Angkasa Pura II Razia Travel Liar di Kawasan BIM

Angkasa Pura II Razia Travel Liar di Kawasan BIM Pihak Angkasa II bersama Aparat gabungan TNI-Polri saat melakukan penertiban terhadap Travel Liar di Kawasan BIM, Rabu (9/1/2019)(Foto: Humas)

Covesia.com - Menindaklanjuti keluhan masyarakat akan maraknya angkutan travel tak berizin (liar) di Bandara International Minangkabau (BIM), Ketaping, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Pihak Manajemen PT Angkasa Pura II selaku pengelola BIM, melakukan penertiban yang bekerjasama dengan unsur TNI dan Kepolisian.

"Razia itu kan sudah kita lakukan sejak dua minggu belakangan. Travel liar itu kita razia karena mereka tidak memiliki izin beroperasi di wilayah bandara," ujar Kepala Humas PT Angkasa Pura II BIM, Fendrick Sondra kepada Covesia.com, Rabu (9/1/2019) saat dihubungi melalui telepon genggamnya.

Menurut Fendrick, diketahui bersama (BIM) adalah gerbang utama pariwisata Sumatera Barat untuk menyambut kedatangan para tamu dalam negeri dan mancanegara baik sebagai wisatawan maupun untuk kepentingan bisnis/keluarga.

Salah satu pelayanan yang menjadi perhatian para tamu adalah moda transportasi darat, saat ini BIM sudah memfasilitasi kerjasama dengan berbagai macam moda transportasi darat seperti: taxi, bus, kereta api, Travel dan Rent Car/Rental. Dengan standar layanan yang sudah disesuaikan untuk memenuhi harapan para pengguna jasa.

"Sebagaimana gerbang, tentunya akan menjadi cermin/potret awal yang dilihat dan rasakan para tamu yang datang ke Sumatera Barat menggunakan pesawat udara. Pelayanan bandara menjadi tolak ukur kenyamanan para tamu selama berada di Sumatera Barat," tambahnya. 

Namun dibalik semua pelayanan dan fasilitas antar moda darat yang resmi bekerja sama dengan BIM, masih saja ada komplain pengguna jasa baik dari masyarakat, akademisi, daan lainnya  yang mencuat ke media sosial bahkan menjadi perhatian serius pejabat negara tentang keberadaan calo kendaraan dan angkutan tidak resmi di BIM.

"Sedang yang resmi saja masih ada keluhan, apalagi yang tidak resmi. Kenyataannya menyebabkan citra tidak baik dan malahan mencoreng nama bandara yang juga mewakili citra masyarakat sumatera barat yang terkenal akan budaya yang santun dan damai," jelasnya.  

"Alhamdulillah, sejak 22 desember hingga hari ini, angkutan tidak resmi bisa diminimalisir pergerakannya untuk pengambilan penumpang di kawasan BIM," pungkas Fendrick.

Kontributor Pariaman: Almurfi Syofyan

Berita Terkait

Baca Juga