Retribusi Tiga Pasar di Bukittinggi Naik 600 Persen

Retribusi Tiga Pasar di Bukittinggi Naik 600 Persen Kepala dinas pasar, ULM dan perdagangan kota Bukittinggi, M. Idris (Foto: covesia/ Debi K)

Covesia.com - Sesuai peraturan Walikota Bukittinggi, nomor 40 dan 41 tahun 2018 tanggal 21 Desember 2018 tentang peninjauan tarif retribusi pasar grosir atau pertokoan dan peninjauan tarif retribusi pasar, pemerintah kota Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar) menaikan retribusi di tiga pasar hingga 600 persen. 

"Kenaikan itu masih terbilang wajar, karena rata-rata kenaikan retribusi pasar mulai dari Rp20.000 hingga Rp60.000 per meter persegi yang dibayarkan setiap bulannya," sebut Kepala dinas pasar, UKM dan perdagangan kota Bukittinggi, M. Idris saat diwawancarai Covesia.com, Rabu (9/1/2019).

Ia menjelaskan, kenaikan retribusi pasar setiap kios atau lapak-lapak berbeda-beda, untuk retribusi pasar grosir naik menjadi Rp60.000 per meter persegi, toko Rp20.000 per meter persegi, lapak bulanan Rp20.000 per meter persegi dan lapangan harian Rp3.000/hari.

"Rata-rata kenaikan 100 hingga 600 persen, jadi jumlah kenaikan retribusi itu dikalikan luas kios atau toko yang ditempati dan dibayarkan setiap bulannya ke pemerintah daerah," ucapnya.

Ia mengumpamakan jika toko atau kios luasnya 3 meter persegi maka dikalikan harga retribusi Rp20.000, jadi penyewa membayar Rp60.000/bulan atau dikalikan lagi 12 bulan, sehingga penyewa hanya membayar Rp720.000/tahunnya.

"Kenaikan harga retribusi pasar ini masih terbilang murah dan wajar jika dibandingkan dengan beberapa kota lainnya diluar Bukittinggi," ujarnya.

Apalagi saat ini, tambahnya, jumlah retribusi pasar yang diperoleh setiap tahunnya tidak sesuai dengan jumlah retribusi yang seharusnya didapat setiap tahunnya, karena masih banyak kios, toko ataupun lapak-lapak yang masih menunggak.

"Padahal harga itu cukup murah jika di bandingkan penyewa yang menyewakan kembali toko atau kios kepihak lain yag mencapai puluhan hingga ratusan juta," tuturnya.

(deb)

Berita Terkait

Baca Juga