Lika-liku Agus Sri, 7 Tahun Lakoni sebagai Pelatih Beruk di Pariaman

Likaliku Agus Sri 7 Tahun Lakoni sebagai Pelatih Beruk di Pariaman Agus Sri Effendi (50) saat melatih Beruk di Sekolah Tinggi Ilmu Beruk (STIB) Desa Apar, Kota Pariaman (Foto: Covesia/ Peri Musliadi)

Covesia.com - Sudah tujuh tahun Agus Sri Efendi (50) melakoni profesi sebagai pelatih beruk dan juga pemetik buah kelapa dengan beruk tersebut. Menghadapi beruk ini, kesabaran dan ketabahan sangat diperlukan bagi seseorang yang mengabiskan waktunya bergelut dengan hewan tersebut.

"Sudah tujuh tahunan saya mengemban profesi itu. Kalau kesulitan tidak ada saya alami, hanya saja saya harus tabah dan sabar dalam menghadapi beruk - beruk ini," ucap Efendi pada Selasa (10/9/2019).

Lanjutnya, beruk yang akan dilatih ini, biasanya beruk yang berumur satu hingga tiga tahunan. Jadi menjadi pelatih beruk kecil tersebut tidaklah sama dengan siswa sekolah yang manis. Sebab disaat dilatih beruk terkadang terus meronta.

"Disaat itulah kesabaran seorang pelatih diuji. Apakah beruknya dimarahi atau bahkan dipukuli. Itu tergantung pribadi masing - masing. Kalau saya pribadi harus bisa menghadapi itu dengan tabah dan sabar, sebab masalah rasa," ungkap Efendi.

Beruk melawan kepadanya, itu sudah menjadi hal yang biasa. "Sudah sering saya alami, seperti digigit dan dicakar itu sudah menjadi makanan sehari - sehari bagi saya," katanya.

"Ya mau diapakan lagi. Sebab hubungan saya dengan beruk sudah terjalin sejak lama. Beruk bukan lagi ancaman bagi saya, sebab beruk sangat besar perannya dalam mencukupi kebutuhan keluarga saya,"  sebutnya.

Efendi menyebutkan, menjadi pelatih beruk, biasanya ia bisa mendapatkan upah sekitar Rp750 ribu, sampai beruknya pandai. Untuk lamanya terkadang sampai 4 hingga 5 bulan. "Terkadang saya mendapatkan upah Rp750 ribu lah dari melatih beruk," katanya lagi.

Efendi juga menjelaskan, di Desanya yaitu Desa Apar, Kota Pariaman, banyak juga dari masyarakatnya menggunakan jasa beruk ini sebagai hewan untuk memetik buah kelapa.

"Jadi dikampung saya, peran beruk sangat tinggi. Makannya tidak ada siksaan bahkan sampai membunuh beruk di sini. Karena sudah bagian dari keluarga," ujarnya.

Kemudian kata Efendi, untuk harga beruk di Desa Apar, berkisaran harga Rp700 ribu, itu untuk beruk kecil yang belum bisa apa-apa. Nanti setelah bisa memetik buah kelapa, seekor beruk bisa dihargai Rp7,5 juta.

"Untuk ukuran beruk yang sudah pintar memetik buah kelapa itu, seandainya sudah biasa menurunkan buah kelapa di atas 1.000 satu hari," ucap Efendi yang juga merupakan salah seorang pelatih beruk di Sekolah Tinggi Ilmu Beruk (STIB) Mandiri, Desa Apar, Kota Pariaman tersebut.

Dikatakan Efendi, usai bekerja memanjat kelapa, serta berlatih, beruk harus diberikan minum susu, makanan berkuah dan gula merah, agar bisa menambah staminanya.

Kontributor Pariaman: Peri Musliadi

Berita Terkait

Baca Juga