Selama Ramadhan, Permintaan Pasar Gula Saka asal Lawang Meningkat

Selama Ramadhan Permintaan Pasar Gula Saka asal Lawang Meningkat Iustrasi Gula Saka (Gula Merah) asal lawang (Foto:Johan Utoyo)

Covesia.com - Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah hal tersebut  juga di rasakan masyarakat yang berprofesi sebagai pengilang saka (produsen gula merah) di nagari Tigo Balai, kecamatan Matur, kabupaten Agam, provinsi  Sumatera Barat, pasalnya selama bulan puasa ramadhan 1438 hijriyah  ini harga beli saka lawang dari tengkulak kepada pengilang mengalami kenaikan.

Salah seorang masyarakat yang berprofesi sebagai pengilang Saka di jorong Andaleh, nagari III Balai, kecamatan Matur, Agam, Hazifah (54) mengatakan, kenaikan harga beli gula merah khas Sumatera Barat itu terjadi berkisar Rp  7 Ribu /Kg yang mana sebelumnya 11 ribu saat ini meningkat menjadi Rp 18 ribu.

“Dalam satu minggunya saya bisa memproduksi sekitar 100 Kg saka, setiap hari kamis mereka datang untuk membeli, minggu sebelumnya dihargai Rp 11 Ribu dan Minggu ini Rp 18 ribu / Kg," ujarnya saat di konfirmasi Covesia.com, Jumat (18/5/2018).

Selain menaikkan harga beli lanjut Hazifah, tengkulak juga memesan lebih banyak saka karena permintaan pasar dipredikasi akan meningkat selama Ramadhan dan Idul Fitri.

“ Kenaikan harga terjadi karena tingginya  permintaan masyarakat saat Ramadhan, untuk bahan dasar pembuat kuliner buka puasa atau kue untuk lebarann, Saka adalah bahan penting bersama dengan gula, baik untuk kolak, cendol atau pun minuman lainnya, tak lupa pula untuk berbagai  kue saat hari raya," tutupnya.

Dijelaskan Hazifah, Saka yang di produksi masyarakat setempat  di bawa tengkulak ke luar Sumatera Barat seperti Riau, Jambi, Palembang dan Sumatera Utara. Tengkulak membawanya ke daerah pemesan sampai di sana dijual kembali ke pedagang pengecer.

Menurut hazifah, kenaikan harga saka tersebutdi prediksi akan terjadi hingga lebaran Idul Fitri nantinya, karena permintaan tetap tinggi selama bulan Ramadhan.

(han)


 


Berita Terkait

Baca Juga