Tampilkan Jasad Korban Bencana Tanpa Sensor, KPID Sumbar Tegur Stasiun TV Lokal

Tampilkan Jasad Korban Bencana Tanpa Sensor KPID Sumbar Tegur Stasiun TV Lokal Ilustrasi Logo KPID Sumbar (doc.covesia)

Covesia.com - Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sumatera Barat kembali tegur stasiun televisi swasta Padang TV terkait penayangan jasad korban bencana longsor yang terjadi daerah Pariaman tanpa sensor beberapa waktu yang lalu.

Koordinator Pengawasan Isi Siaran KPID Sumbar, Melani Friati, kembali mengingatkan pada Lembaga Penyiaran khususnya televisi agar memahami etika peliputan bencana dengan berpedoman pada Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS).

"Kami berharap jurnalis maupun media yang meliput bencana tidak menampilkan korban bencana yang dapat menimbulkan trauma bagi masyarakat maupun keluarga korban," ungkap Melani Friati di Padang, Selasa (13/11/2018).

Ia menyampaikan hal tersebut usai melakukan Rapat Pleno terkait pemberian sanksi administratif  teguran tertulis satu kepada Padang TV karena menampilkan secara jelas seorang jenazah yang sedang dievakuasi. Pelanggaran tersebut ditayangkan dalam program berita detak sore pada 10 November 2018.

Oleh sebab itu, KPID menilai Padang TV telah melanggar Pedoman Perilaku Siaran (P3) Bab XVIII mengenai prinsip-prinsip jurnalistik bagian ke empat tentang peliputan bencana pasal 25 poin C yang berbunyi menyiarkan gambar korban dan/ atau orang yang sedang dalam kondisi menderita hanya dalam konteks yang dapat mendukung tayangan.

Kemudian Standar Program Siaran (SPS) Bab XVIII mengenai program siaran jurnalistik bagian ke enam tentang peliputan bencana pasal 50 poin D yang berbunyi melarang stasiun   televisi untuk menampilkan gambar korban atau mayat secara detail dengan "close up".

KPID Sumbar menilai bahwa konten tersebut seharusnya diblur atau disamarkan. Jenis pelanggaran ini, lanjutnya dikategorikan sebagai pelanggaran program siaran jurnalistik.

Sebelumnya, KPI Pusat juga telah mengeluarkan edaran terkait peliputan bencana agar lembaga penyiaran senantiasa mengingat dan berpedoman pada kaidah-kaidah penayangan liputan bencana di lembaga penyiaran. Salah satunya tidak menampilkan gambar korban atau mayat secara detail dengan close up dan atau menampilkan gambar luka berat, darah, atau potongan organ tubuh.

Selain itu, lembaga penyiaran wajib menampilkan narasumber kompeten dan terpercaya dalam menjelaskan peristiwa bencana secara ilmiah.

Masyarakat harus diberikan informasi dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, benar dan jelas terkait kejadian tersebut. Setiap berita harus melalui verifikasi serta cek dan ricek agar masyarakat mendapatkan informasi yang tidak menimbulkan kegaduhan dan ketidakjelasan.

(ril/don)

Berita Terkait

Baca Juga