Manampung, Tradisi Masyarakat Sitingkai Agam Bagikan Daging Kurban

Manampung Tradisi Masyarakat Sitingkai Agam Bagikan Daging Kurban Tradisi Manampuang saat pembagian daging kurban di daerag Sitingkai, Palupuah, Agam (Foto: Afriadil)

Covesia.com - Setiap daerah mempunyai keunikan tersendiri dalam merayakan hari raya Idul Adha, seperti halnya di Jorong Sitingkai, nagari Koto Rantang, Kecamatan palupuh, kabupaten Agam, provinsi Sumatera Barat, (Sumbar).

Di daerah ini sistem pembagian daging kurban tidak dilakukan dengan pemberian kupon terlebih dahulu, namun masyarakat langsung datang ke lokasi penyembelihan kemudian berdiri berjejer di dua sisi jalan, dan panitia berjalan ditengah untuk membagikan daging.

Tokoh masyarakat setempat Afriadil mengatakan, tradisi tersebut sudah dilakukan turun temurun semenjak nenek moyang dahulunya hingga saat ini masih di laksanakan oleh warga  setempat.

"Pembagian daging biasanya dilakukan usai Shalat Zuhur, masyarakat datang ke lokasi sambil membawa wadah untuk menampung daging, kemudian berdiri berjejer di sisi jalan," ujarnya saat di konfirmasi Covesia.com, Minggu (11/8/2019).

Dijelaskan Afriadil, banyak hikmah yang terkandung dari tradisi tersebut, salah satunya untuk menjalin silaturahmi serta pembagian daging bisa di sama ratakan.

“Untuk panitia dibentuk langsung oleh warga yang berkurban dibantu pemuda, masalah pembagian daging, masyarakat tidak akan protes karena mereka yakin daging yang diperoleh akan sama rata, selain itu tradisi ini bertujuan untuk mempererat hubungan silaturahmi diantara mereka,“ lanjutnya.

Hewan kurban sendiri berasal dari masyarakat Jorong Sitingkai baik yang di kampung maupun perantau yang melakukan kurban di kampung halaman. “Untuk tahun ini kita menyembelih 4 ekor sapi dan nantinya setelah dipotong-potong langsung dibagikan,“ jelasnya.

Biasanya  sebelum manampuang daging, ibu-ibu dirumah sudah mempersiapkan bumbu karena sesampai daging di rumah langsung dimasak untuk disantap keluarga.

(han/don)


 

Berita Terkait

Baca Juga