Memperniagakan Satwa Dilindungi, Polisi Ciduk Seorang Pedagang Burung di Kabupaten Solok

Memperniagakan Satwa Dilindungi Polisi Ciduk Seorang Pedagang Burung di Kabupaten Solok Jajaran Ditreskrimsus Polda Sumbar saat merilis tangakapan pedagang burung yang memperniagakan Satwa dilindungi, Senin (25/1/2021)

Covesia.com - Direktorat Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Barat (Sumbar) menciduk seorang tersangka pedagang burung di kabupaten Solok yang telah memperniagakan (memperjual belikan) satwa yang dilindungi, dalam keadaan hidup dan mati.

Direktur Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Sumbar, Kombes Pol Joko Sadono didampingi Kabid Humas Kombes Pol Satake Bayu mengatakan, penangkapan terhadap tersangka berinisial ZK (47) ini bermula dari laporan masyarakat terkait banyaknya hewan-hewan langka yang ditemukan di rumah tersangka.

"Pemilik toko burung ini ditangkap lantaran memiliki dan menyimpan serta berencana menjual hewan yang dilindungi, kemudian pada Minggu (24/1/2021) siang aksi tersangka ini berhasil kita gagalkan," ungkap Kombes Pol Joko Sadono, dalam keterangan persnya di Mapolda Sumbar, Senin (25/1/2021). 

Sebelum dilakukan penangkapan kata Joko, pihaknya langsung berkoordinasi dengan Polisi Hutan Polda Sumbar dan melakukan pengecekan di lapangan. Ternyata benar, tersangka ini memiliki empat jenis hewan yang dilindungi, bahkan ada yang sudah endemik (hampir punah).

Setelah ZK ditangkap, lanjut Joko, juga turut diamankan barang bukti berupa dua ekor satwa yang dilindungi yakni Owa Ungko (Hylobates Agilis), 32 ekor burung Cucak Hijau (Chloropsis Sonnerati), seekor burung Cucak Ranting, seekor burung Kinoy dan 4,7 Kilogram sisik trenggiling.

"Barang bukti yang sudah kita amankan tersebut untuk hewan yang hidup dititipkan di BKSDA Sumbar, sedangkan sisik trenggiling kita amankan untuk penyelidikan lebih lanjut," jelas Joko.

Atas perbuatan tersangka ini, tambah Joko, ia akan terancam pasal 40 juncto pasal 21 ayat (2) huruf a dan b Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

(don) 


Berita Terkait

Baca Juga