4 Hal yang Perlu Diperhatikan untuk Bangunan 'Ramah' Gempa

4 Hal yang Perlu Diperhatikan untuk Bangunan Ramah Gempa ilustrasi foto: Pixabay

Covesia.com - Ketika terjadi gempabumi,  banyak korban berjatuhan sebenarnya bukan karena gempanya, tetapi karena tertimpa bangunan yang rusak atau runtuh. Untuk itu diperlukan sosialisasi terkait langkah aman membangun bangunan tahan gempa. 

Dosen Teknik Sipil Universitas Negeri Padang, Eka Juliafad, S.T, M.eng mengatakan, bahwa bangunan yang aman dari gempa harus memenuhi beberapa persyaratan seperti berikut:

  • Pertama, kekuatan, artinya bangunan direncanakan mampu menahan beban gempa sesuai dengan standar gempa Indonesia. Untuk mencapai syarat kekuatan, material penyusun bangunan  harus sesuai dengan standar bahan bangunan Indonesia. “Jika menggunakan beton bertulang, maka minimal betonnya harus mencapai kekuatan 17MPa, tulangan harus Standar Nasional Indonesia (SNI) dan diameter minimal 10 mm,” ungkapnya.
  • Kedua,  harus memenuhi syarat keliatan (daktalitas), artinya bangunan  mampu berdeformasi tanpa mengalami kerusakan berarti saat digoyang gempa.
  • Ketiga, bangunan harus mampu menyerap energi gempa, yaitu dengan memastikan detail tulangan di bagian sambungan balok dan kolom bangunan terlaksana dengan baik.
  • Keempat, kondisi tanah setempat. Harus dipastikan pondasi bangunan sesuai dengan kondisi tanah, apakah tanah termasuk tanah lunak atau keras. Hal tersebut untuk menghindari bangunan mengalami settlement atau penurunan saat gempa. “Jika menggunakan pondasi telapak, misalnya, maka pondasi harus mecapai tanah keras,” jelas Eka saat dihubungi covesia, Rabu (17/102018).

Lebih lanjut, Eka mengatakan bahwa jumlah lantai bangunan bukanlah penentu utama bangunan aman atau tidak. Yang terpenting apakah bangunan tersebut memenuhi seluruh persyaratan utama di atas.

Eka menuturkan, bahwa  bangunan 4 lantai di daerah pantai belum bisa disimpulkan aman atau tidak, jadi harus dilakukan pengecekan terlebih dahulu oleh ahli pemeriksaan (assessment) bangunan.

Ia berharap bangunan 4 lantai tersebut aman terhadap gempa, dan pondasinya direncanakan dengan baik, sehingga tidak rusak secara struktur dan tidak mengalami penurunan jika ada potensi likuifaksi.

Hal lain yang perlu diperhatikan agar bangunan tetap aman, hendaknya direncanakan sesuai dengan SNI. “Pemilik bangunan tentu harus berkonsultasi dan menggunakan jasa perencana bangunan yang baik, kontraktor /pembangunan/tukang yang bersertifikasi serta diawasi dengan benar, agar hasil konstruksi sesuai dengan perencanaan,” jelas Eka.

Jika bangunan saat ini, terlihat tidak kuat (misal, penulangan kecil, beton berpori, dan lemah), atau menggunakan dinding bata tanpa perkuatan maka harus diperkuat dengan beberapa metode perkuatan yang ada.

“Menggunakan PP-band-mesh yang telah diaplikasikan di Indonesia dan negara lain. Biaya perkuatannya kurang dari 5% dari total biaya bangunan. Selain itu, juga bisa menggunakan metode perkuatan lain, misalnya yang dikembangkan oleh  Teddy Boen alumni Sipil ITB,” tutupnya.

Baca juga: Sejarah Gempabumi yang Pernah Terjadi di Sumatera Barat

Magang: Laila Marni

Berita Terkait

Baca Juga