Harga Getah Gambir Kembali Turun di Kecamatan Sutera Pessel, Para Petani Mengeluh

Harga Getah Gambir Kembali Turun di Kecamatan Sutera Pessel Para Petani Mengeluh Seorang petani gambir yang sedang mengolah getah gambir miliknya di Kecamatan Sutera Pessel (Foto: Indrayen)

Covesia.com - Sejumlah petani di Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar) mengeluhkan harga getah gambir di daerah tersebut kembali turun dari harga Rp18 ribu perkilo hingga Rp12 ribu perkilogramnya.

"Harga getah gambir kembali turun semenjak tiga hari ini, dimana harga sebelumnya masih dikisaran Rp18 ribu perkilogramnya, sedangkan sekarang harga getah gambir hanya Rp12 ribu perkilogramnya," ungkap salah seorang petani gambir Sevent (29) di Kampung Timbulun, Kecamatan Sutera pada Covesia.com, Sabtu (13/7/2019)

Menurutnya, turunnya harga gambir saat ini membuat dirinya kewalahan dalam mengontrol kebutuhan ekonomi keluarganya. Karna hasil yang didapatkannya tidak sesuai dengan kebutuhan pokok yang harus ia penuhi.

"Sedangkan harga gambir Rp18 ribu satu kilo, pendapatan saya masih kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saya. Apa lagi Rp12 ribu, ditambah lagi saat ini kebutuhan pokok serba mahal," ucapnya dengan raut wajah dan nada mengeluh

Hal senada juga disampaikan oleh Idep (34) salah seorang buruh tani gambir di Sariek, Kenagarian Rawang Gunuang Malelo, Kecamatan Sutera, ia merasakan ekonomi yang dilaluinya saat ini begitu sulit, ditambah lagi apa yang mau dibelinya serba mahal.

"Ekonomi saat ini memang sangat sulit saya rasa, tidak hanya saya saja, begitu juga dengan para petani yang bergantungan hidup dengan cara bertani gambir lainnya. Sebab, yang didapat tidak seberapa dengan pengeluarannya untuk kebutuhan pokok sehari-hari," katanya juga dengan raut wajah mengeluh

Ia menambahkan, kesulitan ekonomi yang ia rasa saat ini tidak hanya karna faktor anjloknya harga gambir saja. Ia mengaku, itu juga disebabkan oleh harga sembako yang tidak kunjung turun. Salah satunya, seperti harga cabai merah.

Dimana harga cabai merah masih bertahan di harga Rp60 ribu perkilogram. Begitu juga dengan harga bahan pokok lainnya masih tetap mahal.

"Selain dari harga sembako yang naik, tapi harga listrik juga naik, dimana saya bayar listrik sebelumnya Rp150 ribu perbulan sekarang saya harus bayar Rp230 ribu perbulan. Jujur saya katakan kehidupan saat ini memang sulit," ujarnya

Ia melanjutkan, dengan kondisi harga getah gambir hanya Rp12 ribu perkilo. Penghasilan yang ia dapat kurang dari Rp50 ribu perhari. 

Sedangkan, untuk melakukan proses panen gambir atau mengolah daun gambir untuk menjadi getah, ia butuh modal dan harus menginap berhari-hari di atas bukit tempat ia bertani

"Kemarin aja sebelum saya menjual getah gambir saya siap panen, saya harus bekerja di atas bukit selama 14 hari, itupun tidak satu orang mengerjakannya dan saya harus berdua. Dan setelah kami jual selama 14 hari itu gaji kami hanya Rp600 ribu perorang. Jadi sekitar berapalah kami menerima gaji sehari kalau di hitung harinya," dikatakannya.

Lanjutnya lagi ia mengatakan, dengan kondisi seperti ini, ia berharap persoalan turunnya harga gambir ini, ada solusi dari pihak terkait dan dimanapun. 

Sebab, sebagian besar masyarakat di Kecamatan Sutera, sudah bergantung hidup dengan cara bertani gambir. 

"Selain sebagai nelayan dan petani tanaman tahunan lainnya. Bertani gambir adalah satu-satunya lumbung dan sumber ekonomi kita masyarakat sini. Jika harga hanya segini bertahan lama berkemungkinan tingkat ekonomi kita kembali kepada ekonomi kehidupan jaman dulu lagi," tutupnya.

Kontributor Pessel: Indrayen Putra


Berita Terkait

Baca Juga