Di Belantara Manggilang, Generasi Islami Tumbuh dari Tangan Kuli Tuhan

Di Belantara Manggilang Generasi Islami Tumbuh dari Tangan Kuli Tuhan Lokasi pesantren Darul Zikri Manggilang, di Kanagarian Manggilang, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota.

Covesia.com - Tak ada yang dapat memastikan hidup ke depan akan seperti apa. Tapi, tak ada pula nasib yang tak bisa diubah, melainkan apa-apa yang telah diusahakan seseorang untuk dirinya. Akan jadi apa ia esok hari? 

Setiap orang punya cara pandang dalam melihat profesi orang lainnya. Ada yang takjub karena prestasi yang dimiliki secara finansial, ada pula yang mengerutkan kening, bila mana profesi yang dijalani seseorang membuat dia tak mentereng. 

Contoh saja, pekerjaan kuli angkut hasil pertanian di pandang rendah di mata banyak orang. Di negeri ini, petani belum mendapat tempat untuk jadi terhormat. Apalagi para kulinya. Hari-hari nan penuh peluh, menampar paras para kuli untuk menjadi lusuh dan kumuh. Upahnya hanya cukup untuk sepagi dan sepetang. Getir hidup, bak melodi sepanjang lagu.

Namun, orang-orang bisa saja akan begitu takjub ketika ada seorang kuli angkut yang gigih berjuang mendirikan pesantren pertama di kampung halamannya. Letaknya tak tanggung-tanggung pula, di belantara rimba. Tepatnya di Pinggang Bukit Gadang Manggilang, Kenagarian Manggilang, Kabupaten Limapuluh Kota.

Ah, kuli angkut itu sebut saja sebagian kecil dari “hobi.” Sepertinya memang terlihat begitu. Bagi seorang pemuda yang sudah sarat pengalaman di bidang profesional—seperti seni pementasan dan jusnalistik—mencari sampingan dengan menjadi kuli adalah bagian dari mencicip pengalaman hidup. Kadang pula, cukup indah diceritakan ke anak cucu, meski pun bukan itu esensinya. 

Bak skenario, ini lebih menggambarkan bahwa kehidupannya akan sedikit lebih dramatis dan bersahaja. Buktinya, jalan hidup ke depan yang dipilih justru sangat mulia. Membangun peradaban negeri lewat ilmu-ilmu agama, mencerdaskan anak kemenakan di kampung halaman, mengisi otak mereka dengan ilmu pengetahuan, tentu ini pekerjaan mulia. 


“Siapa yang menjauhkan diri dari sifat mengeluh, maka ia telah mengundang kebahagiaan.”

Perkataan Khalifah Abu Bakar As-Shidiq ini seperti mengungkap apa-apa yang ada dalam pilihan hidup Muhammad Zikri (33), pemuda Kampung Koto Tuo, Jorong Seberang Pasar, Kenagarian Manggilang, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. 

Kisahnya, Zikri dengan uang Rp3 juta, menggarap hutan di Puncak Bukit Gadang Manggilang seluas setengah hektare. Tujuannya bukan sekadar membuka lahan untuk bertani atau berladang. Bukan pula diproyeksikan bakal jadi objek wisata baru agar dikunjungi banyak pelancong domestik, atau mungkin manca negara.

Tak muluk-muluk, dia cuma membangun sebidang bangunan dari bahan sederhana, untuk dijadikan pondok. Lagi-lagi, pondok yang dibangun bukan sekadar untuk berdiam menjaga tanaman di ladang.

Zikri mendirikan pondok pesantren. Tempat di mana para generasi Manggilang akan menimba ilmu agama dari para guru. 

Darul Zikri Manggilang, itu nama yang dipilih. Terselip namanya sendiri sebagai pendiri. Darul Zikri Manggilang atau disingkat DAZMA dirikan di tanah yang jadi warisan keluarga. 

Enam bulan belakangan, dia dibantu beberapa teman cukup sibuk menyisihkan waktu, memenggal satu per satu pepohonan layak pakai. Kayu-kayu itu pun jadi material bangunan pesantren. Hari-harinya, pagi hingga siang berkuli. 

Siang hingga sore bertani dan malam mengkaji ilmu agama bersama para santri. Dia mengikis tembok penghalang. Sekarang, satu-satunya pondok pesantren di Kenagarian Manggilang ini sudah mulai beroperasi.


Walaupun masih berstatus informal, proses belajar mengajar di pesantren Dazma sudah berjalan seperti pesantren pada umumnya. Bidang ilmu yang diajarkan yakni Nahwu, Sharaf, Hadist, Tafsir, Fiqih, Akhlak, Tarikh dan lainnya. Saat ini, santrinya baru berjumlah 10 orang laki-laki dan untuk mengajar, ia dibantu seorang guru agama SMP Negeri 2 Pangkalan Koto Baru, Herman Yunus.

Untuk tiba di Pesantren Dazma butuh perjuangan. Jalan menanjak sepanjang 2 kilometer akan menguras peluh di sekujur tubuh. Di kiri dan kanan perjalanan, bisa melihat ladang gambir dan karet warga setempat. Rimbun dan teduh, sungguh elok kala melangkah di sana.

Setiap sore, para santri bergelut dengan ini. Malam hari mereka berkutat dengan buku dan ilmu. Jika waktu belajar usai, sebagian santri bersama orang tua mereka kembali menuruni bukit. Lepas subuh, para santri kembali ke rutinitas belajar di sekolah umum. 

