Terancam Tak 'Duduk,' Caleg di 50 Kota Diduga Tarik Bantuan Dana Aspirasi

Terancam Tak Duduk Caleg di 50 Kota Diduga Tarik Bantuan Dana Aspirasi Foto: istimewa

Covesia.com - Kenagarian Sialang, Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota buncah usai pesta demokrasi 17 April 2019 silam. Masyarakat demo ke kantor Walinagari, Jumat (19/04/2019) malam. 

Penyebabnya diduga, suara di Nagari Sialang ini pecah dan tidak ada lagi putra asli Sialang yang duduk di kursi dewan Kabupaten Limapuluh Kota. Bahkan Caleg petahana, Yusnir dari partai Demokrat juga diduga turut menarik peralatan kongsi kematian hasil bantuan dana aspirasi.

Informasi yang dihimpun covesia.com, kegaduhan ini berawal dari hasil perolehan suara sementara beberapa caleg asal nagari Sialang yang tidak memenuhi persyaratan untuk duduk di kursi DPRD Kabupaten Limapuluh Kota. 

Hal ini membuat seluruh unsur masyarakat dari ninik mamak, tokoh, pelajar, mahasiswa, pemuda dan para caleg berkumpul di kantor Walinagari Sialang, Jumat (19/4) malam usai shalat Isya.

Di sini terjadi aksi bakar ban, di depan Kantor Walinagari dan orasi oleh mahasiswa. Bahkan di beberapa foto yang tersebar di media sosial, beberapa pemuda membakar baju bertuliskan “AKU BANGGA MENJADI ANAK SIALANG”. 

Saat aksi demo ini juga, beberapa orang yang diduga dari timses caleg petahana, Yusnir membawa peralatan kongsi kematian yang dulunya berasal dari dana aspirasi Yusnir selama menjadi anggota DPRD Kabupaten Limapuluh Kota periode 2014-2019.

Hal ini dibenarkan oleh Walinagari Sialang, Zumardi Khatib yang menuturkan aksi ini berlangsung di ruangan serba guna Kantor Walinagari dan dihadiri ratusan masyarakat. 

Sedangkan di luar terjadi aksi bakar ban oleh pemuda, termasuk baju kebanggaan yang sengaja dibuat oleh pemuda dulu.

“Iya memang begitu kejadiannya. Masyarakat protes kepada saya karena ada isu mengatakan perangkat nagari ikut dalam tim sukses caleg. Akibatnya suara di Sialang pecah dan sekarang tidak ada caleg putra asli Sialang yang duduk di DPRD periode 2019-2024. Karena itu ada aksi bakar ban dan baju di depan kantor Walinagari,” kata Zumardi saat dikonfirmasi Covesia.com, Senin (22/04/2019).

Ia juga mengatakan saat itu tidak bisa berbuat banyak karena massa yang sangat ramai. Bahkan saat ada tim sukses dari salah seorang caleg petahana yang membawa peralatan kongsi kematian berupa kain kafan, tenda, keranda jenazah, tempat mandi jenazah dan yang lainnya tidak bisa dicegah.

“Saya cuma seorang diri. Sedangkan didepan saya ratusan orang sedang marah kepada saya. Jadi saya hanya bisa menenangkan mereka. Banyak diam dan mendengarkan saya saat itu. Termasuk diam saat melihat orang-orang membawa peralatan kongsi kematian yang dulu diberikan Yusnir melalui dana pokok pikirannya dulu,” ucapnya.

Sampai berita ini diturunkan, covesia,com belum bisa mengkonfirmasi hal ini kepada Yusnir karena seluruh panggilan masuk melalui seluler diblokir oleh yang bersangkutan.

(agg/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga