Ditugaskan di Pelosok Sulawesi, Ini Suka Duka Bidan Cantik Asal Agam

Ditugaskan di Pelosok Sulawesi Ini Suka Duka Bidan Cantik Asal Agam Rosni Fitri Yanti, saat melayani pasiennya (Foto: dok.pribadi)

Covesia.com - Ditugaskan di pelosok Pulau Sulawesi sebagai petugas medis, tentunya membuat Rosni Fitri Yanti memiiki peran penting dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.

Sejak bergabung dengan Nusantara Sehat (NS), program besutan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI pada tahun 2018 lalu, bidan sekaligus asisten dosen cantik asal Kabupaten Agam ini siap menjalani suka dan duka mengabdi kepada masyarakat yang sulit mendapatkan pelayanan kesehatan.

"Saya mendaftar di Nusantara Sehat di gelombang pertama tidak lulus dan baru berhasil setelah mencoba pada gelombang kedua, pada tahun 2016," ujarnya saat dikonfirmasi Covesia.com.

Diawal tahun 2018, Fitri, Panggilan akrab Rosni Fitri Yanti ini mendapat panggilan segera bersiap-siap berangkat mengikuti pelatihan di Ciloto, Jawa Barat. Mulanya wanita kelahiran 32 tahun silam ini merasa bimbang sebab tugas dan tanggung jawabnya cukup besar. 

Sembari menunggu pengumuman lulus atau tidaknya, Ia bekerja sebagai asisten dokter kandungan serta diminta membantu mengajar di kampus Universitas Abulyatama Aceh Besar. Di sela rutinitas yang cukup padat ia juga tengah melanjutkan pendidikan karena mendapatkan beasiswa S2.

"Bercampur senang dan bimbang, saya meminta izin untuk berfikir, karena harus mengurus pengunduran diri di dua tempat. ternyata saya diizinkan dan besok pagi siap berangkat ke tempat pelatihan." katanya lagi. 

Disinilah putri sulung dari pasangan Rosli dan Surya Deswita ini ditempa untuk menjadi tenaga medis handal yang siap ditugaskan di mana saja. Bisa dikatakan, pelatihan yang diterimanya semi militer, seluruh calon tenaga medis yang terpilih dituntut mengikuti pendidikan dengan disiplin, harus tangguh secara mental maupun fisik, selain itu pendidikan singkatnya ini menuntutnya bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan dan masyarakat yang baru.

Setelah 40 hari menjalankan pelatihan, Fitri bersama 4 orang temannya mendapat penugasan di Puskesmas terpencil di Kecamatan Biluhu, Kabupaten Gorontalo. Dalam menjalankan tugas ia membawa nama Provinsi Aceh, hal itu dikarenakan setelah menamatkan sekolah di SMPN 1 Lubuk Basung,  Agam, Ia ikut sang ayah melanjutkan sekolah dan kuliah di sana.

"Saya lahir dan kecil di Lubuk Basung, setelah tamat SMP saya dibawa Ayah dan sekolah di Aceh, sehingga saat ini memiliki KTP Aceh," terangnya.

Disinilah petualangan Fitri dimulai, untuk menempuh lokasi penempatan saja, mereka harus menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam dari pusat pemerintahan. Sebenarnya jarak yang ditempuh tidaklah terlalu jauh, akan tetapi akses lalulintas yang tidak memadai membuat kendaraan yang digunakan tidak bisa melaju cepat.

"Kesan pertama yang saya dapatkan saat akan bertugas  adalah menempuh jalan tanah dengan banyak lobang digenangi lumpur, pengendara harus ekstra hati-hati karena jurang di sisi kanan kiri," ulas Fitri.

Tidak cukup sampai disitu saja, letak Puskesmas yang hanya 500 meter dari bibir pantai menjadi tantangan tersendiri baginya, jika pasang naik, air laut bisa berpindah ke halaman. Ancaman serupa kerap menghantui kala curah hujan tinggi, banjir akan menutupi sebagian besar desa dan memutuskan akses transportasi.

Meski kondisi geografis yang cukup ekstrim ia selalu siap jika dibutuhkan, bergerak ke desa yang sulit dijangkau dan  bersiaga 24 jam jika dibutuhkan.

Dalam memberikan pelayanan, awalnya Fitri bersama ke empat teman sesama tim medis Nusantara Sehat mengalami kesulitan berkomunikasi dengan masyarakat, beruntungnya salah seorang petugas setempat bersedia sebagai penerjemah.

Pernah suatu kali seorang pasien berusia lanjut mengeluhkan kondisi tubuhnya ke rumah dinas tempat Fitri tinggal, waktu itu jarum jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Pasien ini tidak bisa bisa ataupun mengerti bahasa nasional, sehingga komunikasi dilakukan secara isyarat.

"Karena kami sama-sama tidak mengerti jadi saya bertanya dengan isyarat, ia pun menjawab dengan cara yang sama. Guna memastikan, paginya saya mendatangi pihak keluarga, mereka membenarkan keluhan dan obat yang diberikan sudah tepat," ujarnya sambil tertawa.

Lain pula keseruan saat memberikan pelayanan desa yang sulit dijangkau, untuk menuju lokasi Fitri akan menempuh perjalanan beberapa jam menggunakan perahu. Meski begitu, lelah perjalanan akan terbayar lunas kala kedatangannya disambut hangat oleh warga desa, tak jarang sebelum kembali mereka diberi buah tangan bahkan ditawarkan untuk menginap. "Kalau warga desa memberikan makanan, jangan ditolak, itu pamali," kata Fitri dengan mimik wajah serius.

Usai dua tahun mengabdi di Gorontalo, Fitri akhirnya pulang kembali ke Aceh untuk melanjutkan rutinitas seperti biasa serta tesisnya yang sempat tertunda.

Namun, petualangan Gadis Cantik ini tidak selesai begitu saja, baru 3 bulan menjalani tugas sebagai asisten dosen dan bidan, hatinya kembali terpanggil memberikan pelayanan untuk masyarakat yang membutuhkan.

Akhir 2020, Fitri memutuskan mengambil kembali program  Nusantara Sehat lanjut, dalam program ini ia ditugaskan sendiri di Puskesmas Liwotu, Kota Bau-bau, Sulawesi Tenggara dan kemudian melanjutkan di salah satu Puskesmas di Kecamatan Meliau,  Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat hingga 2 tahun kedepan.

Disinggung masalah pribadi, hingga hari ini ia mengaku belum memiliki tambatan hati, semuanya diserahkan kepada tuhan dan selalu berdoa bisa menemukan jodoh di perjalanan. 

"Iiih.. Jadi malu nih.. kalau pacar belum ada, sampai saat ini masih belum menemukan orang yang tepat," celetuk Fitri  dengan raut wajah malu.

(jhn)


Berita Terkait

Baca Juga