Patra Rina Dewi, Perempuan yang Rela Tolak Beasiswa S3 Demi jadi Relawan Siaga Bencana

Patra Rina Dewi Perempuan yang Rela Tolak Beasiswa S3 Demi jadi Relawan Siaga Bencana Patra Rina Dewi (tiga dari kiri) saat memberikan pemahaman mitigasi bencana di Desa Tua Pejat, Kepulauan Mentawai, Kamis (29/11/2018) (Dok.Pribadi)

Covesia.com - Minggu (25/11/2018), Patra Rina Dewi (45 tahun), bersama enam trainer dari Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Sumatera Barat (Sumbar), berangkat dari Pelabuhan Muaro, Kota Padang menuju Tua Pejat, Kabupaten Kepulauan Mentawai. 

Mengarungi derasnya hempasan ombak Samudera Hindia, Patra, begitu sapaan akrabnya, berangkat dengan Kapal Mentawai Fast yang bermuatan 200 orang itu untuk memberikan pelatihan mitigasi bencana kepada masyarakat Mentawai.

Penat, letih, dan rasa cemas selama berlayar selama lima jam terbayar sudah saat tiba di Desa Tua Pejat ketika bertemu dengan  para anggota Tim Penanggulangan Bencana (TPB) daerah setempat.

Patra dan tim FPRB hadir di Bumi Sikerei itu untuk memberikan pemahaman mitigasi bencana  kepada 16 TPB tingkat dusun dari tiga desa, yakni Desa Tua Pejat, Desa Sipora Jaya, dan Desa Goiso Inan, Kecamatan Sipora Utara. Setidaknya dalam kegaiatan yang berlangsung dari 26 November hingga 1 Desember 2018 tersebut dihadiri sekitar 1.200 masyarakat dan siswa sekolah. 

Disana Patra bersama trainer juga melibatkan Organiasi Penyandang Disabilitas (Opedis) dalam memberikan pemahaman bagaimana seharusnya sikap masyarakat jika suatu waktu bencana datang melanda, terutama sekali pelayanan terhadap kelompok berisiko tinggi.

Inilah salah satu rutinitas Patra dalam aktivitas sebagai relawan kebencanaan yang ia lakukan silih berganti ke daerah-daerah lain.

Keinginan Patra hanya satu, bagaimana semua masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir pantai di Sumbar bisa memahami mitigasi bencana atau upaya untuk mengurangi risiko bencana. Karena berdasarkan hasil penelitian para ahli, Sumbar merupakan daerah rawan bencana gempa dan ancaman tsunami.

Totalitas Patra dalam dunia kebencanaan di Sumbar tak perlu diragukan lagi. Seluruh daerah hingga kawasan terpencil sekali pun sudah dikunjunginya untuk memberikan pemahaman kesiapsiagaan bencana terhadap masyarakat setempat.

Sebut saja seperti Kota Padang, Pesisir Selatan, Agam, Pasaman Barat, Pariaman, dan Mentawai sudah ‘dijamah’ Patra dalam upaya memberikan edukasi.

Sulung empat bersaudara ini tidak ingin jika suatu waktu gempa dan tsunami melanda Sumbar, masyarakat kocar-kacir dan tidak tahu arah untuk menyelamatkan diri, sehingga menelan banyak korban jiwa.

Perempuan kelahiran Padang 22 Januari 1973 itu mendedikasikan hidupnya di bidang kebencanaan dikarenakan keprihatinannya terhadap tsunami Aceh 2004 silam yang menelan banyak korban jiwa.

Patra mengungkapkan, tsunami Aceh itu memberikan dampak psikologis pada dirinya, sehingga timbul keinginan untuk mengabdikan diri pada kesiapsiagaan bencana, khususnya untuk ancaman gempa dan tsunami di Sumbar. 

Memilih jalan hidup untuk menjadi relawan bencana, Patra mengalami jalan yang tidak mulus. Ayah dan ibunya yang berprofesi sebagai dosen, sangat mengharapkan anaknya tersebut melanjutkan kuliah ke Strata Tiga (S3). Kedua orang tuanya mengharapkan Patra untuk mengikuti jejaknya, yaitu menjadi dosen atau ilmuwan.  Namun berkat kegigihan meyakinkan dan memberikan pemahaman, akhirnya kedua orang tuanya mengizinkan Patra untuk berkecimpung dalam relawan siaga bencana.

