Jaring Robot Beroperasi, Hasil Tangkapan Nelayan di Agam Berkurang

Jaring Robot Beroperasi Hasil Tangkapan Nelayan di Agam Berkurang Tangkapan Nelayan Agam yang menurun, ( Foto: Covesia/ Johan)

Covesia.com - Hasil tangkapan Nelayan Laut Tiku, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, menyusul seiring dengan sering beroperasinya Nelayan menggunakan alat tangkap jaring robot.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia( HNSI) Agam Arman mengungkapkan jaring robot (sebutan dari nelayan setempat) merupakan sebuah alat tangkap jaring yang menggunakan mesin, jika dioperasikan di perairan dangkal tentunya akan merusak terumbu karang.

"Idealnya kapal tersebut beroperasi dilaut dengan kedalaman 100-150 meter, namun disini mereka menangkap ikan di kedalaman 76 meter, alhasil tentunya jaring tersangkut dan ikut menyeret terumbu karang," ujarnya saat di konfirmasi Covesia.com, Sabtu (6/7/2019).

Dilanjutkan Arman, dalam beberapa pekan terakhir hasil tangkapan nelayan berkurang hampir 50 persen dari hari biasanya. "Beberapa Minggu yang lalu, dalam sekali melaut kita bisa menghasilkan rata-rata 10 keranjang, saat ini hanya 5-6 keranjang, itupun kami harus berlayar agak ketengah lautan," jelasnya.

Menurutnya rusaknya terumbu karang sangat berpengaruh kepada ikan yang berada di sekitar lokasi, mereka merasa terusik sehingga mencari lokasi yang lain. "Ikan sangat suka tinggal di terumbu karang, jika terumbu Karangnya rusak mereka akan pindah," terangnya.

Ia berharap nelayan tidak hanya mementingkan kepentingan pribadi, proses penangkapan ikan hendaknya tidak merusak lingkungan yang nantinya akan berdampak ke manusia itu sendiri.

"Laut diciptakan Allah untuk manusia dan makhluk hidup lainnya, jika laut dirusak secara tidak langsung kita merusak makhluk hidup yang berada di dalam laut, secara tidak langsung juga akan merusak manusia itu sendiri," pungkasnya.

(han/don)



Berita Terkait

Baca Juga