Alumni MTI Candung Perjuangkan Gelar Pahlawan Syeikh Sulaiman Arrasuli

Alumni MTI Candung Perjuangkan Gelar Pahlawan Syeikh Sulaiman Arrasuli Syukri Iska (Generasi ke 3 Inyiak Candung)

Covesia.com - Syeikh Sulaiman Arrasuli atau lebih dikenal dengan Inyiak Canduang merupakan ulama kenamaan yang memiliki kontribusi besar, salah satunya dengan mendirikan pendidikan formal yakni, MTI Canduang. 

Dilahirkan 1871 dan wafat pada tahun 1970. Setidaknya, ia hidup selama 99 tahun dan melakukan hal besar untuk Indonesia serta turut melawan penjajah. Tahun ini tepat 50 tahun Inyiak Canduang wafat. Alumni dan berbagai elemen masyarakat mengajukan gelar pahlawan nasional untuk almarhum. 

"Alumni, keluarga inyiak candung bahu membahu terlaksananya webminar nasional ini juga kontribusi pemkab agam dan pemprov Sumbar untuk menjadikan Inyiak Candung sebagai pahlawan nasional," ungkap Mursal Tanjung, Ketua MTI Se-Jabodetabek, Sabtu (31/10/2020).

Di webinar yang dilakukan via zoom tersebut Mursal menyampaikan harapannya semoga rencana bersama untuk menjadikan Inyiak Candung jadi pahlawan nasional bisa terwujud. Juga memgharapkan seluruh peserta webminar bisa mengikuti dengan seksama dan bernilai ibadah di sisi Allah SWT.

Kemudian, hadir pula, Syukri Iska yang merupakan generasi ke 3 inyiak candung. "Inyiak Candung adalah pejuang dan pemersatu umat dan bangsa. Apresiasi kepada inisiator dan pelaksana dalam rangka pengajuan sebagai pahlawan nasional," ujarnya. 

Keluarga MTI Candung dan MTI Nasional, timbul indikasi kepantasan bahwa Syeikh Arrasuli menjadi pahlawan nasional. Beberapa waktu lalu DPD tarbiah Perti telah melaksanakan seminar juga waktu itu kita mengikutkan pihak kementrian. Untuk mengajukan seseorang sebagai pahlawan tersebut. 

Ada beberapa yang hadir sebagai pembicara yang mumpuni, sejarawan Asvi Warman Adam, Budayawan senior, Ridwan Saidi, Ustad Abdul Somad, dan pembicara lainnya. 

Ada 4 kiprah yang dilakukan oleh Syeikh Sulaiman Arrasuli, pertama sebagai kapasitas ulama ke surau ke masyarakat dan mempersaatukan saparatis kaum tua dan kaum muda dalam syariah islam. 

Kemudian, praktisi pendidikan tokoh yang melakukan pendidikan halaqah menjadi klasikal dan mendirikan institusi formal yakninya MTI Candung.  Adalah bentuk prakarsa dalam menghadirkan pendidikan formal. 

Sebagai politisi  semasa penjajahan ia menjadi diplomat non formal, ia mampu membuat penjajah memahami tidak memaksakan diri. Misalnya Jepang ingin bubarkan muhamadiah dan Syeikh arrasuli dapat mengatasinya dengan diplomatnya. 

"Diplomasi yang dilakukn bukan dalam bentuk mengorbankan identitas dan harga diri, namun dengan kepiawaiannya kehendak masyarakat bisa diterima oleh penjajah," ungkap Syukri. 

Terakhir, Pasca kemerdekaan bahwa dakwah harus dilalukan dalam parpol, beliau membentuk Perti parpol yang diperhitungan yang meraih suara terbanyak. Beliau berkiprah di dunia perpolitikan dan berkontribusi pada madrasah islamiah. Konflik di partai perti terpecah dan kembali pada tarbiyah golkar dan perti kepada PPP. 

Selain itu, juga kemampuan syeikh Sulaiman Arrasuli mendamaikan kemampuan kaum adat dan agama jadi terjadi ABS-SBK, Syarak tidak ada kotomis antara adat dan syarak. 

"Bagi keluarga secara simbolik menjadi sumber inspirasi itulah yang dapat dijadikan dan Mudah-mudahan diterima pengusulan ini. Semoga niat baik kita tercapai disetujui menjadi pahlawan nasional," harapnya.

(ila)


Berita Terkait

Baca Juga