Mengenal Pahlawan Perempuan Minangkabau

Mengenal Pahlawan Perempuan Minangkabau Rohana Kudus

Covesia.com - Indonesia merdeka tak luput dari peran pahlawan. Ya,pahlawan merupakan orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Tak hanya laki-laki pahlawan indonesia juga dilakukan oleh perempuan.

Di sumatra barat terdapat beberapa pahlawan yang sudah diberi gelar pahlawan nasional antaranya, Moh. Hatta, Agus salim, Hamka dan ada seorang perempuan bernama Rasuna said. Namun sebetulnya ada banyak pahlawan perempuan yang berasal dari Minangkabau seperti Roehana Koeddoes,Rahmah El Yunusyyiah dan Siti Manggopoh.

1. Siti Manggopoh

Lahir 15 Juni 1881 di Manggopoh, desa kecil di Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ia merupakan bungsu dari enam bersaudara serta perempuan satu-satunya. Siti tidak mengenyam pendidikan sekolah namun hanya belajar mengaji denga kelima kakak laki-lakinya. Selain itu iya juga sering ikut silat.

Setelah menikah, Siti dan masyarakat  merasa harga dirinya diinjak-injak oleh Belanda akibat peraturan disebut dengan belasting op de bedrijfsen andere inkomsten  atau mewajibkan pajak tanah yang dimiliki secara turun-temurun. Dengan kata lain, belasting ini bertentangan dengan adat Minangkabau.

Ia bersama dengan pemuda militan dari Manggopoh membentuk badan perjuangan yang terdiri dari 14 orang. Mereka adalah Rasyid (suami Siti), Siti, Majo Ali, St. Marajo Dullah, Tabat, Dukap Marah Sulaiman, Sidi Marah Kalik, Dullah Pakih Sulai, Muhammad, Unik, Tabuh St. Mangkuto, Sain St. Malik, Rahman Sidi Rajo, dan Kana.

Awal perjuangan Siti adalah pada Kamis 15 Juni 1908. Siti menjadi umpan dan menyusup ke markas Belanda yang pada saat itu sedang mengadakan pesta. Ia menyusup dan mematikan lampu di acara pesta dan langsung menyerbu. Ia berhasil menghabisi puluhan tentara Belanda yang panik karena ada serangan tiba-tiba. Siti digelari Singa Betina dari manggopoh.

Hanya dua orang yang selamat dalam pertempuran yang dilakukan Siti dan kelompoknya. Dan tak ada yang meninggal dari pemuda militan dari Manggopoh tersebut.

Di lain kesempatan, Siti dan suaminya berhasil ditangkap lalu dipenjarakan secara terpisah. Suaminya dibuang ke Manado, sedangkan Siti dibuang ke Padang Pariaman lalu ke Padang.

Siti meninggal pada 20 Agustus 1965 dan dimakamkan dengan upacara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara, Lolong, Padang.

2. Rohana Kudus

Lahir di nagari Koto Gadang, Kabupaten Agam 20 Desember 1884 dari pasangan Mohamad Rasjad Maharadja Soetan dan Kiam. Ia merupakan jurnalis perempuan pertama yang sezaman dengan kartini. Bila kartini sibuk dengan surat-suratnya Rohana malah sibuk menulis di koran.

Rohana tidak menikmati bangku sekolah formal namun, belajar dengan ayahnya yang bekerja sebagai pemerintahan Belanda ia belajar mulai dari membaca, menulis serta berbahasa Belanda. Melalui istri atasan ayahnya, Rohana juga mempelajari menyulam, menjahit, merenda, dan merajut yang kelak ia ajarkan pada sekolah yang dibukanya di Koto Gadang.

Rohana mendirikan sekolah keterampilan khusus perempuan pada tanggal 11 Februari 1911 yang diberi nama Sekolah Kerajinan Amai Setia (sekarang Yayasan Amai Setia). Di sepanjang hidupnya, Rohana terus mengajar sekaligus melanjutkan profesinya sebagai jurnalis perempuan dengan memimpin koran ‘Perempuan bergerak’, menjadi redaktur koran ‘Radio’ dan koran Cahaya.