Sepulang dari negeri orang tahun 2016, Zikri belum terniat membangun pesantren. 

Jauh sebelumnya, di tahun 2002 silam, langkah kaki pertama menuju negeri orang, ia niatkan untuk menuntut ilmu, dan suatu waktu harus kembali pulang, berbuat sesuatu untuk kampung halaman.

Tahun 2002 itu, dia menempuh pendidikan sebagai santri di MTI Koto Panjang, Lampasi, Kota Payakumbuh. Waktu pun berlalu dan tahun 2005 ia tamat dari MTI dan melanjutkan studi di IAIN Imam Bonjol Padang Jurusan Bahasa dan Sastra Arab (2005-2010). 

Usai menyandang gelar S1, hatinya kokoh merantau. Jakarta pun menjadi pilihan. Tak lama di sana, ia pindah ke Kota Pekanbaru. Selama di perantauan, bekerja dari satu perusahaan ke perusahaan swasta lain. Selama 6 tahun, niat membangun Manggilang seakan hampir terlupakan. 

Barulah di tahun 2016, ia pun tersadar. Bergegas hatinya untuk pulang. Rindu untuk mengabdi pada Manggilang.

Kala kaki kembali menginjak tanah Manggilang, pikiran bingung bercampur hati nan bimbang. Kelopak mata memandang, Manggilang ternyata masih terbelakang. Lapangan pekerjaan sangat minim. Mayoritas penduduk masih berdagang dan bertani. Hendak kemana ijazah ini digunakan untuk mencari lapangan pekerjaan?

 Untuk berdagang pun tak cukup modal. Alhasil, terpikir untuk menggarap lahan tidur milik keluarga di puncak Bukit Gadang. Di sinilah awal mula Pondok Pesantren Dazma terlahir.

“Awalnya saya ingin menggarap lahan di atas bukit ini saja dan membuat gubuk untuk rumah pribadi. Soalnya malu lah, usia sudah 30 tahun tapi masih menggantungkan hidup sama orang tua. Apalagi saya orang rantau yang pulang dari rantau,” ucap Zikri kepada Covesia.com saat berkunjung ke Pesantren DAZMA, Rabu (21/08/2019).

Gubuk berukuran 3x4 meter pun berdiri. Digaraplah tanah ini menjadi ladang mentimun dan sayur-sayuran. Hari-harinya bertani. Jika urusan ladang sudah selesai, ia turun dari bukit dan menjadi kuli angkut hasil pertanian di pasar Manggilang. 

Tak jauh dari sana, Masjid Mukhlisin (Samping Kantor Walinagari Manggilang-red) kerap menjadi tempat peristirahatan Zikri, sekaligus membantu mengajar di rumah Tahfiz di masjid itu. Sorenya, ia bergegas pulang.

Lama kelamaan Zikri mulai dikenal kembali oleh masyarakat di kampung Manggilang. Apalagi ia mantan santri yang cerdas dan pandai mengaji. Setiap lepas maghrib, ada saja masyarakat yang mengantarkan anak-anaknya untuk belajar kepada Zikri di gubuk kayu sederhana tanpa aliran listrik itu. Dulu, penerangan hanya lampu cas solar cell yang bertahan selama 4 jam.  

Dua tahun ia mengajar tanpa pamrih. Sampai akhirnya terpikir benar-benar membuat pesantren sebagai wadah belajar bagi generasi penerus Manggilang. Sekarang, ia sudah memiliki dua gubuk. Satu untuk kelas mengajar, satunya lagi untuk urusan kantor dan tempat beribadah.

“Gubuk hanya dua di sini. Satu untuk kelas, satu untuk kantor saya sekaligus sebagai tempat ibadah. Alhamdulillah, listrik sudah masuk dan itu saya ambil dari rumah warga, 800 meter di bawah bukit ini,” ucap Zikri.


Proses belajar mengajar yang diterapkan Zikri, mendidik para santri untuk hidup dan aktif selama 24 jam. Anak-anak di suruh datang ke pesantren sore, menjelang maghrib. Kemudian lepas maghrib mereka belajar hingga pukul 23.00 WIB. Setelah belajar, para santri laki-laki tidak pulang. Melainkan di tidur di gubuk sesuai adab Iktikaf. 

Di tengah malam, bagi santri dibangunkan untuk shalat tahajud. Saat waktu subuh, seluruhnya dibangunkan dan melaksanakan shalat subuh berjemaah. Barulah kala fajar menjulang, para santri pulang ke rumah masing-masing untuk bersiap masuk ke sekolah umum.

Ritme seperti ini dijalankan Zikri untuk membuat watak santrinya untuk dekat dengan sang ilahi, Allah SWT. Hablumminallah dan Hablumminannas.

“Setahun ke depan, mungkin akan berjalan metode seperti ini. menggunakan pola didikan surau seperti dahulu di Ranah Minang. Pagi dan siang bersama kawan-kawan dan keluarga, tetapi malam para santri ini mondok. Karena masih informal. Belum ada legalitas. Namun, saya akan mengurus legalitas formal pesantren ini ke Kemenag dalam setahun ke depan dan isnya Allah juga akan dibangun mushalla di sini untuk para santri,” harapnya.

(agg/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga