Yus Dt Parpatiah, Budayawan yang Tulus Berkarya dan Mendidik Generasi

Yus Dt Parpatiah Budayawan yang Tulus Berkarya dan Mendidik Generasi Jurnalis Covesia.com saat berbincang-bincang dengan Budayawan Yus Dt Parpatiah di kediaman beliau di Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam, Senin (15/11/2021)(Foto: Covesia-Johanes)

Covesia.com - Yus Dt Parpatiah. Nama tersebut sudah tidak asing lagi di telinga generasi Minang, Buah karya dari pimpinan sanggar seni Balerong Group Jakarta ini tak lekang oleh zaman dan masih dinikmati hingga sekarang ini.

Dalam kurun tahun 1980 hingga 2000-an awal, masih banyak dijumpai penjual kaset pita. Baik yang bertoko, maupun yang melapak pada setiap hari pakan (pasar besar).

Seiring perkembangan zaman, hasil buah fikiran Angku Yus Datuak Parpatih "Panggilan akrab Yusbir Dt Bandaro bodi, karena telah berubah gelar sebagai pimpinan pucuk suku Caniago di Sungai Batang" ini masih bisa dinikmati di platform media sosial youtube dan lainnya.

Senin (15/11/2021), Covesia.com berkesempatan menyambangi kediaman beliau di Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam. Kedatangan kami disambut hangat dan disuguhkan cemilan khas karak kaliang, dan kopi spesial hasil produksi masyarat sekitar.

Adalah Yusbir nama asli beliau, lahir di Maninjau, 7 April 1939. Anak dari pasangan Abdul Jalil (ayah) dengan Syafiyah (ibu). Sedangkan Istrinya, bernama Ermaini, dari perkawinan tersebut beliau dianugrahi tiga orang anak bernama Elivia, Ervan dan Ellen Yunita.

Masa kecilnya, dihabiskan di kampung halaman. Menamatkan SD tahun 1955, SMP tahun 1958. Di tingkat SMA sempat di SMAN 1 Maninjau namun terputus kemudian disambung ke SMA di Tanjung Asahan, Sumatra Utara hingga 1961.

Meski hanya sampai sekolah menengah atas,  budayawan Minangkabau ini berhasil menerobos pelestarian budaya melalui adaptasi perkembangan zaman. 

Setidaknya sudah ada 130 Karya sastra beliau berupa cerita rakyat, hikayat, legenda, gurindam maupun nasihat, pituah, mamangan, pantun, petatah dan petitih yang tak lekang oleh waktu dan tetap dinikmati generasi ke generasi.

"Semua tokoh dalam cerita hanya fiksi kita hasil buah fikiran, semuanya kita adaptasi dari fenomena ditengah masyarakat, diramu dan disajikan berbentuk karya seni suara," ujarnya sembari mempersilahkan menyicipi hidangan.

Ia mengaku tidak ada pendidikan khusus dalam berkarya, semuanya dilakukan secara otodidak semuanya berawal dari hobby dan mendapat tawaran untuk rekaman oleh salah seorang teman.

Pada mulanya menjejakkan kaki di tanah rantau beliau adalah seorang pengusaha di bidang konveksi hingga akhirnya menetap di Jakarta pada 1976. 

Di toko miliknya inilah, Angku Yus mengaku kerap berlatih drama dengan para karyawan tokonya, yang di kemudian hari menjadi para pentolan Balerong Group.

Satu Karya beliau di beli seharga Rp1 juta oleh Globe Record yang menjadi dapur rekaman pertama bagi diri Sanggar Seni Balerong Group Jakarta. Setelah itu, mulai bermunculan karya yang dihasilkan Angku Yus, drama dan monolog atau ceramah adat yang direkam di dapur rekaman. 

Selain sebagai hiburan, awal berkarya Angku Yus Dt Parpatih memiliki tujuan untuk menyebarluaskan nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau kepada orang Minang di ranah dan di rantau.

"Dalam Karya seni suara ini harus mudah dipahami jangan hanya hiburan tapi harus ada pelajaran yang didapat oleh pendengar," terangnya.

Seperti halnya Cerita Mak Adang dan Mak Enggi, setiap tokoh yang menjadi tokoh cerita memiliki pesan moral yang berbeda.

Tokoh Mak Adang adalah seorang jawara yang memiliki rekam kehidupan yang kurang baik, dikenal sebagai preman kampung dan sempat terseret kedalam politik. Namun pada akhir hayatnya Husnul khatimah dan menggembuskan nafas terakhir saat sedang beribadah dan menjadi marbot di mushalla.

Lain halnya Mak Enggi, semasa hidupnya merupakan pribadi yang baik, penuh perjuangan sebagai seorang ayah namun gagal menjadi seorang mamak dalam tatanan hidup masyarakat Minangkabau. Diakhir hayat, Mak Enggi tidak diurus oleh anak-anak dan diacuhkan oleh kemenakan sehingga menghabiskan masa tua di panti jompo.

"Dalam tatanan masyarakat Minangkabau, Anak Dipangku Kemenakan Dibimbing, banyak mamak yang acuh terhadap kemenakan saat masih bertulang kuat, sehingga pada masa tua mereka pun acuh terhadap mamak," jelasnya.

Selain menyuguhkan cerita, nasehat secara langsung juga diberikan Sanggar Seni Balerong Group Jakarta, seperti Pituah Ayan, Nasehat Calon Penghulu, Diskusi Adat dan Pribadi Minang

Beberapa di antara karya Angku Yus yang terkenal dan menempel di telingat pendengar adalah, Kasiah Tak Sampai, Maniti Buiah (drama), Rapek Mancik, Bakaruak Arang, Lego Pagai serta drama komedi lainnya yang hingga saat ini masih relevan didengar dipahami oleh orang dari berbagai lintas generasi Minangkabau.

Berkat dedikasi beliau terhadap seni, adat, dan budaya, Angku Yus pun memperoleh banyak penghargaam dari berbagai pihak dan lembaga. Terbaru, ia menerima Anugerah Tokoh Masyarakat Adat dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek). Sebab sebagai budayawan, ia dinilai berhasil menerobos pelestarian budaya lewat adaptasinya dengan perkembangan zaman.

Saat ini beliaun sudah banyak menghabiskan masa senja di kampung halamannya Jorong Nagari, Kenagarian Sungai Batang. Meski sudah menetap ditanah kelahiran, tidak sedikit masyarakat Minangkabau baik di ranah maupun di rantau berkunjung ke rumahnya. 

Mereka masih tetap Belajar dan menggali ilmu adat istiadat maupun Adat Basandi Syarak, Syarak Basansi Kitabullah. Bahkan dibawa sampai ke perantauan dan Kabupaten/Kota di Sumatra Barat lainnya untuk memberi penyuluhan dan diskusi adat dengan banyak Ninik Mamak beberapa daerah Minangkabau lainnya.

Saat ini beliau tengah fokus menulis buku dan rencanya pada awal tahun nanti akan diluncurkan. "Saya akan meluncurkan buku pertama saya. Judulnya 'Manyibak Minangkabau'. Ini karya pertama dalam bentuk buku. Banyak soalan Minangkabau yang dibahas di dalamnya. InsyaAllah awal 2022 nanti selesai dan diedarkan, dan semoga buku ini bermanfaat bagi masyarakat, khususnya generasi muda," tutupnya.

(jhn)

Berita Terkait

Baca Juga