Polemik Pilkada Dharmasraya, Kadis Pertanian Diduga Bentak Warga

Polemik Pilkada Dharmasraya Kadis Pertanian Diduga Bentak Warga Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Dharmasraya Darisman. (Foto: dharmasrayakab.go.id)

Covesia.com - Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat (Sumbar), Darisman, diduga marah-marah ketika menghadiri pertemuan perdamaian dua kubu warga yang bersitegang. Dua kelompok itu bagian tim sukses calon bupati Dharmasraya Panji Mursyidan-Yosrizal (Panji-Yos) dan tim sukses Sutan Riska Tuanku Kerajaan-Dasril Panin Dt Labuan.

Informasinya, Darisman yang tak lain kakak ipar Sutan Riska itu juga merobek surat perjanjian perdamaian antara kedua tim sukses berbeda dukungan itu. Dia bahkan sempat mencaci dan meninju dinding.

"Dia (oknum Kadis) datang sambil marah-marah. Dia meninju dinding dan menyobek hasil perjanjian kami. Bahkan mengancam akan menjemput malam kami semua," kata Zulfadli, warga Nagari Taratak Tinggi, Kecamatan Timpeh, yang juga tim sukses Panji-Yos.

Usut punya usut, polemik ini berawal dari seorang warga mengajukan pinjaman untuk modal usaha. Namun, hal itu disetujui kepala jorong. Sebab, warga tersebut memasang spanduk Panji-Yos di kediamannya.

"Kami tidak akan memberi bantuan, tapi kalau mau membuka spanduk itu, maka kami akan bantu," begitu kata oknum kepala jorong ditirukan Zulfadli.

Atas kejadian itu, Wali Nagari Taratak Tinggi Ahmad Sadar pun turun tangan untuk melakukan mediasi antara kedua tim sukses. Lantas, kedua tim pun sepakat berdamai dengan perjanjian tertulis. Alhasil, surat perjanjian itulah yang dirobek oleh Darisman yang datang dengan emosional ke lokasi.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Dharmasraya, Darisman membantah hal demikian.

"Saya memang datang ke lokasi tersebut, tapi itu tidak ada proses politik namun hanya kapasitas saya sebagai kepala dinas yang akan melakukan koordinasi konsultasi tentang kedinasan dengan pak wali di sana. Bahkan sebelum ke sana saya juga sudah janjian via telfon," sebutnya saat dihubungi Covesia.com pada Kamis (29/10/2020).

Darisman mengatakan, kalau masalah surat yang dirobek, merupakan surat kosong yang oret-oret, dan itu lahirnya di sebuah proses intimidasi. Bahkan yang diintimidasi itu sudah membuat laporan ke polisi. 

Diceritakan Darisman, kronologis kejadian itu berawal dari kunjungannya ke nagari tersebut untuk melakukan koordinasi konsultasi tentang kedinasan dengan wali nagari.

"Setelah sampai di lokasi tersebut, saya heran, bahwa buk jorong atas nama Dewi mengadu kepada saya karena dia diintimidasi, dipaksa mengaku terhadap sebuah kesalahan yang tidak dilakukannya dan disuruh meminta maaf, kemudian disekap lebih dari dua jam dalam ruangan pak wali yang terkunci," ucapnya. 

Kemudian ibuk jorong tersebut juga bercerita kepada Darisman, bahwa  ia disuruh berhenti menjadi anggota KPPS terpilih oleh KPU Dharmasraya yang sudah ada SK.

"Mendengar pengakuan dari buk jorong ini, kemudian saya masuk ke ruangan pak wali, di sana ada orang yang mengaku salah satu pasangan calon Bupati Dharmasraya. Di sana saya sampaikan, jikalau buk jorong ini salah, sebagai jorong, berhentikan ia. Kemudian kalau ia keliru dalam proses politik laporkan buk jorong ini ke Panwascam atau Bawaslu, karena itu wadahnya di negara ini," ungkapnya. 

Selanjutnya dikatakan Darisman yang ia sampaikannya itu, bahwa semua yang ada di dalam rungan tersebut tidak ada hak untuk menghakimi, bahkan mengadili buk jorong tersebut. 

"Kalau kalian tidak mengerti hukum silakan panggil tim advokat kalian mari kita berdiskusi di sini, hanya itu yang saya sampaikan di sana," jelasnya.

(pri)

Berita Terkait

Baca Juga