Sejarah Singkat Tambang Emas Eks Belanda Manggani di Kabupaten Limapuluh Kota

Sejarah Singkat Tambang Emas Eks Belanda Manggani di Kabupaten Limapuluh Kota Ilustrasi (Ist)

Covesia.com - Tambang emas bekas Belanda, Manggani di Nagari  Koto Tinggi, Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat menjadi buah bibir. Bukan karena kandungan emas atau potensi alam yang ada di dalamnya, namun karena adanya kedatangan beberapa orang warga negara China ke wilayah tersebut.

Wilayah tambang emas tua yang saat ini sudah tidak beroperasi tersebut masih diyakini oleh berbagai pihak menyimpan kandungan emas. 

Dilansir covesia dari berbagai sumber, tambang emas yang berjarak lebih kurang 70 kilometer dari Kota Payakumbuh itu telah berdiri jauh sebelum rakyat Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya di tahun 1945.

Tambang yang disebut menyimpan berton-ton emas ini pernah dikelola secara bergantian oleh perusahaan asal Jerman, Belanda dan Amerika di masa pemerintahan Hindia Belanda.

Tambang emas Manggani, dari sejumlah literatur disebut sebagai tambang emas tua di Sumatera.                                                                                                                                                                       

Pengelolaan tambang yang diyakini memiliki cadangan emas yang melimpah ini dikelola oleh West Sumatra Mijnen Syndicaat, perusahaan asal Rooterdam. Eksplorasi oleh West Sumatra Mijnen Syndicaat dari tahun 1906-1911 merupakan pengembangan penambangan emas oleh rakyat yang sudah ada.

" Pada tahun 1911 penambangan dilakukan ole Mijnbouw Maatschappij (MM) Aequator atau Aequator Mining & Co, setelah membeli konsesinya dari West Sumatra Mijnen Syndicaat," terang Peneliti Manggani, Nalfira dalam laman parintanrintang.wordpres.com.

Di tangan Semasa MM Aequator Manggani berkembang. Namun, eksplorasi yang dilakukan tidak lama. Sekitar tahun 1930-an, MM Aequator hengkang dari Manggani.

Setelah itu ada perusahaan asal Amerika yang melakukan pengolahan emas, namun tidak lama dan mengalami kemunduran. Setelah itu Manggani ditinggalkan saja, dan terbengkalai.

(adi)

Berita Terkait

Baca Juga