaan 90-100 persen," ungkap Direktur Eksekutif Walhi Sumbar Uslaini dalam keterangan pers yang diterima Covesia, Jumat (13/9/2019).

Dia menyebutkan, lokasi titik panas tersebut berada di Kabupaten Dharmasraya, Pasaman, Pesisir Selatan dan Solok yang dalam kategori perlu penanggulan segera. 

Walhi mendesak Pemprov segera melakukan perbaikan tata kelola kawasan hutan yang dinilai selama ini sangat buruk. Selain itu harus dievaluasi izin perkebunan dan pertambangan karena izin-izin yang diterbitkan tumpang tidih dengan kawasan hutan bahkan titik api diduga juga berada dalam izin yang diterbitkan yang sewaktu-waktu terbakar.

"Jika tidak ada upaya perbaikan tata kelola hutan dan lahan maka ke depan persoalan yang sama terus terjadi bahkan akan melahirkan persoalan baru yang merugikan masyarakat Sumbar," sebutnya.  

Dia menjelaskan, titik panas cendrung berada dalam kawasan hutan lindung dan areal perkebunan seperti 4 titik berada di Nagari Silayang, Kab. Pasaman dan Kec. Payung Sekaki, Kab. Solok, Nagari Tapan Kab. Pesisir Selatan berada dalam kawasan hutan.

Sedangkan 3 titik panas di Nagari Abai, Nagari Timpeh Kabupaten Dharmasraya berada dalam areal perkebunan. Beberapa daerah lain juga sangat berpotensi terbakar seperti Kabupaten Sijunjung, Tanah Datar, Lima Puluh Kota, Agam, Solok Selatan dan Sawahlunto yang masuk dalam kategori sangat mudah terbakar.

Beberapa kawasan di Sumatera Barat telah dilakukan penanggulangan seperti di Tanah Datar dan Dharmasraya, tambahnya. Namun, cuaca panas masih berlangsung selama seminggu ke depan, berpotensi menyulut karhutla.

"Prakiraan cuaca BMKG Minangkabau, seminggu ke depan cuaca cerah dan berawan dengan suhu rata-rata antara 22-30 derajat celsius semakin meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan," ulasnya.

Ditambahkannya, jika tidak ada upaya pencegahan dan penanggulangan dari Pemprov dan pihak terkait maka asap dan kabut di Sumbar akan semakin pekat dan berbahaya bagi kesehatan masyarakat.

(rdk)

Berita Terkait

Baca Juga