Bisa Timbulkan Aktivitas Menyimpang, Pengamat: Aktivitas Organ Tunggal Harus Dibatasi

Bisa Timbulkan Aktivitas Menyimpang Pengamat Aktivitas Organ Tunggal Harus Dibatasi Ilustrasi - Pesta organ tunggal di Agam pada Rabu dini hari (23/1/2019), dinilai meresahkan warga. Foto: Dok Covesia/ Johan

Covesia.com - Panggung musik organ tunggal memang selalu menjadi pilihan hiburan merakyat yang banyak dipilih masyarakat, dalam berbagai acara yang diadakan. Seperti saat pesta pernikahan, perayaan hari-hari besar, dan acara kepemudaan lainnya.

Hal itu sepertinya sudah menjadi kebiasaan di tengah masyarakat, bahwa kalau mengadakan acara lebih memilih memakai organ tunggal, untuk menghibur para tamu undangannya. 

Terkait organ tunggal tersebut, Pengamat Sosial dan juga Sosiolog dari Universitas Negeri Padang (UNP), Erian Joni melihat, bahwa keberadaan organ tunggal itu memiliki dua sisi, yaitu positif dan negatif.

"Dari sisi positif, organ tunggal jelas menjadi usaha ekonomi masyarakat dalam hiburan, kemudian adalah seni modern yang mampu menghibur masyarakat dan sebagai sarana ajang kebolehan bagi orang-orang berbakat menyanyi serta untuk melatih kepercayaan dirinya," sebut Erian saat dihubungi Covesia.com pada Rabu (20/1/2021).

Namun lanjut Erian, dari sisi negatif, justru organ tunggal menjadi medium untuk aktivitas menyimpang dan kriminal. Seperti, miras, judi, aktivitas narkoba, tawuran dan bahkan dipakai untuk tempat pelecehan seksual.

Hal itu ketika fungsi organ tunggal bukan lagi sebagai seni dan hiburan atau melenceng dari fungsinya, seperti banyak terlihat hari ini, yaitu dijadikan saweran bernuansa pornoaksi. Bahkan juga anak-anak di bawah umur kadang melihat atraksi-atraksi tersebut.

Selanjutnya etika berpakaian, bahwa penyanyi organ tunggal kadang sangat seksi, dan mereka mempertontonkan kemolekkan tubuhnya dihadapan publik.

"Perlu juga hendaknya dibuat standar aturan berbusana bagi penyanyi organ tunggal tersebut," ujarnya. 

Erian menyebutkan, sebenarnya beberapa kota dan kabupaten di Sumatera Barat (Sumbar), sudah memiliki peraturan daerah (Perda) tentang aturan organ tunggal tersebut, seperti di Kabupaten Padang Pariaman. Tapi efektivitas peraturan dan pemberian sanksinya bagi industri hiburan dan penyelenggara tidak jalan, begitu juga di daerah lain.

"Makanya ada beberapa solusi untuk mengantisipasi aktivitas organ tunggal yang kadang di luar batas, yakni perlu keterlibatan semua pihak untuk melakukan kontrol sosial dalam pelaksanaannya," katanya.

Kemudian selanjutnya kata Erian, diberi pembatasan jam hiburan organ tunggal tersebut, karena kalau sudah melampaui waktu, yakni pukul 18.00 WIB maka akan menjadi hiburan malam yang akan menimbulkan masalah termasuk menganggu kenyamanan lingkungan sekitar karena menghasilkan polusi suara dan polusi budaya," ungkapnya.

Erian mengatakan, terkait organ tunggal ini yang terpenting komitmen bersama untuk mencegah ekses negatif dari hal tersebut, yaitu 

aktivitas orgen tunggal harus dibatasi dan diawasi, kemudian harus ada aturan yang sama di Sumbar yang dapat dijadikan patron oleh pemilik usaha dan konsumen, agar efek hiburan ini menambah catatan kelam dalam masyarakat, sebagai hiburan yang dicari tetapi sekaligus dicaci.

"Saya rasa Pemda Sumbar perlu membuat Surat Edaran tentang aturan main penyelenggaran hiburan seperti organ tunggal ini untuk tahap awal dulu," tutupnya. 

(per)


Berita Terkait

Baca Juga