ASN R di Pasaman Mengaku Tidak Tahu Buku Nikah yang Gigunakannya Hasil Curian

ASN R di Pasaman Mengaku Tidak Tahu Buku Nikah yang Gigunakannya Hasil Curian Penasihat hukum ASN R, Deni Syahputra, SH, MH. (Dok Covesia)

Covesia.com - Seorang aparatur sipil negara (ASN) di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat (Sumbar) berinisial R yang dilaporkan ke Polisi Pasbar membantah menggunakan buku nikah ilegal atau buku nikah curian di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pasaman Barat, Senin (26/10/2020).

ASN, R melalui penasehat hukumnya, Deni Syahputra mengatakan bahwa buku nikah yang dimaksud itu diperoleh dari salah seorang pensiunan di KUA Bonjol berinisial ZA. 

"Karena R menjalani nikah siri sambil menunggu nikah secara resmi menurut undang-undang. Makanya digunakan buku tersebut untuk jaga-jaga saja," terang Deni Syahputra.

Menurut dia, saat ia menjalani nikah siri dengan seorang perempuan inisial TJ pada awal Maret 2020 saat itu sedang maraknya Covid-19.

Ketika mengurus nikah, diperoleh buku nikah sementara dari ZA. Buku nikah itu, lalu diisi sebagai pegangan, namun sadar hal itu tidak benar maka buku nikah itu tidak diisi penuh dan hanya sebagai pegangan.

"Berdasarkan buku itulah, mantan istri siri R melaporkannya ke Polres Pasaman Barat karena diduga buku itu adalah salah satu buku yang hilang di Kemenag Pasaman Barat," katanya.

Ia menegaskan tidak mengetahui adanya buku nikah yang hilang di Kemenag Pasaman Barat itu.

"Ini ada motif sakit hati, karena pelapor inisial I yang merupakan istri saya sebelum TJ saya ceraikan juga secara siri," katanya lagi.

Dia menyatakan, pelapor ia nikahi secara siri pada 2015 lalu. Kemudian pada 2017 diceraikan, kemudian rujuk kembali dan cerai kembali.

"Saya rasa inilah yang menyebabkan ia sakit hati karena pada 2020 saya kembali nikah siri dengan TJ. Padahal saya telah menyerahkan rumah di Kota Padang dan dua unit sepeda motor. Lebih dari itu tentu tidak mungkin," ujarnya pula.

Sebelum melapor, I masuk ke kamar di rumahnya dan menemukan buku nikah beserta sebuah notebook.

Berdasarkan buku nikah itulah, ia melapor ke Polres Pasaman Barat yang diduga seri buku nikah itu sama dengan seri buku nikah yang hilang.

"Ia juga mengatakan saat mengambil buku nikah itu ada buku nikah lainnya dan stempel yang tidak sempat diambil. Hal itu saya bantah, karena saat saya menjadi KUA banyak buku nikah yang salah saya bawa pulang dan stempel itu adalah stempel organisasi," katanya lagi.

Ia juga membantah menerbitkan duplikat surat nikah terhadap suami I sebelumnya.

"Kami akan menghormati proses hukum dan juga akan mengupayakan menyelesaikan secara kekeluargaan. Kami juga siap membantu mengungkap buku nikah yang hilang itu. Meskipun kami sendiri tidak mengetahui dari mana buku nikah itu sampai ke tangan ZA," kata penasihat hukumnya Deni Syahputra.

Sebelumnya, salah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat yang juga mantan kepala Kantor Urusan Agama (KUA) yanh berinisial R dilaporkan ke Kepolisian Pasaman Barat dengan kasus dugaan penggunaan buku nikah ilegal.

Kasus ini terkait dengan hilangnya sekitar dua ribu pasang buku nikah di Kantor Kementrian Agama Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar) pada 2017 lalu yang mulai menemukan titik terang.

Laporan Polisi (LP) itu langsung dibuat oleh salah seorang anggota TNI-AD Pasaman, Poniman yang melaporkan penyalahgunaan buku nikah oleh oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) yang saat ini bertugas di Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Disperindagkop) Pasaman dengan inisial R ke Kepolisian Resor Pasaman Barat, Senin (19/10/2020) lalu.

Saat ini kasus tersebut tengah ditangani oleh pihak Polres Pasbar. Pihak Kemenag Pasbar sendiri sangat berharap kasus tersebut terungkap agar  bisa mengetahui siapa pelaku pencurian sekitar 2.000 pasang buku nikah yang hilang di Kemenag tersebut.

(hri)

Berita Terkait

Baca Juga