12 Ribu UMKM Terdampak Covid-19 di Pasaman Diusulkan Terima Banpres Produktif

12 Ribu UMKM Terdampak Covid19 di Pasaman Diusulkan Terima Banpres Produktif Dinas Koperasi dan UKM Pasaman saat menggelar pelatihan manajemen UKM (Ist)

Covesia.com - Sebanyak 12 ribu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Pasaman telah diusulkan untuk masuk sebagai penerima Bantuan Presiden (Banpres) Produktif. Bantuan ini stimulus pemerintah bagi pelaku UMKM akibat terdampak Covid-19.

Sekretaris Dinas Koperasi dan UKM, Yossy Nasuiton mengatakan, jika lolos verifikasi oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan Kementerian Koperasi dan UMKM, nantinya masing-masing UMKM tersebut akan mendapat bantuan dari pemerintah pusat senilai Rp 2,4 juta.

"Kapan cairnya, belum bisa kita memastikan. Tapi, insyaallah dalam waktu dekat ini lah. Saat ini, 12 ribuan UMKM yang kita usulkan sedang diverifikasi oleh BPKP dan Kementerian terkait," ujar Sekretaris Dinas Koperasi dan UKM, Yossy Nasuiton, didampingi Kepala Bidang (Kabid) UMKM pada Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Pasaman, Rizal, Senin  (12/10/2020).

Yossy mengatakan, sejak Covid-19 merebak di tanah air pada pertengahan Maret lalu, pihaknya sudah melakukan pendataan riil di lapangan terhadap UMKM yang terkena dampak dari pandemi itu. 

"Kami melakukan pendataan dengan memaksimalkan peran pendamping UKM yang ada di Kecamatan. Kita di sini cuma mengusulkan saja," katanya.

Dikatakan jumlah usaha yang diusulkan sebanyak 12.000 an UMKM yang berasal dari 12 kecamatan di 37 nagari, dengan syarat menyetorkan nomor telepon, alamat tempat usaha, KTP pemilik usaha, dan nomor rekening.

Sebelumnya, pihaknya mengaku menerima banyak keluhan dari pelaku UMKM yang terdampak akibat wabah Covid-19). Bahkan, kata dia, sejumlah UMKM terpaksa menutup usahanya alias gulung tikar.

"Wabah virus korona sangat berdampak sekali terhadap keberlangsungan usaha mikro, kecil menengah (UMKM) di Pasaman. Pelaku UMKM, rata-rata sudah merumahkan karyawannya akibat dampak virus ini," ujarnya.

Lesunya pasar akibat pandemi ini tidak mampu mendongkrak angka penjualan para pelaku bisnis UMKM di daerah itu. Imbasnya pendapatan yang diterima pun tidak sesuai harapan dan biaya produksi yang dikeluarkan. 

"Ini menyebabkan keseimbangan keuangan perusahaan terganggu. Dampak terburuknya, bisnis yang dijalankan sejak lama gulung tikar. Dana habis, sebelum bisnis tersebut berkembang atau balik modal," katanya.

(hri)

Berita Terkait

Baca Juga