Usia yang Hampir Seabad, Tak Halangi Nurbaya untuk Terus Menyulam

Usia yang Hampir Seabad Tak Halangi Nurbaya untuk Terus Menyulam Nurbaya (92) sedang menyulam pakian anak daro di kediamannya Desa Mangguang, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman, Sumbar, Sabtu (20/1/2019). Foto: Covesia/ Almufri Sofyana

Covesia.com - Usia senja tidak selamanya identik dengan kepikunan. Buktinya, seorang nenek, asal Desa Mangguang, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar) masih terus menyulam, meski usianya hampir satu abad.

Namanya Nurbaya. Usianya sudah menyentuh angka 92 tahun. Sejak remaja hingga kini, Nenek Nurbaya menjadi pembuat sulaman baju anak daro dan marapulai (pakaian pengantin suku Minangkabau) khas Pariaman.

Nenek Nurbaya bilang, menyulam menjadi kesenangannya sejak kecil. Ketertarikannya pada sulaman didapat di lingkungan sekitar tempat tinggal. Di desa itu, kaum ibu banyak yang bekerja sebagai penyulam.

Tumbuh di lingkungan ‘kaum penyulam’ membuat Nenek Nurbaya termotivasi untuk pula bisa menyulam. Keinginannya yang kuat kala itu, sudah menjadikannya seorang penyulam tertua di Desa Mangguang.  

Tak hanya menyulam, dia pun mahir merajut. Beragam jenis mampu dihasilkan, mulai dari kelambu hingga sprei.

"Karena faktor usia, saya tak sanggup lagi (bikin kelambu dan spray). Sekarang menyulam baju anak daro saja. Itu pun tidak bisa cepat-cepat," katanya kepada Covesia.com saat ditemui di kediamannya, Sabtu (20/1/2019).

Nenek delapan cucu itu bercerita, kala muda, menyulam adalah pekerjaan sehari-hari para perempuan di daerah tempat tinggalnya. 

Namun dewasa ini sudah tak banyak lagi perempuan yang berminat untuk menekuni pekerjaan menyulam. Kini, justru perempuan dari luar Pariaman Utara yang berminat mempelajari teknik sulaman baju anak daro.

Menyulam juga telah membantu ekonomi keluarganya. 

“Suami saya tak punya perkerjaan tetap, jadi saya harus bantu-bantu,” ujarnya.

Ketika muda, Nenek Nurbaya bisa menyelesaikan sulaman di satu helai baju anak daro dalam masa empat hari. Tapi kini, karena faktor usia, ia menyelesaikan satu sulaman dalam  tempo satu pekan.

“Dulu itu upah satu sulaman baju anak daro bisa sampai Rp60 ribu. Alhamdulillah, penghasilan dari menyulam bisa membantu biasa pendidikan anak saya hingga jadi sarjana,” tuturnya.

Sekarang, Tek Baya, sapaan akrabnya, mengatakan upah untuk satu sulaman berkisar Rp100 ribu. 

Dari upah sulaman itu pula pada 2006 Tek Baya bisa menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.

“Masa dulu, saya juga menjual baju anak daro dengan berbagai macam harga,” kata Tek Baya. 

Harganya tergantung bahan yang digunakan, “Pakai manik halus atau manik kasar, harganya berbeda” ujarnya. 

Saat ini, tambahnya, standar harga baju anak daro jenis biasa berkisar Rp400 ribu.

Di usia yang hampir 100 tahun itu, Tek Baya hanya menyulam. Mata yang tak lagi awas, jadi kendala untuk mengerjakan pekerjaan lain seperti menjahit baju. 

"Sekarang saya ambil upah menyulam saja," sebutnya. 

Selain terus menyulam, di usia yang kian senja, Tek Baya juga mewariskan ilmu kepada anak dan cucu. 

Baginya, pengetahuan dan keterampilan menyulam merupakan tradisi yang harus dijaga. 

Dia juga menungkapkan harapan, agar masyarakat Desa Manggung tidak meninggalkan sulaman yang sudah menjadi tradisi leluhurnya. 

"Belajarnya tidak susah. Tergantung niat dan kemauan," pungkas Tek Baya.

Kontributor Pariaman: Almurfi Sofyan

Berita Terkait

Baca Juga