Tambang Pasir di Aliran Sungai Batang Kandis Resahkan Warga Pasir Jambak

Tambang Pasir di Aliran Sungai Batang Kandis Resahkan Warga Pasir Jambak Kondisi daratan objek wisata Pasir Jambak yang terus terkikis erosi akibat penambangan pasir di aliran sungai Batang Kandis, kelurahan Pasir Nan Tigo, kecamatan Koto Tangah, Padang, Sumatera Barat, Selasa (13/8/2019) (Foto: Covesia/Doni Syofiadi)

Covesia.com - Tambang pasir di aliran sungai Batang Kandis, Pasir Jambak, kelurahan Pasir Nan Tigo, kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat mulai meresahkan warga.

Pasalnya tambang pasir yang dilakukan secara tradisional itu telah menyebabkan erosi yang cukup meluas dan nyaris mengancam objek wisata di kawasan tersebut.

"Dampaknya mulai mengkuatirkan, lebih seratusan pohon cemara di objek wisata (Pasir Jambak) ini telah tumbang akibat erosi dari ulah penambangan pasir. Ratusan meter daratan sudah berubah menjadi sungai, sudah seperti danau gitu," ungkap Novi (28) warga setempat kepada covesia.com, Selasa (13/8/2019).

Novi yang merupakan pedangan yang berjualan di kawasan objek wisata Pasir Jambak itu sudah berulang kali mencoba melarang penambang pasir yang melakukan aktifitas penambangan, namun malah berujung cekcok.

"Para penambang menggunakan perahu untuk mengeruk pasir di sungai, kita sudah berulang kali melarang, namun ujungnya malah cekcok, sampai ada si penambang melempar saya dengan kayu dan melukai kaki saya. Sudah didamaikan oleh tokoh masyarakat setempat. Setelah itu, penambangan bukan malah berhenti, tetapi tetap berlanjut dan malah makin menjadi-jadi," terang Novi.

Hal serupa juga dikatakan warga lainnya Oyong (58), dirinya mengaku pernah mendapatkan teror dari para penambang pasir usai melarang penambangan.

"Kejadiannya sekitar dua bulan yang lalu, pondok tempat saya berjualan dibakar pada malam harinya, usai melarang mereka (penambang pasir) siang harinya. Kami mohon kepada bapak Walikota untuk segera bertindak, karena sudah sangat membahayakan. Kalau terus dibiarkan daratan ini bakal menjadi sungai," ungkap Oyong.



Sementara RT setempat, Zulbadri mengatakan penambangan pasir sudah berlangsung sejak lama, namun dalam enam tahun belakangan ini makin marak.

"Penambangan pasir di sungai ini sudah berlangsung sejak tahun 1986, namun enam tahun belakangan makin marak. Mereka mengambil pasir tidak hanya di dalam sungai, namun juga pasir di atas sungai," ujar Zulbadri.

"Sebelumnya, di kawasan objek wisata ini ada dua lapangan bola tempat anak-anak dan pengunjung bermain, sekarang sudah jadi sungai. Kami sudah mencoba membahasnya bersama lurah, camat, hingga dinas terkait, namun tidak ada tanggapan. Mereka mengatakan galian c merupakan tambang warga buka perusahaan, sehingga tidak bisa ditindak," sebutnya.

Pantaunan Covesia.com di lapangan, erosi telah menyebabkan sebagian hutan bakau di sekitar aliran sungai Batang Kandis sudah banyak berkurang, pohon pelindung (cemara) yang ditanam pada masa Walikota Fauzi Bahar juga banyak yang tumbang. Daratan sepanjang pantai objek wisata juga nyaris terputus digerus air sungai akibat penambangan pasir.

(dnq) 

Baca juga: Gelombang Tinggi Kikis Bibir Pantai Kata Kota Pariaman

Berita Terkait

Baca Juga