Mengenal Masjid Taluak, Salah Satu Mesjid Tertua di Agam

Mengenal Masjid Taluak Salah Satu Mesjid Tertua di Agam Masjid Taluak di kanagarian Taluak, kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam, Sumbar. (Covesia Foto/ Debi Kurnia)

Covesia.com - Masjid Taluak yang berada di kanagarian Taluak, kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam menjadi salah satu masjid bersejarah yang termasuk salah satu situs cagar budaya karena masjid ini menjadi salah satu masjid tertua di Agam. 

Masjid yang berukuran 12 X 18 meter tersebut diperkirakan dibangun lebih kurang tahun 1700 masehi pada zaman Belanda.

Adapun sejarah didirikannya masjid Taluak ini ialah berkaitan dengan sejarah Tabek Gadang Taluak. 

Menurut sejarah nenek moyang dahulu bahwa tabek (kolam) itu berasal dari Ngarai (lurah kecil) yang sudah ditimbun oleh masyarakat untuk menghubungkan jalan antara kampung Taluak dengan kampung Ladang Lawas. 

Setelah ngarai ditimbun tentu bagian atasnya tergenang air yang terkenal sekarang dengan sebutan Tabek Gadang Taluak. 

Pada saat itu masyarakat berpikir untuk membuat masjid di tepi Tabek Gadang yang disebabkan air sudah ada. 

Maka pada saat itu berdirilah Masjid Taluak yang dikenal hingga saat ini. 

Mula-mula masjid ini dibuat dari papan. Dinding masjid yang berukiran di sekelilingnya dengan lima tiang dan atapnya dari ijuk, terdiri dari tiga tingkat yang kemudian dibuat pula menara (bandaro) di depan masjid. 

Namun, karena adanya gempa kuat yang menguncang Sumbar tahun 2009, menara tersebut retak-retak dan diruntuhkan. 

Selanjutnya pada tahun 1914 Masjid Taluak dibangun secara permanen dimana dinding masjid diubah menjadi batu dan atapnya diganti dengan seng namun lantainya tetap papan. 

Adapun yang mempelopori pembangunan masjid ialah Syekh Abdul Majid.

Pada tahun 1995 tangga masjid mengalami perubahan yakni atap tangga masjid dibuat seperti atap masjid tiga tingkat hingga saat ini.

Menurut sejarah, masjid ini dulu juga pernah dijadikan tempat musyawarah untuk melawan Belanda oleh para pejuang. 

Masjid taluak juga pernah dijadikan lokasi pembuatan film "Di Bawah Lindungan Ka'bah." 

Di dalam masjid masih berdiri kokoh lima tiang serta terdapat mimbar yang dahulunya dibuat pada 16 Juni 1926. Mimbar itu masih asli dengan bahan yang terbuat dari kapur.

"Mimbar ini masih digunakan khatib Jumat untuk berkhutbah," sebut Ali Imran, penjaga masjid.

Ali Imran juga menyebutkan di masjid ini menjadi destinasi wisata religi bagi pendatang dan tak sedikit dari mereka yang ingin mengetahui sejarahnya.

"Hampir setiap hari pasti ada saja orang yang datang ke sini. Selain untuk ibadah, juga melakukan wisata reliji, sembari memberi makan ikan yang ada di Tabek Gadang di depan Masjid," ungkapnya. 

(deb/rdk) 

Berita Terkait

Baca Juga