Polisi Periksa 19 Santri Ponpes Nurul Ikhlas Terkait Kasus Pengeroyokan

Polisi Periksa 19 Santri Ponpes Nurul Ikhlas Terkait Kasus Pengeroyokan Kabag Ops, Kasat Reskrim Polres Padang Panjang dan Kapolsek X Koto saat gelar Press Conference terkait kasus kekerasan di Pondok Pesantren Nurul Ikhlas, Tanah Datar, Kamis (14/2/2019)(Foto: Covesia/ Debi Kurnia)

Covesia.com - Satreskrim Polres Padang Panjang memintai keterangan kepada 19 santri diduga sebagai pelaku pemukulan, teman satu kamarnya yang mengakibatkan korban Robi Al-halim tidak sadarkan diri di pondok pesantren Nurul Ikhlas Tanah Datar, Sumatera Barat.

Kabag ops Polres Padang Panjang, Kompol Rudi M melalui Kasat Reskrim Polres Padang Panjang, Iptu Kalbert Jonaidi dalam keterangan persnya, Kamis (14/2/2019) mengatakan pihaknya melakukan pemeriksaan kepada saksi dugaan kepada pelaku kekerasan tersebut.

"Pihak pondok pesantren membawa 19 orang diduga melakukan kekerasan dan pemeriksaan didampingi orangtua santri," katanya. 

Lebih lanjut, ia menjelaskan kekerasan terhadap santri itu terjadi secara berulang pada malam harinya, kejadian awal pada Kamis malam lalu, kemudian berulang pada Jumat malam dan terakhir Minggu, pada Sabtu tidak ada pemukulan. 

Sementara untuk motif pemukulan kepada korban, pihak Polres Padang Panjang menyebutkan dugaan sementara korban mengambil barang-barang milik temannya seperti uang, barang kecil lainnya yang membuat temenya merasa jengkel.

"Barang bukti yang diamankan berupa sepatu bot diduga dipergunaakn kepada korban, dan tangkai sapu yang patah," sebutnya. 

Ia menyebutkan kejadian itu terjadi di asrama putra lantai 2 blok muda no 8 dengan ukuran kamar 4x6 meter.

"Rincian diduga pelaku santri yang berusia rata-rata 15 sampai 16 tahun dengan melakukan pemukulan 3 tahap, ada yang satu kali dan berulang kali dihari yang berbeda," jelasnya. 

Sementara itu, pengawasan Pondok Pesantren, Firmansyah mengakui bahwa kejadian tersebut guru pengawas yang berada dalam setiap kamar tidak mengetahui kejadian tersebut karena pada jam tersebut santri sudah tidur. 

"Kamar guru atau ustad di setiap kamar dibatasi dengan sekat jadi tidak mengetahui adanya pemukulan karena itu sudah jam tidur," sebutnya.

(debi)

Berita Terkait

Baca Juga