Zubirman Warga Agam, Raup Keuntungan Puluhan Juta Rupiah dari Bertanam Kunyit

Zubirman Warga Agam Raup Keuntungan Puluhan Juta Rupiah dari Bertanam Kunyit Zubirman Sedang Membersihkan Kunyit Hasil Panen (Foto:Johan)

Covesia.com - Kunyit merupakan tanaman wajib yang ditanami di perkarangan rumah, selain untuk bumbu masakan, tanaman tersebut juga berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit, serta berbagai kosmetik, meskipun memiliki banyak manfaat belum terlintas di masyarakat untuk menanami tumbuhan itu dalam jumlah besar.

Lain halnya dengan Zubirman (47), warga Labu Pacah, jorong IV, Nagari Garagahan, Kecamatan lubuk Basung, kabupaten Agam, provinsi Sumatera Barat (Sumbar), dari pemanfaatan lahan tidur, ia berhasil meraup ratusan juta pertahun dari tanaman satu itu.

Berawal dari ide pemanfaatan lahan kosong namun modal terbatas, laki-laki yang akrab di sapa Subin itu berkonsultasi dengan salah seorang temannya yang berada di kota Solok maka disarankan untuk menjadi petani kunyit.

"Saya mempunyai lahan tidur yang jauh dari pemukiman jadi menyulitkan untuk di garap, maka disarankan teman untuk ditanami kunyit. saat panen disatu hektar tanah itu saya berhasil meraup keuntungan 60 juta," ujarnya ditemui Covesia.com, saat membersihkan kunyit yang siap di panen, Kamis (19/4/2018).

Dijelaskan Subin, dalam satu hektar  tahap awal mulai dari pembersihan lahan sampai pembelian bibit ia hanya mengocek modal sekitar Rp 1,5 juta.

Dalam satu hektar lahan itu Subin bisa menghasilkan 3 sampai 4 ton umbi kunyit dengan harga jual ke tengkulak Rp 20 ribu per kilogramnya.

"Untuk lahan bisa ditanam di lahan terbuka atau terlindung pepohonan, tidak masalah namun setiap bulannya rumpun harus dibersihkan," lanjutnya.

Selain tidak memakan banyak modal, kunyit memiliki banyak kelebihan, diantaranya, tahan terhadap penyakit dan cuaca ekstrim, serta tidak disukai hama atau binatang hutan, tidak hanya itu perawatan pada salah satu rempah-itu mudah, cukup dengan membersihkan rumput liar yang ada di sekitarnya dan menimbunkannya di rumpun tanpa harus di pupuk.

"Saya biasanya mengunjungi kebun kunyit 1 bulan sekali untuk mencabuti rumput liar yang tumbuh, nanti setelah umur 10 bulan baru di panen," lanjutnya.

Tidak hanya umbi, daun tanaman itu juga di beli tengkulak dengan harga Rp 1500 per Kg.

Dari awalnya hanya iseng namun hasil yang diperoleh menggiurkan, bapak 3 anak itu mulai berfikir untuk menekuninya dari sebelumnya hanya 1 hektar lahan saat sudah sudah dikembangkan menjadi 5 hektar.

"Kini untuk bibitnya sudah saya produksi sendiri, jadi tinggal menanami saja tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan," tutupnya.

(han)

Berita Terkait

Baca Juga