Protes Pembagian Rumah Nelayan, Warga: Wali Nagari Janjikan Saya Dapat Satu Unit

Protes Pembagian Rumah Nelayan Warga Wali Nagari Janjikan Saya Dapat Satu Unit Beberapa warga protes tak mendapatkan bantuan rumah nelayan di Pesisir Selatan, Sumbar, Kamis (13/6). (Indra Yen/ Covesia.com)

Covesia.com- Seorang warga Kampung Sungai Pampan, Kenagarian Koto Nan Tigo, Kecamatan Batangkapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar), Rosni (72) protes karena tidak mendapatkan bantuan rumah nelayan di nagari tersebut. 

Padahal, Rosni pernah dijanjikan oleh wali nagari atau kepala desa setempat akan mendapatkan satu unit rumah bantuan tersebut. Sebab, tanah miliknya masuk ke area pembangunan perumahan nelayan tersebut.

"Dulu saat akan memulai pembangunan perumahan itu, saya dijanjikan oleh Wali Nagari akan mendapatkan satu unit rumah, karna dalam pembangunan perumahan masuk tanah kami," ujar Rosni kepada Covesia.com, Kamis (13/6/2019)

Namun, ketika penyerahan bantuan rumah tersebut, Rosni malah tidak mendapatkannya. "Tau-taunya pas pembangian bantuan rumah kami tidak dapat. Ketika kami tanyakan kepada wali nagari, dikatakannya tidak ada masuk tanah kami. Selain itu, kami juga layak menerima bantuan kok," kata Rosni.

Hal senada pun diungkapkan anak Rosni, Ambri (45). Ia menyebut bahwa sebelumnya wali nagari memang menjanjikan satu unit rumah karena dalam pembangunan rumah nelayan berada dalam petak tanahnya.

"Kami tidak mau bertengkar dalam persoalan ini. Tapi kami sangat kecewa, karna kami sebelumnya dijanjikan akan menerima satu unit rumah bantuan. Saya juga telah beberapa kali menagih janji itu pada wali nagari dan ia bilang sabar dulu dan meminta saya (untuk) menyiapkan persyaratan seperti Kartu Keluarga. Tau-taunya kami memang tidak dapat, padahal tanah kami jadi pembangunan rumah itu tanpa ada ganti ruginya," ujar dia.

Ambri mengaku berani menghadirkan para saksi bahwa tanah tersebut adalah milik ibunya. "Kami siap menghadiri saksi. Untuk surat-surat kami memang tidak punya, karena tanah itu adalah pusako tinggi (Tanah yang diwarisi oleh nenek moyang kita)," terang dia.

Untuk itu, ia pun menagih janji wali nagari yang sebelumnya mengatakan bahwa keluarganya akan mendapatkan satu unit rumah bantuan tersebut.

"Selain dari kami menagih janji, kami merasa pemberian bantuan tersebut juga tidak sesuai. Banyak lagi masyarakat kami disini yang dekat berada pada lokasi perumahan yang tidak mampu dan tidak memiliki rumah. Tidak mendapatkan bantuan," kata dia.

Warga lainnya, Maranas (68) pun mengaku mengetahui bahwa tanah tersebut memang merupakan milik Rosni. Pasalnya, ia pernah menyewa tanah tersebut ke suami Rosni untuk bertani.

"Saya pernah menyewa tanah tersebut untuk bersawah pada suami ibu Rosni semasa suami Rosni hidup. Bahwa pembangunan perumahan itu berada pada petak tanahnya," kata dia.

Padahal, menurut dia, ada warga lain yang kebetulan merupakan adik sepupu Rosni, Asrul (50) malah mendapatkan tiga unit rumah bantuan. Tanah mereka padahal sama- sama terpakai untuk pembangunan rumah bantuan tersebut.

"Adik sepupunya Rosni dikasih tiga unit karena tanahnya termasuk dalam pembangunan. Kok Rosni tidak dapat?" tanya Maranas.

Baca Juga: 70 Nelayan Kurang Mampu di Pessel Terima Bantuan Rumah dari Pemerintah

Protes penyerahan bantuan perumahan nelayan pun datang dari warga lainnya seperti Kasni (46) dan Edi Mulia (50). Kedua warga tersebut dianggap layak menerima bantuan rumah tersebut karena kondisinya yang kurang mampu.

Kasni merupakan seorang ibu rumah tangga dengan dua anak. Hingga kini ia mengaku belum memiliki rumah. Rumah yang ia tempati pun statusnya masih sewa atau mengontrak.

Ia mengaku pernah didata terkait bantuan rumah tersebut. Tapi setelah rumah bantuan itu selesai dibangun, ternyata ia tak mendapatkanya. 

"Dulu pernah saya didatangi tim saat mendata. Rumah sewa saya sudah di foto dan dimintai kartu keluarga, tapi hanya sekedar itu," ujar dia.

Ia mengaku sudah hampir sepuluh tahun menumpang dan menyewa rumah. Bahkan, kata dia, ia bersama anak dan suaminya pernah diusir oleh si pemilik rumah.

"Sudah sekitar sepuluh tahun ini saya menumpang dan menyewa (rumah). Saya juga pernah diusir, maklum hidup miskin suami hanya seorang nelayan kecil. Ya hingga sekarang saya tidak memiliki rumah," kata dia.

Kontributor Pessel: Indra Yen


Berita Terkait

Baca Juga