Baginya emansipasi merupakan “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan”

Rohana meninggal pada 17 Agustus 1972 pada usia 88 tahun di Jakarta. Memang namanya jarang dan hampir tidak dikenal perempuan Indonesia, baik masyarakat awam maupun tokoh perempuan Indonesia zaman sekarang.

3. Rahma El Yunusyyiah

Lahir di Padang Panjang 20 Desember 1900, bayi perempuan itu diberi nama Rahmah El Yunusiyyah. Berasal dari keluarga yang agamis ayahnya seorang kadi di Pandai Sikek sedangkan kakeknya ahli ilmu falak dan tokoh Tarekat Naqsyabandiyah.

Rahmah belajar secara otodidak dan dibimbing oleh kakaknya Zainuddin Labay dan M. Rasyad.i  Ia juga belajar agama kepada Haji Rasul, Tuanku Mudo, dan Abdul Hamid. Tak hanya belajar ilmu agama, ia juga pernah mengikuti kursus ilmu kebidanan di Rumah Sakit Umum Kayutanam. Rahmah El Yunusiyyah mendirikan sekolah khusus untuk perempuan yang diberi nama Al-Madrasatul Diniyyah atau yang kita kenal sekarang sebagai Pondok Pesantren Diniyyah Puteri.

Ia sadar bahwa pentingnya emansipasi kaum perempuan

"Kalau saya tidak mulai dari sekarang, maka kaum saya akan tetap terbelakang. Saya harus mulai, dan saya yakin akan banyak pengorbanan yang dituntut dari diri saya. Jika kakanda bisa, kenapa saya tidak bisa? Jika lelaki bisa, kenapa perempuan tidak bisa?”  ungkapan Rahmah pada kakaknya yang dikutip dari  buku Ulama Perempuan Indonesia karya Junaidatul Munawaroh (2002: 12).

Rahmah diminta mengajar di sekolah kerajaan Malaysia karena ia mendirikan sekolah diniyah putri di Padang Panjang.

Tak hanya memperjuangkan pendidikanuntuk perempuan, Rahmah pernah merasakan hidup di penjara. Rahmah juga berperan dalam mempelopori berdirinya Tentara Keamanan Rakyat, Laskar Sabilillah dan Laskar Hizbullah membuatnya harus dipenjara.  Tak hanya itu ia juga ikut tejun ke dunia politik,  tahun 1955 ia terpilih sebagai anggota DPRS dari Partai Masyumi. Ia duduk di lembaga ini hingga tahun 1957.

Rahmah meninggal pada usia 71 tahun dalam keadaan berwudu hendak salat Magrib pada 26 Februari 1969. Jenazahnya dimakamkan di pekuburan keluarga yang terletak di samping rumahnya.


4. Rasuna Said

Lahir pada 15 September 1910, di Desa Panyinggahan, Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Rasuna merupakan putri dari saudagar Minang, Muhamad Said, yang juga seorang  bekas aktivis pergerakan.

Rasuna Said memiliki kemampuan berpidato yang mengecam pemerintahan Belanda .Ia juga perempuan pertama hukum speek delict yakninya siapapun bisa dihukum karena berbicara menentang Belanda.

Ia dikenal dengan tulisnnya yang tajam, kupasannya mengena sasaran, dan selalu mengambil sikap lantang antikolonial. Ia merupakan pemimpin redaksi majalah Raya. Majalah yang dikenal radikal dan menjadi tonggak perlawanan sumatra barat.  

Rasuna Said sempat mengecap tinggal di penjara  pada tahun 1932 di semarang. Sama halnya dengan Rahmah el Yunussyah, Rasuna said juga mendirikan mendirikan perguruan putri.

Tak hanya itu, Rasuna Said juga membuat majalah mingguan yang diberi nama Menara Poeteri untuk  menyebar-luaskan gagasanya. Menara Poetri tidak berumur panjang dikarenakan pelanggannya tidak membayar tagihan Koran.

Rasuna Said pun aktif di Badan Penerangan Pemuda Indonesia dan Komite Nasional Indonesia. Rasuna Said duduk dalam Dewan Perwakilan Sumatera mewakili daerah Sumatera Barat setelah Proklamasi Kemerdekaan. Ia diangkat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS). Ia meninggal dunia pada 2 November 1965 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

(laila)

Berita Terkait

Baca Juga