BKSDA Kerahkan Gajah ''Paling Senior'' guna Halau ''Kelompok 11''

BKSDA Kerahkan Gajah Paling Senior guna Halau Kelompok 11 Dok. Foto Antara

Covesia.com - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Riau mengerahkan dua gajah latih tertua untuk operasi penghalauan belasan gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) liar yang kerap disebut "Kelompok 11" di Kabupaten Kampar.

Kepala Bidang Wilayah II Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Heru Sutmantoro di Pekanbaru, Senin (8/7/2019), mengatakan dua gajah latih tersebut berasal dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas Kabupaten Siak. Mereka adalah gajah jantan bernama Singarun dan Bangkin.

Singarun adalah gajah jinak tertua di PLG Minas  berusia 58 tahun. Gajah ini berasal dari Lampung dan pernah dirawat oleh orang Thailand, yang akhirnya memberinya nama Singarun. Sedangkan, gajah Bangkin berusia 10 tahun lebih muda yakni 48 tahun.

"Singarun paling tua di PLG Minas," kata Heru.

Ia mengatakan, kedua gajah tersebut ikut dalam penghalauan 11 ekor gajah liar yang kerap disebut "kelompok 11" pada Sabtu lalu(6/7) di Desa Karya Indah, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar.

Mereka bergabung dengan personel PLN Minas yang dipimpin Tutur Lestariono, bersama-sama dengan aparat Desa Karya Indah, masyarakat peduli api, Babinsa dan Pabinkamtibmas setempat.

Gajah sumatera liar dalam tiga bulan terakhir keluar dari jalur lintasannya dan memasuki perkebunan dan mendekati permukiman masyarakat. Sejak sebelum perayaan Idul Fitri 1440 H, enam ekor gajah liar masuk ke perkebunan warga di Kecamatan Peranap dan Kelayang, Kabupaten Indragiri Hulu.

Hingga kini proses penghalauan masih berlangsung untuk menggiring gajah liar ke habitatnya di kawasan hutan lanskap Tesso Nilo.

Humas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Dian Indriati mengakui konflik gajah liar dengan manusia pada tahun ini memang meningkat dibandingkan tahun lalu.

“Ya meningkat, dan semua kita respon dengan segera dan menurunkan tim bahkan sampai menurunkan bantuan gajah latih kami,” katanya.

Namun, banyak kendala di lapangan dalam proses penggiringan sehingga konflik tidak bisa cepat diatasi.

“Tidak semudah yang kita bayangkan karena terkadang kita mendapat kendala. Kita menggiring tapi di sisi lain masyarakat ada yang menghalau tidak mau dilewati kebunnya. Padahal kita sudah mengimbau. Jadi Gajah berputar putar saja tidak tahu harus lewat mana,” katanya.

(ant/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga