Istana Tahfidz, Istana Bagi Anak Dhuafa di Kota Pariaman dalam Menimba Ilmu Agama

Istana Tahfidz Istana Bagi Anak Dhuafa di Kota Pariaman dalam Menimba Ilmu Agama

Covesia.com - Bangunan tiga lantai, dengan dominasi cat putih berdiri kokoh di Jalan Pahlawan, Kampung Jawa 1, Kecamatan Pariaman Tengah Kota Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar). Tepat dipinggir jalan berdiri kokoh reklame besar dengan nama HaB Leadership Islamic Centre sebagai penanda tempat itu merupakan salah satu pusat pendidikan Islam.

Sepintas tidak terlihat mencolok dari bagian luar bangunan maupun nama yang melekat di papan reklame tersebut, namun, ruangan yang cukup representatif ini selalu berkumandang lantunan Ayat-ayat Tuhan yang dikeluarkan oleh suara anak-anak yang secara ekonomi tidak mampu di Kota itu.

Siapa sangka, di era yang komersilisasi saat ini, masih berdiri sebuah tempat menimba ilmu secara geratis dengan fasilitas belajar yang lengkap, nyaman, dan aman. Tawa ria dengan wajah semangat siswa dalam menghafal Alquran terlihat jelas dari wajah-anak-anak disini. Kemauan dan keinginan untuk menjadi Hafidz dan Hafidzah menjadi target bagi puluhan generasi penerus yang ada disini meski dengan berbagai latar belakang profesi nantinya. Tak terlihat beban dari wajah mereka saat mengikuti semua tahapan pembelajaran disana, meski pada kenyataannya mereka terlahir dari anak-anak yang kurang mampu secara ekonomi

"Aku ingin menjadi Pramugari yang Hafidz Alquran," tutur Jamila Awaliyah, salah seorang peserta anak didik dengan raut wajah semangat kepada Covesia.com, Sabtu (13/11/2021).

Jamilah yang dilahirkan dari pasangan pedagang kecil yang saban harinya mengais rezeki dengan cara berjualan nasi di Pinggiran Kota ini mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan untuk bisa mengenyam pendidikan disini di luar jam sekolah regulernya yang tercatat sebagai siswa kelas IV SD itu. Dia mengaku, sangat betah dan ingin terus menimba ilmu agama disini jika kesempatan itu terus ada. Berbagai fasilitas yang didapat tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun menjadi kebahagian sendiri bagi anak pasangan papa ini. 

Jamilah, bukanlah siswa satu-satunya yang merasakan secerca asa di pusat Kota dengan ikon Tabuiknya  ini, namun juga ada Inggrid (11) serta puluhan anak-anak belum beruntung lainnya yang merasakan kehidupan layak. Bisa belajar dengan tenang diruang ber ac, diantar jemput oleh sopir pribadi hingga diperhatikan makanan dikala rehat belajar tidak pernah sebelumnya terbayang dalam angan-angan mereka, namun kini semua itu jadi nyata setelah dirinya diterima menjadi anak didik di Istana Tahfidz Fastabiqul Khairat.

"Semua anak yang belajar disini difasilitasi dengan antar jemput, ruangan nyaman dan bersih ber ac, serta diberikan makanan saat jeda Ashar, " tutur pengurus Istana Tahfidz, Tazila (25) kepada Covesia.com.

Tazila mengatakan, setiap anak didik yang belajar disini ditargetkan mampu menghafal 3 Jus Alquran dalam satu tahun. Harapannya kedepan setiap alumni yang telah dididik di Istana Tahfidz ini mampu menjadi pribadi yang baik yang berpondasi dengan ilmu keagamaan di kehidupan mereka yang akan datang.

Tidak banyak sayarat khusus selain dari golongan Fakir untuk menjadi anak didik disini, Segala usia yang ingin menimba ilmu keagaamaan diberikan kesempatan, tanpa ada perbedaan fasilitas.

"Yang terpenting ingin belajar, dan dari golongan Dhuafa, Syarat utamanya hanya itu saja," terang Zila menjelaskan.

Kedepan, Istana Tahfidz ini akan terus dilakukan pembenahan dan penambahan fasilitas, mulai dari laboratorium penelitian, ruang Broadcasting hingga perpustakaan lengkap, dengan demikian anak didik yang menimba ilmu mampu mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru sebagai modal anak-anak ini di masa depan.

"Insyaallah tahun depan, labor hingga perpustakaan sudah berdiri disini. Sehingga anak-anak disini kedepan mampu memiliki ilmu baru yang bermanfaat selain ilmu agama yang menjadi tujuan utama yang kita inginkan," Terang Ketua Pembina Yayasan  Hab Leadership Islamic Centre, Hapen Agus Bulyandi ke Covesia.com.

Harpen yang akrab disapa Andi ini menceritakan, pendirian Istana Tahfidz ini merupakan mimpinya sedari dulu. Dilahirkan dari keluarga yang juga kurang mampu, Andi bertekad dalam hati bilamana takdir berkata lain, dan dia diberikan kesempatan untuk mendapatkan rezeki yang lebih, maka dirinya akan berbagi kepada warga yang belum beruntung secara finasila tersebut. Karena menurutnya kemiskinan bukan hanya sebuah penderitaan dan pembelengguan tapi sebuah takdir yang tidak seorang pun  menginginkannya.

"Cita-cita terbesar dalam hidup ini adalah mampu mendirikan Pesantren dengan segala fasilitas bagi anak-anak Dhuafa. Bisa membantu dan membahagian mereka yang kurang beruntung secara ekonomi adalah kepuasan batin tersendiri," tutur Anggota DPRD Kota Pariaman tahun 2019-2024 yang sejak menjabat selalu memberikan semua gajinya ke Masyarakat ini.

"Saya dulu juga dulu anak Santri dan hidup susah. Alhamdulillah saat ini diberikan kemudahan rezki, maka akan selalu berbagi ke masyarakat. Niat itu sudah tertanam sejak dulu. Kedepan, Insyaallah akan dibangun Istana-istana Tahfidz lainnya di setiap Kabupaten Kota di Sumatera Barat," ucap Donatur utama di Yayasan ini.

Kedepan, Andi bertekat, semampu dan sebisanya dirinya akan terus berkontribusi dengan semua sumber daya yang ada untuk menciptakan generasi muda yang tanngguh, berkarakter dan memiliki pondasi agama yang kuat di Sumatera Barat. Baginya hidup adalah perbuatan, dan pengabdian. Saling berbagi adalah pilihan.

Meski saat ini masih menjadi donatur utama dalam Yayasan ini, namun dirinya yakin jalan untuk kebaikan itu akan selalu ada terbuka untuk mewujudkan harapan besarnya. Dengan tekat dan niat yang tulus, Tuhan akan membentangkan jalan-jalan kemudahan demi keluarga-keluarga yang kurang beruntung itu.

"Hingga akhir hayat nanti, impian terbesar saya adalah ingin mendirikan Pesantren bagi Dhuafa. Akan selalu berkontribusi membangun generasi muda yang islami, dan membantu secara ekonomi masyarakat yang kurang beruntung," tutur pengusaha muda Pariaman ini.

Istana Tahfidz akan selalu ada dan menjadi prasasti di hati puluhan anak yang bercita-cita mulia ingin menjadi Hafidz dan Hafidzah di generasi yang akan datang. Zaman boleh berganti, waktu pasti akan bergulir, namun sebuah karya dan perbuatan akan selalu hidup dari masa ke masa.

(adi)

Berita Terkait

Baca Juga