Jauh dari Kata Layak, Seorang Nenek Hidup Sebatang Kara di Pariaman

Jauh dari Kata Layak Seorang Nenek Hidup Sebatang Kara di Pariaman Mak Ni saat dikunjungi seorang Bhabinkamtibmas yang bertugas di daerah tersebut (Foto:Covesia/Rozi)

Covesia.com - Mak Ni (96), warga Dusun Kajai, Desa Koto Marapak, Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar) hidup miskin dan sebatang kara serta tinggal di gubuk dengan kondisi layaknya seperti gudang yang sangat memiriskan.

Gubuk yang berisikan barang-barang bekas dan dipan tempat tidur yang seadanya, apalagi ketika pada malam hari hanya sebatang lilin memenuhi pencahayaan gubuk deritanya Mak Ni.

"Kalau malam hari, Amak hanya ditemani cahaya bulan, itupun kalau cuaca lagi bersahabat, karena di dalam gubuk tidak ada fasilitas Listrik serta sering kekurangan air bersih," ujar Mak Ni.

Tempat yang dianggapnya sebagai istana itu, cukup jauh dari keramaian dan hanya suara kicau burung yang sering dia dengar, karena gubuknya hanya dikelilingi oleh tanaman Kakao dan pohon pisang.

Seorang Bhabinkamtibmas, Bripka Subur Praitno, yang bertugas di daerah itu mengatakan, bahwa berdasarkan keterangan si Nenek yang tinggal seorang diri ini mengaku memiliki anak satu orang, Herman (65) dan sekarang tinggal masih satu kecamatan, namun karena ia juga memiliki keluarga sehingga tidak selalu mengurusnya. 

"Jika tidak diantarkan nasi atau berkunjung, maka ia berusaha meminta sesuap nasi ke warga sekitar dengan tulang bungkuk yang bergantung pada kayu dengan panjang satu meter alias tongkat," keluhnya.

Ia merasakan hidup sebatang kara semenjak ditinggal sang suami pada tahun 1986 yang lalu. Mak Ni sangat sedih dan sangat terasa kalau tidak mempunyai anak perempuan yang bisa mengurusnya pada usia tua seperti ini.

“Sungguh teriris melihat kondisi kehidupan nenek Ulung yang jauh dari kata layak. Digubuk reotnyalah dirinya menyambung dan bertahan hidup ditengah majunya pembangunan di daerah itu,” ungkap Bhabinkantibmas tersebut.

Ia menjelaskan, sejak mulai diketahui bahwa ada nenek tinggal sendiri. Semenjak itu pula sering pergi kerumah nenek tersebut memberikan bantuan secara pribadi seadanya saja, seperti minuman, kue, kain sarung dan baju bekas yang bisa dipakai nenek tersebut.

Nenek itu juga tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah, hanya saja dari pengakuan nenek itu, ia hanya mendapatkan raskin, itupun ia mendapatkannya belum lama ini. 

"Keadaan dan kondisi nenek tidak terurus, sangat terlihat dengan pakaian yang dipakainya tidak layak lagi dan rambut memutih yang tidak terawat. Sehingga melihatnya, tidak ada manusia yang tidak meneteskan air mata," sebut Bripka Subur.

Ia berharap, agar pemerintah daerah setempat dapat segera menyalurkan bantuan rumah layak huni, makanan, dan bantuan lainnya untuk meringankan beban nenek Mak Ni,” tutupnya.

Reporter Pariaman: Rozi Yardinal

Berita Terkait

Baca Juga