Pelabuhan 'Tikus' Jadi Kendala Petugas BNNP NTB Pantau Transaksi Narkoba

Pelabuhan Tikus Jadi Kendala Petugas BNNP NTB Pantau Transaksi Narkoba Kepala BNNP NTB, Imam Margono. (dok.bnn)

Covesia.com- Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Heru Winarko sambangi Kantor BNN Provinsi (BNNP) Nusa Tenggara Barat (NTB). Kunjungan kerja Kepala BNN sekaligus untuk menghadiri pertemuan Ministerial Council Meeting on Law and Security (MCM) ke 5 yang diselenggarakan di Golden Palace Hotel, Kota Mataram, Lombok, Minggu (5/8).

Kepala BNNP NTB, Imam Margono, memanfaatkan kesempatan ini untuk melaporkan berbagai kendala yang dihadapi selama menjalankan program P4GN di NTB. Salah satunya adalah banyaknya pelabuhan tidak resmi bermunculan dipesisir pantai Lombok menyebabkan pihaknya sulit untuk mengkontrol transaksi (narkoba) yang terjadi dipintu-pintu masuk tersebut.

Pelabuhan-pelabuhan kecil yang tidak resmi atau biasa disebut 'pelabuhan tikus' memang sangat rentan terhadap lalu lintas barang ilegal dari berbagai daerah maupun negara.

Hal tersebut terjadi seiring dengan meningkatnya destinasi baru wisata pantai di wilayah ini. Tak hanya di Lombok, pelabuhan tidak resmi juga banyak bermunculan di pulau Sumbawa dan sekitarnya.

"Munculnya pelabuhan-pelabuhan tidak resmi tersebut, menyulitkan kami untuk melakukan pemantauan. Selain itu, minimnya jumlah SDM di lapangan menyulitkan kami untuk melakukan investigasi kasus secara maksimal” papar Imam dalam keterangan tertulis yang diterima Covesia.com, Minggu (5/8/2018).

Hal lain yang dilaporkankan Imam adalah upaya pendekatan secara persuasive yang telah dilakukan. Di NTB terdapat beberapa wilayah yang masyarakatnya menganggap peredaran gelap Narkoba sekan-akan lumrah adanya.

"Di beberapa tempat, khususnya kawasan wisata, banyak dijumpai adanya penyalahgunaan dan peredaran narkoba . Kami telah melakukan tindakan persuasive dengan melakukan pendekatan terhadap pelaku, bahkan juga kepada kepala daerah, namun hasilnya belum maksimal” pungkas Imam.

Permasalahan lain yang disampaikan adalah trend penyalahgunaan tramadol di wilayah Dompu dan Bima, NTB. Kedua kota tersebut merupakan wilayah dengan tingkat kerawanan konflik antar kampung yang sangat tinggi. Di wilayah tersebut kerap terjadi penyalahgunaan tramadol. “Sebelum berperang, mereka menggunakan tramadol agar lebih berani dan percaya diri”, kata Imam.

Menanggapi hal tersebut, Kepala BNN memberikan arahan agar BNNP melakukan sosialisasi secara tepat sasaran. "Jika angka penyalahgunaan tramadol tinggi, lakukan penyuluhan bahaya penyalahgunaan tramadol. Jika wilayah lainnya banyak penyalahgunaan shabu atau narkoba jenis lainnya, agar disesuaikan, sehingga efektif dan tepat sasaran," jelas Heru.

 

(jon)

Berita Terkait

Baca Juga