Harapan Petani Gambir di Hari Kemerdekaan

Harapan Petani Gambir di Hari Kemerdekaan Petani Gambir tengah mengolah hasil panennya (Foto: Indrayen/Covesia)

Covesia.com - Di hari kemerdekaan RI ke 73, ternyata tidak sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat, terkususnya bagi petani gambir di Kampung gantiang Mudiek Ampalu, Kenagarian Gantiang Mudiek Selatan, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar), pasalnya harga gambir di daerah tersebut terus mengalami penurunan yang membuat petani merugi.

Berkibarnya seluruh bendera sang pusaka di plosok negri ini sebagai tanda bahwa kemerdekaan indonesia. Sehubungan di HUT RI inilah masyarakat sebagai petani gambir di daerah itu berharap harga gambir bisa kembali normal sepertia biasanya dengan harga Rp40 ribu perkilonyo.

Salah seorang Petani Gambir Riki (26) sedang melakukan proses panen gambir mengatakan, harga gambir di daerah itu sekarang hanya Rp17 ribu perkilonyo. Turunnya harga gambir sudah terjadi semenjak 4 bulan lalu.

"Sebelumnya, harga gambir didaerah itu sudah sering turun naik. Tapi semakin hari harga gambir semakin turun sehingga mencapai harga Rp17 ribu perkilonya, padahal sebanyak 80% masyarakat di kecamatan Sutera Ekonominya adalah sebagai petani gambir," katanya pada Covesia.com Jumat (17/08/2018).

Menurutnya, semenjak harga gambir turun dengan harga Rp. 17.000 perkilonya. Ekonomi masyarakat di daerah itu kembali melemah. Sebab, kebutuhan pokok yang akan dipenuhi semakin tinggi.

"Ya, kami sangat kesulitan untuk mengontrol kebutuhan pokok bagi keluarga yang di sebabkan harga gambir murha, dengan harga gambir Rp.17.000 kami hanya mendapatkan gaji Rp.300.000 perminggunya. Sedangkan kebutuhan pokok sehari-hari lebih dari yang kami dapatkan," terangnya

Sementara itu, Mendek (55) dan Istrinya Tam Elmi sebagai buruh tani gambir mengatakan, kami para buru tani berharap harga gambir kembali normal seperti biasanya yaitu Rp. 40.000 perkilonya. Sebab, harga kebutuhan pokok saat ini cukup tinggi. Apalagi bagi kami yang tengah menyekolahkan anak.

"Kalau dengan harga gambir seperti hari ini, kami takut nanti anak kami bisa putus sekolah, karna kebutuhan yang kami penuhi tidak sesuai dengan upah yang kami dapat. Kalau dibandingkan dengan harga normal kami bisa mendapatkan upah Rp150 ribu perhari tapi kalau harga gambir hari ini. Kami cuman mendapatkan upah RP60 ribu perharinya," ungkapnya.

Berprofesi sebagai buru tani gambir, Mendek sudah cukup mencicip asam pahit kehidupan di negeri sendiri. Tidak ada pilihan perkerjaan lain, dirinya bersama istri hanya bisa bergantung hidup sebagai buru tani gambir.

"Kalau jadi buruh tani gambir ini, sudah ada sekitar 30 tahun. Hasilnya, baru gali lobang tutup lobang. Untuk membiayai anak ke sekolah tinggi kami belum mampu. Jadi anak kami yang sudah tamat SMA hanya nganggur dan bekerja seperti kami," terangnya.

Lanjutnya, Mendek bersama sang istri berharap di HUT RI ke 73 ini kemerdekaan yang sebenarnya juga dapat dirasakan saat ia harus bertumpang hidup sebagai buruh tani gambir, Dan harga gambir kembali normal seperti biasanya

"Harapan penuh kami para buruh tani kepada pemerintah bagimana harga gambir bisa kembali normal seperti biasanya. Tidak perlu harga sampai Rp100 ribu perkilonya, Rp.40 ribu perkilonya saja sudah cukup bagi kami," pungkasnya dengan wajah penuh harapan.

Reporter Pessel: Indrayen

Berita Terkait

Baca Juga