Jenazah Pasien Suspect Covid-19 di RSUD Lubuk Sikaping Dibawa Paksa Keluarga

Jenazah Pasien Suspect Covid19 di RSUD Lubuk Sikaping Dibawa Paksa Keluarga Direktur RSUD Lubuk Sikaping, dr. Yong Marzuhaili. (Dok Covesia).

Covesia.com - Pihak keluarga membawa paksa jenazah pasien suspect Covid-19 yang meninggal dunia di ruang rawatan isolasi RSUD Lubuk Sikaping.

Jasadnya dibawa paksa oleh keluarganya karena menolak dilakukan penataan jenazah secara protokol Covid-19, meskipun pihak keluarga sudah menandatangani surat perjanjian perawatan di ruang isolasi RSUD Lubuk Sikaping.

“Apabila pasien suspect meninggal dalam perawatan di ruang isolasi setelah swabnya diambil untuk diperiksa dan hasil pemeriksaan swab Covid-19 belum keluar, maka jasad pasien diperlakukan pemakaman secara protokol Covid-19. Namun pihak keluarga menolak dan membawa paksa jenazahnya," terang  Direktur RSUD Lubuk Sikaping,  dr. Yong Marzuhaili, Kamis (29/10/2020).

Pasien kata dia diketahui berinisial Ny. SAP (68) warga Pasar Tapus Jorong Sentosa, Padang Gelugur, yang meninggal dunia di Ruang Isolasi RSUD Lubuk Sikaping sekitar pukul 21.45 WIB, Selasa (27/10/20) kemarin.

“Keluarga menolak pasien dilakukan pemakaman sesuai dengan penatalaksanaan Covid-19. Sampai saat jenazah SAP dibawa paksa oleh keluarga sekira pukul 00.15 WIB, Rabu (28/10/2020) saat hasil swab I belum keluar”, tambahnya.

Kata dr. Yong, Pasien SAP dinyatakan positif Covid-19 setelah menerima Surat dari Laboratorium Biomedik (Riset Terpadu) Pusat Diagnostic dan Pusat Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand Padang pimpinan dr. Andani pada tanggal 29 Oktober 2020, dengan Nomor : 1912/10/PDRPI/FK-2020 tentang Hasil Pemeriksaan pasien tersebut Positif Covid-19.

Adapun kronologis pasien Covid-19 atas nama SAP yang meninggal dunia dibawa paksa oleh keluarga, dimana  Pasien SAP masuk IGD RSUD Lubuk Sikaping rujukan dari RS Yarsi Panti hari Selasa (27/10/20) pukul 07.10 WIB dengan keluhan demam, batuk, sesak nafas dan nyeri ulu hati.

Setelah diperiksa oleh dokter Jaga IGD dianjurkan untuk dirawat diruang rawatan isolasi RSUD Lubuk Sikaping, pihak keluarga menyetujui menandatangani pernyataan dirawat dan tatalaksana pasien covid.

Pada tanggal 27 Oktober 2020 dilakukan swab I di IGD dan sekira pukul 10.00 WIB pasien dibawa masuk ke ruang rawat inap isolasi.

Setelah dilakukan pemeriksaan di ruangan pada tanda tanda vital pasien, dianjurkan untuk di rujuk ke Rumah Sakit rujukan yang lebih tinggi fasilitas kesehatan dan keluarga menolak dengan menandatangani surat penolakan rujukan.

Sekira pukul 17.45 WIB, sesak pasien meningkat dan sekira pukul 21.40 WIB, pasien dinyatakan henti nafas dihadapkan keluarga dan dokter jaga serta petugas medis dan dinyatakan meninggal dunia sekira pukul 21.45 WIB, Selasa (27/10/2020). 

Pihaknya berharap, kedepan apabila ada kasus seperti ini terjadi lagi, kiranya pihak keluarga dapat bekerjasama dengan baik dengan pihak kesehatan medis dan memahami peraturan protokol kesehatan yang telah dikeluarkan oleh Pemerintah.

"Kemudian kepada Satgas Pencegahan dan pengendalian covid 19 Kabupaten Pasaman lebih bersinergi lagi menyelesaikan kasus kasus tentang covid-19, agar rantai penyebaran covid-19 bisa diputus di Kabupaten Pasaman," katanya.

Saat ini kata dia telah dilaksanakan langkah cepat proses tracking untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Kabupaten Pasaman.

"Mari kita saling bekerjasama dalam menghambat laju penularan Covid-19 ini dengan selalu bersikap koperatif serta selalu bersikap tenang. Kami juga mohon dukungan seluruh masyarakat untuk selalu bahu-membahu membasmi penyebaran Covid-19 ini. Dengan selalu disiplin mematuhi protokol kesehatan Covid-19 seperti rajin mencuci tangan dengan air mengalir, selalu memakai masker, menjaga jarak serta menjauhi kerumunan," tutupnya.

(hri)

Berita Terkait

Baca Juga