"Saya berhasil meyakinkan orang tua bahwa kegiatan kerelawanan tersebut juga sama bermanfaatnya seperti dosen, karena juga berbagi ilmu dengan masyarakat banyak dan tujuannya lebih khusus lagi, yaitu agar masyarakat mendapatkan hak atas rasa aman terhadap ancaman bencana, tahu cara penyelamatan diri dan bertawakal kepada Allah," ujarnya kepada covesia.com.

Setelah mendapatkan restu dari orang tua, pada 2005 lantas Patra bersama teman-temannya mendirikan organisasi bernama Komunitas Siaga Tsunami (KOGAMI). Dengan wadah KOGAMI, dari awal berdiri hingga saat ini, hari-hari Patra tidak pernah lepas dari yang namanya mitigasi bencana. Tiga hari dalam seminggu, istri Defli Wendra (46 tahun) itu 'mewakafkan' waktunya untuk kegiatan sosial kebencanaan.

"Kalau dirata-ratakan, tiga hari dalam seminggu saya memanfaatkan waktu untuk berdiskusi kebencanaan dan memberikan pemahaman mitigasi bencana di berbagai tempat di Sumbar, khususnya daerah pesisir pantai," jelas Direktur Eksekutif KOGAMI itu.

Patra menceritakan, di awal berdirinya KOGAMI pada Juli 2005, tantangannya sangat banyak, mulai dari dilarang melakukan aktivitas oleh Pemerintah Daerah (Pemda) karena dianggap menakut-nakuti turis dan investor untuk berkunjung ke Sumbar, hingga dibentak-bentak masyarakat  yang tidak menerima kehadiran KOGAMI karena dianggap membuat mereka resah dengan pembahasan gempa dan tsunami tersebut.

"Saat itu sampai ada relawan KOGAMI yang dikejar pakai parang. Sangat tidak mudah. Tapi komunikasi dan tatap muka dengan para pemangku kebijakan, justru kemudian KOGAMI mendapat dukungan penuh dalam melakukan kegiatan," ungkapnya.

Setelah melewati masa kelam itu, imbuh Patra, saat ini KOGAMI sudah diterima oleh semua kalangan di Sumbar. Baik Pemda, TNI, Polri, PMI, Basarnas, Akademisi, dan Organisasi Kemasyarakat  (Ormas) sudah ikut terlibat kegiatan-kegiatan KOGAMI dengan suka cita. 

Patra bersama relawan lainnya juga melibatkan siswa-siswa sekolah di semua tingkatan dan kaum disabilitas untuk ikut serta dalam upaya mitigasi bencana.

Bahkan saat ini, program-program KOGAMI sudah banyak diadopsi di berbagai instansi, seperti berdirinya Sekolah Cerdas Bencana (SCB), Kelompok Siaga Bencana (KKB), Jambore Pengurangan Risiko Bencana (JPRB) dan sebagainya. 

"Ada perasaan haru luar biasa,  dari yang dulunya ditolak,  sekarang kami jadi mitra Pemda yang dipercaya. Tak hanya di Sumbar, bahkan di tingkat  nasional dan internasional sekalipun. Sebuah perjuangan yang indah," tutur pengurus Kwartir Daerah (Kwarda) Pramuka Sumbar itu.

Dengan mencintai profesi sebagai relawan bencana dan juga sebagai tanggung jawab moral terhadap masyarakat,  telah mengubah pandangan Patra soal cita-cita, sehingga rela mengabaikan ‘godaan’ beasiswa S3, dimana undangan untuk meneruskan pendidikan Doktor di University Science of Malaysia, ia tolak.

Ia menjelaskan, menjadi aktivis LSM dikarenakan “panggilan jiwa”.  Keputusan itu ia ambil ketika dosen pembimbingnya saat Strata  Dua (S2) di Malaysia menawarkan untuk membiayai S3-nya melalui dana grant project. Namun, karena panggilan jiwa tersebut ia tidak mengambil kesempatan emas itu. Patra rela memupuskan peluang yang sulit didapatkan itu demi memilih jalan hidup menjadi relawan kebencanaan.

Patra mengenyam pendidikan di kota Padang dimulai dari Sekolaha Dasar Negeri  (SDN) 81 pada 1979-1985, kemudian dilanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Padang pada 1985-1988.

