Harga Gula Merah Turun Drastis, Pengrajin di Kabupaten Agam Mengeluh

Harga Gula Merah Turun Drastis Pengrajin di Kabupaten Agam Mengeluh Gula Merah khas Kabupaten Agam Sumatera Barat (Foto: Johan Utoyo)

Covesia.com - Para pembuat gula merah atau disebut masyarakat sekitar  'Saka' di Nagari Lawang, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar)  mengeluh, pasalnya semenjak Idul Adha, 1439 Hijriyah silam, harga saka mengalami penurunan drastis.

Salah seorang masyarakat yang berprofesi sebagai pembuat saka, Zaini, (43) mengatakan, harga gula merah itu jauh merosot dari penurunan harga sebelumnya, jika biasanya tengkulak membeli hasil produksi olahan air tebu itu paling murah Rp 10 Ribu/Kg namun kini makin merosot menjadi Rp 8.500/ Kg.

"Permintaan saka usai Idul Adha berkurang , dan stock di tengkulak banyak jadi berpengaruh kepada harga beli mereka, "ujarnya saat di konfirmasi Covesia.com, Kamis, (13/9/2018).

Dijelaskan Zaini, sebelumnya jelang hari raya Idul Fitri 1439 harganya bisa mencapai Rp 18ribu /Kg hal itu disebabkan permintaan saka meningkat, namun setelah lebaran usal harga beli pedagang pengumpul kembali stabil antara Rp 15 ribu hingga Rp 10 ribu /kg.

Akan tetapi semenjak,  Idul Adha 1439 kemarin harga beli gula merah khas Kabupaten Agam itu  jauh merosot dan menetap di harga Rp 8.500/ Kg hingga sekarang.

Kondisi tersebut diakui  Zaini, sangat merugikan para petani dan pengilang saka, untung yang didapat dari pengilangan gula merah itu terbilang sangat tipis bahkan cenderung rugi.

Sementara itu camat Matur Tommy TRD membenarkan kondisi tersebut, tinggi atau turunnya permintaan berpengaruh kepada harga beli tengkulak.

Mengantisipasi ketidak stabilan harga saka,  pemarintah daerah sedang berusaha mencari solusi dengan mendorong masyarakat untuk membuat produk turunan dari saka, seperti gula semut, permen dan sarobat, dengan adanya ide pembuatan produk turunan tersebut diyakini bisa membantu petani dalam mengendalikan harga jual saka.

"Sebagian petani sudah mulai membuat UMKM produk turunan saka, seperti Gula semut, jika permintaan berkurang, merek bisa mengolah saka menjadi produk lainnya dan memiliki daya jual yang cukup tinggi sehingga tidak merugikan para petani, "tutupnya. (han/adi)

Berita Terkait

Baca Juga