KPU Sumbar Edukasi Pemilih Cara Mencoblos Surat Suara

KPU Sumbar Edukasi Pemilih Cara Mencoblos Surat Suara Komisioner KPU Sumbar, Gebril Daulay saat melakukan sosialisai pendidikan pemilih terhadap ratusan tokoh adat dan tokoh masyarakat di Kecamatan Rao, Pasaman, Kamis (21/02/2019).

Covesia.com-Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Barat melakukan sosialisasi pendidikan pemilih terhadap ratusan tokoh adat dan tokoh masyarakat di Kecamatan Rao, Pasaman agar pemilih nantinya tidak salah dalam mencoblos di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Komisioner KPU Sumbar, Gebril Daulay mengatakan dari data pemilu serentak Tahun 2014 lalu ditemukan sebanyak 6,2 Persen pemilih salah dalam mencoblos.

"Benar. Lewat Sosialisasi pendidikan pemilih ini kita targetkan tidak ada lagi masyarakat kita salah dalam mencoblos kertas suara. Sebab data 6,2 persen pemilih di Sumbar  salah dalam mencoblos disebabkan oleh ketidaktahuannya bagaimana cara mencoblos yang benar. Karena saat masuk TPS, salah membuka kertas suara dan salah pula mencoblos. Apalagi saat ini ada lima macam kertas suara yang akan di coblos pemilih,"terang Gebril Daulay kepada Covesia.com, Kamis (21/02/2019).

Disamping itu kata Gebril, semua pihak elemen maayarakat baik tokoh adat dan tokoh masyarakat wajib ikut mensukseskan setiap pelaksanaan pemilu.

"Semua pihak harus terlibat aktif. Memberikan dukungan kepada penyelenggara pemilu dengan ikut berpartisipasi mengajak semua pemikih untuk datang ke TPS pada 17 April 2019 nanti untuk memberikan hak pilihnya. Kemudian Pemda punya tanggungjawab dan memastikan bahwa tidak ada keberpihakan terhadap salah satu peserta pemilu, terutama ASN yang harus netral,"tambahnya.

Sehingga kata dia, target nasional pemberian hak pilih oleh pemilih sebesar 77,5 Persen bisa tercapai.

"Semua kita harus mendorong pemilih untuk datang ke TPS. Tidak ada lagi alasan dengan modus lama untuk tidak memilih. Sementara waktu untuk bermain media sosial dan android bisa lebih dari empat jam. Masa untuk mencoblos ke TPS dengan waktu paling lama sepuluh menit saja tidak mau,"tukasnya.

Saat ini kata dia, sejumlah alasan pemilih malas datang ke TPS diantaranya bahwa masih ada pandangan selama ini tidak terwakili oleh orang yang duduk baik DPR.

"Alasan ini tidak relevan. Kalau misalnya dengan memilih tidak terwakili, apalagi jika tidak memilih. Malah lebih tidak didengar aspirasi kita. Kemudian merasa tidak kenal dengan caleg tertentu. Inipun juga tidak relevan, sebab saat ini sudah canggih. Bisa cek di internet dengan Handphone Android untuk mengenal profilnya. Jadi harapan kita, semua lini mari ajak sanak saudara kita untuk ramai-ramai datang dan memberikan hak pilh ke TPS,"harapnya.

Sementara Ketua Panitia, Aldi mengatakan lewat kegiatan tersebut juga ditampilkan sejumlah seni berupa pencak silat, dan tari tor-tor, untuk merangsang pemilih milenial agar melek pemilu.

(her/jon)

Berita Terkait

Baca Juga