Setelah menamatkan SMPN, pada 1988-1991, Patra melanjutkan ke SMAN 2 Padang. Selanjutnya pada jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Andalas (Unand) pada 1996-2001, dan pada 2001 melanjutkan ke Master of Science, Faculty of Biology, University Sience of Malaysia  (USM). 

Patra mengungkapkan, tak pernah berfikir sama sekali berfikir untuk menjadi aktivis kebencanaan. Setelah cita-cita menjadi dokter tidak bisa dicapai karena lulus UMPTN di pilihan kedua yaitu Jurusan Biologi FMIPA Unand pada 1996. 

“Teman-teman yang mengasyikkan, dosen-dosen yang ramah serta suasana lingkungan kampus yang bersahabat telah berhasil membuat saya mengalihkan cita-cita menjadi seorang dosen seperti ibu saya,” kenangnya.

Dengan menjadi relawan bencana, target Patra ialah tak ingin korban  di Sumbar lebih banyak dibandingkan korban tsunami di Aceh 2004 lalu, sehingga membulatkan tekadnya untuk mengabdi ke masyarakat. Baginya, pengabdian kepada masyarakat boleh dalam bentuk apapun, salah satunya dengan menjadi relawan kebencanaan, yang terpenting bermanfaat untuk orang banyak.

“Saya belajar dari nol tentang gempa, tsunami, manajemen penanggulangan bencana dan lainnya. Terima kasih untuk seluruh pihak yang telah mendukung peningkatan kapasitas saya dari seorang biologis menjadi seorang aktivis Pengurangan Risiko Bencana,” tuturnya.

Berkat kegigihannya terjun ke masyarakat, Patra pernah diundang menjadi narasumber di beberapa negara untuk berbicara soal mitigasi bencana. Yaitu pada Konferensi Gempa Nasional Amerika Serikat, side event Asian Ministerial Conference for Disaster Risk Reduction ke 4 di Korea Selatan bersama mantan Wakil Gubernur Sumbar Muslim Kasim,  Tokyo University, Stanford University, Humboldt University (US), Kogakuin University, University College of London, UNU-EHS Jerman, EOS-Nanyang Technological Univeristy Singapore dan lain-lain.

“Berkat keloyalan teman-teman di KOGAMI untuk terus berupaya membangun budaya siaga bencana, saya juga sering diundang ke luar negeri untuk berbicara soal mitigasi bencana,” kata Patra.

Banyak hal yang telah dilakukan oleh Patra bersama KOGAMI. Ia juga mengatakan bahwa kesiapsiagaan Sumbar sudah sering diekspos di dunia Internasional. 

“Semoga ini bisa menjadi motivasi bagi kita semua untuk lebih membuat Sumbar berarti dalam pandangan dunia,” harapnya. 

Dikatakan, hal yang paling menggembirakan baginya ialah ketika masyarakat benar-benar merasakan dampak edukasi. Pada saat gempa terjadi, mereka sudah tahu cara meresponnya. 

Ia bahagia ketika mendapatkan telepon dari masyarakat, guru, dan siswa dari daerah dampingan setelah diguncang gempa dan berkata “alhamdulillah, kami semua selamat” atau “alhamdulillah, siswa-siswa dan guru-guru di sekolah, kami evakuasi sesuai dengan prosedur yang sudah disepakati dan semuanya selamat".

“Itu adalah sekelumit rasa syukur yang terucap ketika gempa 30 September 2009 terjadi dan Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah, masyarakat atau siswa di lokasi dampingan KOGAMI tidak ada yang menjadi korban,” terangnya.

Lebih lanjut wanita pengagum sosok Roehana Koeddoes ini mengungkapkan, meskipun  sibuk sebagai relawan kebencanaan, namun ia tetap menjadi istri yang baik bagi suaminya. Ia tetap melakukan kewajiban sebagai seorang istri.

"Saya berprinsip sama dengan Roehanna Koeddoes, dia perempuan yang cerdas dan gigih dalam berjuang, tapi tidak membuat perempuan ngotot untuk setara dengan laki-laki, karena secara khittahnya perempuan tetap dipimpin oleh laki-laki (suami),  begitu juga dengan tanggung jawab dan fungsinya di rumah tangga," tukasnya. 

(lif)


Berita Terkait

Baca Juga