Tak Terima Diputuskan, Seorang Mahasiswa di Padang Pariaman Sebarkan Vidio Asusila Bersama Mantan

Tak Terima Diputuskan Seorang Mahasiswa di Padang Pariaman Sebarkan Vidio Asusila Bersama Mantan Saat jumpa pers di Mapolres Kota Pariaman terhadap pelaku tindak pidana mendistribusikan informasi dan dokumen elektronik yang melanggar kesusilaan (Foto: Covesia/ Peri) 

Covesia.com - Menolak diputuskan hubungan asmaranya, seorang mahasiswa di Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar), menyebarkan foto dan vidio bermuatan melanggar kesusilaan mantan pacarnya tersebut.

Hal tersebut dibenarkan oleh Kapolres Kota Pariaman, AKBP Deny Rendra Laksmana saat kegiatan jumpa pers bersama dengan awak media pada Kamis (18/2/2021).

"Sekarang pelaku (mahasiswa) tersebut sudah kami amankan di Mapolres Kota Pariaman, untuk mempertanggungjawabkan perbuatanya," sebut Deny.

Pelaku ditangkap di Pekanbaru. Pelaku ini selalu berpindah-pindah sebelum akhirnya ditangkap.

Lanjut Deny, pelaku ditangkap pihaknya atas lapor polisi nomor LP/207/B/XI1/2020/SPKT/Polres Tanggal 12, tentang tindak pidana mendistriusikan informasi dan dokumen elektronik yang melanggar kesusilaan.

"Motif pelaku ini masalah asmara dengan korban, sebab mereka pernah pacaran tapi pelaku diputuskan, dan tidak terima kemudian ingin mempermalukan korban," ungkapnya.

Deny menyebutkan, waktu kejadian penyebaran vidio dan gambar tersebut diketahui oleh korban pada Jumat (11/12/2020) sekitar pukul 20.00 WIB, waktu korban di rumahnya di Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Padang Pariaman.

"Korbannya dengan inisial nama EJ (23), merupakan guru honorer. Sedangkan untuk pelaku penyebaran foto dan vidio tersebut dengan inisial nama RA (26) merupakan seorang mahasiswa warga Kecamatan Sungai Limau, Padang Pariaman," jelasnya.

Dikatakan Deny, kronologis kejadian itu diketahui gambar dan vidio tersebut ketika korban EJ sedang berada di rumahnya. Kemudian dihubungi oleh temannya, bahwa ada yang mengirimkan foto dan video
tentang diri korban ini dengan seorang laki-laki yang wajahnya ditutupi pakai stiker emoticon berpose sama-sama setengah telanjang dada.

Mendengar hal tersebut korban langsung menelfon temannya itu, dan menanyakan siapa yang
telah mengirimkan foto dan video telanjang tersebut. Selanjutnya teman korban tersebut mengatakan, bahwa foto itu dikirim oleh nomor WhatsApp yang diketahui pelaku yakni mantan korban.

Beberapa hari kemudian ketika korban bertemu dengan temannya yang lain lagi. Teman tersebut juga menyampaikan kalau ia juga mendapatkan foto dan vido yang sama dari pelaku melalui aplikasi media social messengger.

"Kepada korban pelaku juga mengirim foto dan vidio yang sama, dan mengancam korban jika tetap memutuskan pelaku, maka akan tetap menyebarkan foto dan video telanjang tersebut kepada orang lain," katanya.

Jadi kata Deny, karena korban tidak nyaman dengan perbuatan pelaku, dan melaporkannya ke pihak polisi atas apa yang dialaminya.

"Atas perbuatannya pelaku dikenakan pasal 45 ayat 1 jo pasal 27 ayat 1 undang-undang nomor 19 tahun 2016. Untuk ancaman hukumannya paling lama penjara enam tahun," jelasnya.

(per)

Berita Terkait

Baca Juga