Penjual Kepala Kambing Hutan Di Agam Divonis 1 Tahun 6 Bulan

Penjual Kepala Kambing Hutan Di Agam Divonis 1 Tahun 6 Bulan Kepala satwa dilindungi hasil sitaan BKSDA Sumbar (Foto: istimewa )

Covesia.com - Terdakwa SF (71) warga Jambi yang tinggal Kabupaten Agam, provinsi Sumatera Barat (Sumbar) divonis bersalah dan dihukum pidana penjara 1 tahun 6 bulan oleh  pengadilan Negeri Lubuk Basung, Agam, Kamis (2/5/2019).

Ia dihukum karena terbukti melanggar Pasal 40 Ayat (2)  jo Pasal 21 Ayat (2) huruf d UU R.I. No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, yaitu dengan sengaja memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi.

"Vonis yang dijatuhkan majelis hakim ini sesuai dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum yang menuntut terdakwa dengan tuntutan   Pidana Penjara selama 1 Tahun 6 bulan dan pidana denda sebesar Rp 5 juta subsidair dengan 4 bulan kurungan," ujar Kasi wilayah I Balai Konservasi Sumber Daya Alam, (BKSDA) Sumbar, Khairi Ramadhan didampingi Unit Pengendali Ekosistem Hutan, (PEH) Ade Putra saat di konfirmasi Covesia.com Jum'at (3/5/2019).

Sebelumnya, tersangka diamankan tim gabungan Polres Agam dan BKSDA Sumbar pada 13 Januari silam di jorong Malabur, Kecamatan Ampek Nagari Kabupaten Agam karena menguasai  satu buah kepala kambing hutan sumatera (Capricornis sumatraensis).

Penangkapan tersangka merupakan pengembangan atas kasus penipuan yang melibatkan dirinya. Seorang warga mengaku ditipu tersangka, karena uang yang dipinjam tak kunjung dikembalikan. Namun saat diintrogasi ia mengaku uang tersebut digunakan untuk membeli kepala kambing hutan dan nantinya akan dijual kembali kepada seseorang di Provinsi Jambi dengan harga Rp 80 juta.

" Dalam persidangan terungkap bagian kepala kambing hutan itu dibeli terdakwa seharga Rp 13 juta kepada seseorang di Pasaman dan sudah sempat dibawa ke Jambi, karena ada yang berniat untuk membeli dengan harga Rp 80 juta, namun transaksi batal disebabkan ada bagian dari kepala kambing hutan yang cacat maka tersangka tidak bisa mengembalikan uang yang ia pinjam," lanjutnya

Dipersidangan tersangka juga mengaku sudah lima tahun terakhir berdagang satwa dilindungi, selain kepala kambing hutan ia juga pernah menjual kulit harimau

"Kita memberikan apresiasi yang tinggi dan ucapan terima kasih kepada jajaran Polres Agam, Kejaksaan Agam dan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Lubuk Basung atas pengungkapan kasus ini, kasus perdagangan satwa liar dilindungi selama ini telah mengakibatkan kerugian negara mencapai Rp 9 Triliun  pertahunnya. Untuk itu dibutuhkan kesadaran dari masyarakat untuk ikut peduli akan kelangsungan dan kelestarian dari satwa dilindungi," terangnya.

Berbagai cara sudah dilakukan BKSDA Sumbar  untuk mencegah terjadinya penangkapan dan perdagangan satwa maupun tumbuhan yang dilindungi, baik berupa sosialisasi kepada masyarakat, penyuluhan, media sosial, media cetak, media elektronik maupun penyebaran informasi melalui selebaran himbauan kepada masyarakat.

(han)

Berita Terkait

Baca Juga