Sejarah Gempabumi yang Pernah Terjadi di Sumatera Barat

Sejarah Gempabumi yang Pernah Terjadi di Sumatera Barat Tatanan tektonik wilayah Pulau Sumatera-Samudera Hindia (Foto: Sumbarprov)

Covesia.com - Provinsi Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang rentan terhadap bencana alam khususnya bencana gempa bumi dan tsunami. 

Hal tersebut disebabkan karena Sumatera Barat dilalui oleh tiga sumber ancaman gempa bumi yaitu zona sesar Sumatera (Sumatera Fault Zone), Zona subduksi pertemuan antara lempeng tektonik India-Australia dengan lempeng Eurasia, dan sesar Mentawai (Mentawai Fault Zone). 

Berdasarkan catatan data sejarah kegempaan dirangkum covesia.com dari berbagai sumber, daerah Sumatera Barat memang sudah berapa kali mengalami gempabumi merusak. Sejak 1822 hingga 2009 telah terjadi setidaknya 14 kali kejadian gempabumi kuat dan merusak di Sumatera Barat dan diantaranya menyebabkan tsunami. 

Sejarah Gempa

Sejarah panjang gempabumi merusak di Sumatera Barat, antara lain, adalah gempabumi Padang (1822, 1835, 1981, 1991, 2005), gempabumi Singkarak (1943), gempabumi Pasaman (1977), dan gempabumi Agam (2003). Sedangkan gempabumi yang diikuti gelombang tsunami terjadi di Mentawai (1861) dan Sori-Sori (1904).

Catatan paling tua menunjukan bahwa di Padang pada 1822 telah terjadi gempabumi kuat yang diikuti suara gemuruh yang berpusat di antara Gunung Talang dan Gunung Merapi. Meski tidak ada laporan secara rinci, catatan tersebut menyebutkan, gempabumi itu dilaporkan menimbulkan kerusakan parah dan korban jiwa cukup banyak.

Pada 28 Juni 1926, gempabumi dahsyat 7,8 skala Richter juga dilaporkan pernah mengguncang Padang Panjang. Akibat gempabumi ini, tercatat korban tewas lebih dari 354 orang. Kerusakan parah terjadi di sekitar Danau Singkarak Bukit Tinggi, Danau Maninjau, Padang Panjang, Kabupaten Solok, Sawahlunto, dan Alahan Panjang.

Gempabumi susulan mengakibatkan kerusakan di sebagian wilayah Danau Singkarak. Tercatat di Kabupaten Agam 472 rumah roboh, 57 orang tewas, dan 16 orang luka berat. Di Padang Panjang, 2.383 rumah roboh serta 247 orang tewas. Dampak gempabumi juga menimbulkan banyak tanah terbelah, longsoran di Padang Panjang, Kubu Karambia, dan Simabua.

Gempabumi kuat dengan magnitudo 5,6 skala Richter juga pernah terjadi pada 16 Februari 2004. Getaran gempabumi ini dirasakan di sebagian besar daerah Sumatera Barat hingga pada VI MMI (Modified Mercalli Intensity) yang menimbulkan korban tewas 6 orang dan meluluhlantakkan ratusan bangunan rumah di Kabupaten Tanah Datar.

Beberapa hari kemudian, tepatnya pada 22 Februari 2004, gempabumi yang lebih besar kembali mengguncang Sumatera Barat dengan magnitudo 6 skala Richter. Gempabumi ini mengakibatkan satu orang tewas dan beberapa orang luka parah serta ratusan rumah rusak berat di Kabupaten Pesisir Selatan.

Tektonik Sumatera Barat

Kondisi seismik yang aktif dan kompleks zona gempa bumi Sumatera Barat tersusun atas dua generator gempa bumi. Pertama, pembangkit gempabumi berasal dari kawasan barat Sumatera yaitu zone subduksi lempeng yang berpotensi menimbulkan gempa kuat yang sangat mungkin diikuti tsunami.

Sebagian besar hiposenter gempabumi yang dipicu aktivitas penyusupan lempeng berpusat di perairan sebelah barat Sumatera. Hal ini berkaitan dengan adanya pertemuan lempeng benua di dasar laut. Untuk kawasan Sumatera Barat, potensi gempa besar justru akibat aktivitas lempeng di zona subduksi yang dicirikan dengan magnitudo yang relatif lebih besar.

Generator gempabumi kedua adalah zona patahan Sumatera atau yang populer dikenal sebagai Semangka Fault. Semangka Fault merupakan patahan sangat aktif di daratan yang membelah Pulau Sumatera menjadi dua, membentang sepanjang Pegunungan Bukit Barisan, dari Teluk Semangka di Selat Sunda sampai ke wilayah Aceh di utara.

Gempabumi berkekuatan 7,0 skala Richter yang mengejutkan masyarakat Sungai Penuh yang episentrumnya sekitar 160 kilometer dari Kota Padang merupakan gempabumi akibat aktivitas patahan Semangka.

Tampaknya, pelepasan energi gempabumi utama Padang berkekuatan 7,6 skala Richter yang dibangkitkan oleh aktivitas subduksi lempeng berdampak telah memicu aktivitas sesar di daratan.

Berdasar penelitian, aktivitas gempa bumi di patahan Semangka rata-rata sekitar lima tahun sekali. Meski magnitudo gempa bumi di zona patahan itu relatif kecil, dampaknya bisa sangat berbahaya.

Ini disebabkan sumbernya di daratan yang berdekatan dengan kawasan permukiman.

Sebagai kawasan yang sangat rawan gempabumi, daerah Sumatera Barat akan selalu menjadi kawasan yang sering diguncang gempabumi. Oleh karena itu, kita dituntut lebih serius dalam memperbaiki sistem penanganan bencana alam, baik dalam memperbaiki sistem pamantauan gempabumi, pembuatan peta rawan gempa bumi, menyusun peta mikrozonasi gempa bumi, merencanakan bangunan tahan gempa bumi, maupun pendidikan masyarakat melalui sosialisasi mitigasi bahaya gempa bumi.

Jatuhnya banyak korban gempa bumi sebenarnya disebabkan kurang pahamnya masyarakat dalam menghadapi gempa bumi.

(sea)

Berita Terkait

Baca Juga