Diduga Kerap Dibully dan Dipalak, Seorang Siswa di 50 Kota Alami Gangguan Jiwa

Diduga Kerap Dibully dan Dipalak Seorang Siswa di 50 Kota Alami Gangguan Jiwa M. Syukri dan anaknya MRF saat ditemui di kediamannya, Senin (15/7). Foto: Angga

Covesia.com - Salah seorang siswa SMP Negeri 1 Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, MRF (15) mengalami gangguan jiwa karena diduga kerap menjadi korban bullying dan pemalakan sesama siswa di sekolah. Saat ini, siswa kelas 9 ini susah diajak berkomunakasi dan banyak bermenung.

Covesia.com yang menyambangi kediaman MRF di Jorong Koto Tongah, Kenagarian Lubuk Batingkok, Kecamatan Harau bertemu langsung dengan dia dan orang tuanya, M. Syukri, Senin (15/7/2019).

Penuturan M. Syukri, keterbelakangan mental yang dialami oleh anaknya ini sudah berlangsung selama satu bulan. Tepatnya, pada Selasa (18/6/2019). Saat itu, Syukri yang baru pulang sekolah terlihat bermenung di rumah. Karena merasa aneh pada pandangan MRF yang bermenung terlalu jauh dan lama, Syukri pun bertanya perihal masalah yang dialami ananknya.

Baca juga: Tanda-tandanya Anak Anda Jadi Korban Bullying di Sekolah

Awalnya, MRF tidak mengaku ada masalah. Namun setelah dipaksa, akhirnya dia menceritakan secara detail persoalannya di sekolah yang kerap dibully dan dipalak oleh teman satu sekolahnya. Kejadian itu sudah berlangsung selama 2 tahun, tepatnya sejak ia masuk ke SMP Negeri 1 Harau.

Mendengar hal itu, Syukri memang sedikit kesal dan ingin mendatangi pihak sekolah keesokan harinya.

Namun sore hari, saat Syukri berada di ladang ia dipanggil oleh kerabatnya dan memberi kabar bahwa anaknya mengamuk dan membanting barang-barang yang ada di rumah.

Usai ditenangkan, MRF sudah tidak bisa berkomunikasi lagi dengan baik. Ia kerap menangis, ketakutan jika melihat orang sebayanya dan berteriak-teriak hingga sekarang.

Di situlah, Syukri berkesimpulan bahwa inilah puncak tekanan batin anaknya yang merasa tertekan selama dua tahun belakangan dan sudah mengalami depresi yang berujung gangguan jiwa.

Baca juga: Jangan Anggap Sepele, Anak Korban Bullying Rentan Alami Trauma

“Saya yakin dan seyakin-yakinnya, anak saya ini stress karena mengalami tekanan akibat terus dibully dan diperas oleh teman sekolahnya. Sebelum mengamuk, ia menceritakan semuanya kepada saya. Ada 8 orang siswa yang semuanya dalam satu geng. Mereka itulah yang kerap membully dan memeras anak saya. Intimidasi ini sudah dilakukan oleh mereka kepada MRF sejak ia masuk ke SMP Negeri 1 Harau. Berarti sudah 2 tahun anak saya tertekan batinnya,” jelas Syukri kepada covesia.com  di kediamannya di Lubuk Batingkok.

Penuturan Syukri, dari pengakuan anaknya, awalnya siswa-siswa ini mewajibkan MRF menyetor setiap hari sebesar Rp 2 ribu. Kemudian naik menjadi Rp 3 ribu dan terakhir Rp 5 ribu. Termasuk sepeda yang digunakan MRF juga beralih tangan ke para siswa tersebut.

“Baru seminggu anak saya bersekolah, sepedanya sudah tidak ada. Alasan MRF hilang. Tapi belakangan ia mengaku sepedanya sama salah seorang siswa yang kerap membullynya. Termasuk mewajibkan MRF menyetorkan uang setiap hari. Jika tidak, dibully dan dipukuli,” ujar Syukri.

Akibat mendapatkan perlakuan ini, Syukri menuturkan anaknya mengalami depresi yang membuatnya mengalami gangguan jiwa seperti sekarang ini.

“Sekarang saya meminta pertanggung jawaban orang tua siswa-siswa yang membully anak saya. Termasuk pihak sekolah dan dinas pendidikan Kabupaten Limapuluh Kota. Sekarang anak saya sudah jadi orang apnormal. Mau dikemanakan masa depan anak saya ini sekarang,” tegasnya.

Baca juga: Pentingnya Peranan Orangtua untuk Mencegah Anak Menjadi Pelaku Bullying

Sementara itu, Covesia.com yang mencoba mengkonfirmasi ke pihak SMP Negeri 1 Harau belum membuahkan hasil.

Saat mendatangi SMP Negeri 1 Harau, lingkungan sekolah kosong karena sudah pukul 15.15 WIB.

Kemudian saat ditanyai nomor telepon Kepala sekolah dan wali kelas MRF kepada guru-guru yang ada di sekolah, mereka mengaku tidak hapal nomor Kepsek dan Wali kelas MRF.

Saat ini Covesia.com tengah berupaya mendapatkan konfirmasi dari kepala Sekolah SMP Negeri 1 Harau, Yusuf Lubis.

(agg/doq)

Baca juga: Korban Bullying Punya Dampak Lebih Berbahaya dari Kekerasan pada Anak

Berita Terkait

Baca Juga