Mantan Wali Murid Akui Lemahnya Pengawasan di Ponpes Nurul Ikhlas

Mantan Wali Murid Akui Lemahnya Pengawasan di Ponpes Nurul Ikhlas Ilustrasi gerbang masuk Pondok Pesantren Nurul Ikhlas, Panyalaian X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat (Foto: Istimewa)

Covesia.com - Melihat nahasnya kasus pengeroyokan yang dilancarkan oleh sekelompok santri terhadap satu korban hingga akhirnya meninggal dunia di Pondok Pesantren Nurul Ikhlas, Tanah Datar, Sumatera Barat sontak menjadi buah bibir dikalangan masyarakat.

Termasuk Warga Kabupaten Pasaman yang merupakan salah seorang mantan wali murid Pondok Pesantren tersebut mengaku sangat prihatin dengan peristiwa tersebut.

"Saya sangat terkejut mendengar dan membaca berita di berbagai media tentang peristiwa tersebut. Tiga tahun lalu anak saya atas nama Ikhwan Algifari tamatan angkatan 2016, sangat sering bolak-balik kesana untuk melihat anak saya. Tetapi dengan adanya kasus ini, sangat mencoreng nama baik pesantren tersebut," ujar Anwir Salam yang merupakan warga Pasaman, kepada Covesia.com, Rabu (20/2/2019).

Menurut pengamatan Anwir Salam selama 3 tahun lalu memang diakuinya bahwa pengawasan dari pembina asrama di Pondok Pesantren Nurul Ikhlas, tersebut sangat minim.

"Tiga tahun lalu hampir tiap minggu saya kesana melihat anak saya. Bahkan kadang-kadang pulang dinas pun saya sempatkan singgah disana. Saya melihat merek yang terpampang dan kata-kata yang selalu kita baca di depan gerbang sangat jauh dari apa yang sebenarnya terjadi di dalam kampus. Pengawasan dari pembina asrama sangat jauh dari yang diharapkan. Bahkan ada yang jarang datang dan memantau ke pemondokan santri," tambahnya lagi.

Ia mengatakan setiap santri memiliki kakak asuh dan pembina asrama yang ditugaskan oleh pihak pesantren untuk membina dan mengawasi santri.

"Namun tidak berjalan efektif sebagaimana yang mereka tugaskan. Kemudian sistem Senioritas dan Junior sepertinya masih berlaku di sana. Sehingga santri junior yang baru datang dan sekolah disana sangat sering mendapat perlakuan tidak baik dari seniornya. Contohnya seperti kasus yang sekarang. Apalagi tindakan lain yang belum terpubliksi, saya yakin masih banyak," ungkapnya.

Dirinya pun meminta kasus saat ini bisa menjadi tamparan keras bagi pihak pengelola Pondok Pesantren Nurul Ikhlas untuk berbenah secara total baik dari aturan maupun pembinaan dan pengawasan santri.

"Jika tidak, pihak pesantren akan sulit meyakinkan wali murid untuk merekrut santri baru. Karena setiap orang tua ingin anaknya sekolah dengan baik, lingkungan dan kualitas pendidikan yang baik. Kalau memang keselamatan nyawa anak kita terancam, untuk apa kita sekolahkan disana," tukasnya.

Untuk itu kata dia, aparat penegak hukum harus tegas dalam mengusut kasus pengeroyokan yang mengakibatkan satu korban meninggal dunia di pondok pesantren tersebut.

"Agar pelaku jera dengan perbuatannya. Kemudian bagi pelaku lain yang mungkin masih ada untuk jadi pelajaran. Sebab ini juga menjaga marwah Sumatera Barat yang sangat kental sebagai daerah yang agamis," tutupnya.

(eri)

Berita Terkait

Baca Juga