Terkait Tuduhan Pencurian Sawit, Masyarakat IV Nagari Gelar Unjuk Rasa di PN Agam

Terkait Tuduhan Pencurian Sawit Masyarakat IV Nagari Gelar Unjuk Rasa di PN Agam Foto:Covesia/Johan Utoyo

Covesia.com - Sejumlah Masyarakat dan kemenakan kaum dt Bangso Dirajo menggelar unjuk rasa di Pengadilan Negeri, Lubuk Basung kabupaten Agam, provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Senin (12/3/2018). Unjuk rasa tersebut dilakukan terkait dengan penangkapan dua warga Nagari Bawan, kecamatan IV Nagari, kabupaten Agam dengan tuduhan pencurian sawit.

koordinator lapangan aksi unjuk rasa,  Sutan Ujang tanjung SP mengatakan, kita melakukan aksi damai karena 2 warga bernama Danil (38) dan Beni, (38) dituduh telah melakukan tindak pidana pencurian sawit di lahan milik Bilal Shabirin Cs di Taban, Pudung Jati, nagari  Bawan.

“Ini adalah kasus sengketa lahan bukan tindakan pencurian, jika ingin diproses secara hukum harusnya perdata, kita berharap pengadilan bisa bertindak adil dan sesuai dengan ketentuan hukum,” ujarnya saat di konfirmasi Covesia.com usai unjuk rasa.

Kepala Pengadilan Negeri Lubuk Basung Indrawan, menjelaskan bahwa sidang yang dilaksanakan hari ini adalah sidang perdana terkait laporan tindak pidana pencurian sawit masyarakat.

“Sidang ini dilaksanakan terbuka untuk umum dengan polisi sebagai tim pengawal jadi tidak ada istilah di tutup-tutupi, kita akuntabel adil, jujur dan apa adanya tidak ada yang disembunyikan, kita lihat saja nanti pembacaan dakwaan di pengadilan,” jelasnya.

Sementara itu Kuasa Hukum kedua terdakwa, Yarmen Eka Putra didampingi Qorry Amanda mengatakan untuk status kepemilikan tanah masih di pertanyakan karena dilihat dari sertifikat yang dimiliki pelapor berada di Padang Kalam masih berjarak 2 km dari tanah perkara, serta luas tanah di dalam sertifikat 2,7 hektar sedangkan yang di kuasai pelapor adalah 7 hektar,” jelasnya.

“ Kita melihat ada fakta dilapangan yang dihilangkan Jaksa Penuntut Umum serta dugaan adanya BAP yang di rekayasa, harusnya penyidik lebih jeli menyikapi masalah ini,“ tuturnya.

Dari segi kepemilikan lanjut Yarmen Eka Putra, pihaknya bisa membuktikan bahwa tanah tersebut merupakan milik Kaum Tanjung Dt Bangso Dirajo, karena ada 1 bangunan rumah dan kuburan nenek moyang yang umurnya sudah lebih Satu Abad.

“Kita tidak tau dari mana pelapor mengklaim kalau itu tanah dan lahan sawit mereka, masyarakat setempat pun tau kalau pelapor tidak pernah menanam sawit satu batang pun di tanah perkara, sedangkan status tanah kaum sudah sejak ratusan tahun yang lalu, dan tidak ada juga bukti dan saksi  bahwa tanah tersebut sudah diwakafkan, saat ini kita sedang menyelidiki adanya indikasi laporan dan keterangan palsu jika terbuki akan kita laporkan kembali,“ terangnya.

(han)


 

Berita Terkait

Baca Juga