Resdi Butet, Si Bisu yang Suka Rela Atur Lalu-lintas di Agam

Resdi Butet Si Bisu yang Suka Rela Atur Lalulintas di Agam Resdi Butet, Si Bisu Yang Suka Rela Atur Lalu-lintas di Agam. (Foto: Johan/ Covesia)

Covesia.com - Padatnya lalu-lintas sudah menjadi rutinitas di Jalan Raya Lubuk Basung -Bukittinggi, khususnya di depan SMKN 1 Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Diantara simpang siur kendaraan yang melintas, berdiri sesosok pria jangkung berpakaian PDL lengkap mengatur jalannya kendaraan dengan memberikan isyarat menggunakan tangan, sesekaki memberikan jalan untuk pelajar dan guru yang hendak memasuki kawasan sekolah.

Adalah Resdi Warga Jorong Tanjuang Batuang, Nagari II Koto Kecamatan Tanjung Raya yang berperan besar dalam kelancaran arus lalu-lintas di kawasan setempat. Laki-laki 45 tahun ini mendapatakan penghargaan dari Kapolres Agam saat Hut Bhayangkara ke-73, di Mapolsek Tanjung Mutiara, Rabu, (10/7/2019) lalu dalam kategori membangu tugas polisi dalam mengatur lalulintas.

Sepintas tidak ada yang salah dari pria tersebut namun jika di lihat lebih dekat terlihat pakaian dinas Dishub, melekat ditubuhnya lengkap dengan pernak pernik lambang instansi Pemerintah, Polri bahkan TNI dan tak lupa pula di dada sebelah kanan tersemat Tag nama bertulisan Butet.

Mungkin terlihat aneh jika pertama kali bertemu namun dengan penampilan yang khas serta sumbangsihnya terhadap kelancaran lalulintas membuat Resdi (Butet) dikenal baik masyarakat di Kabupaten Agam serta pengendara yang sering melintas.

Guna menyenal lebih jauh laki-laki unik itu Covesia.com didampingi Walinagari II Koto Joni Safri menyambangi kediamannya. "Butet kalau siang ini tidak ada dirumah, mungkin di SMKN 1 Tanjung Raya, tapi tidak taulah dimana posisinya sekarang coba cari di Pasar," ujar  ST Alamsyah Kakak Ipar Butet saat kami menanyai keberadaan Resdi.

Mendapat jawaban tersebut kami kemudian menyampaikan maksud dan tujuan dan St Almasyah langsung mempersilahkan duduk sembari meminta dibuatkan kopi untuk tamu yang datang. "Resdi Ini bisu semenjak lahir, saat usia 15 tahun ayahnya meninggal, selepas kepergian sang ayah ia sering bermain di pasar dan suka membantu polisi mengatur lalulintas hingga saat ini," kata St Alamsyah sambil mempersilahkan minum.

Entah dari mana awalnya,  Resdi kemudian memiliki seragam polisi dan dilengkapi dengan pernak-pernik kedinasan tak lupa pula menyematkan Tanda Nama Butet yang saat ini menjadi panggilan akrabnya.

"Ia mengumpulkan uang dan pergi ke Bukittinggi untuk menambah koleksi seragamnya tidak lupa pula mencari pernak-pernik kedinasan, saat ini kalau tidak salah sudah ada 6 buah pakaian seragam butet, setiap hari selalu ditukar saat akan mengatur lalulintas," terang St Alamsyah

Butet menjalankan tugasnya dengan ikhlas tanpa mengharap imbalan, sesekali pengendara yang melintas menyalaminya sambil menyelipkan sedikit uang untuk membeli air minum.

Tidak hanya jam sekolah maupun pasar, butet akan muncul saat ada hajatan, dengan suka rela mengatur lalulintas agar tidak macet sambil mengatur parkir kendaraan tamu undangan. Semua di kerjakannya tanpa disuruh bahkan pulangpun tidak pernah meminta izin pemilik hajatan. " Jika kendaraan sudan mulai sepi Butet akan pulang tanpa memberi tau pemilik hajatan," ulasnya.

Pengabdian Butet tidak selalu berjalan dengan mulus, Ia pernah 2 kali ditabrak motor yang melintas saat mengatur lalu-lintas di Pasar Ahad beberapa tahun yang lalu bahkan akibat kecelakaan ini terpaksa harus beristirahat total selama 3 bulan. "Butet ini kan bisu, ia tidak bisa mendengar kendaraan yang melintas,  jadi para pengemudilah yang harus memelankan laju kendaraannya saat melintas dekat Butet," ulasnya.

Sementara itu Walinagari II Koto menuturkan, sosok Butet ini sangatlah disenangi masyarakat sekitar, ia selalu siap membantu jika dibutuhkan oleh warga. "Diantara kekurangannya, butet ini memiliki kelebihan yang tidak dimiliki banyak orang, ia bekerja dengan ikhlas, bisa kita katakan butet ini pahlawan lalu-lintas Kabupaten Agam," tegasnya.

(han)

Berita Terkait

Baca Juga