Soal Ahok Cerai, Senandung Elly Kasim dan Persepsi Masyarakat Kita

Soal Ahok Cerai Senandung  Elly Kasim dan Persepsi Masyarakat Kita

Ahok Cerai!

Demikian topik hangat dalam dua hari ini. Termasuk beberapa ‘analisis’ dari beberapa orang sahabat ke kotak pesan saya.

"Selama ini banyak yang mengagumi BTP ini bung. Nyatanya ia bukan seorang suami yang baik. Bukan kepala rumah tangga yang baik pula!" Setidaknya, demikian ‘lampiran’ penjelasan yang diberikan ketika mengabarkan berita ‘Ahok cerai’  tersebut.

Bagi saya, hidup ini dinamis. Setiap dari kita yang membangun keluarga, bisa jadi mengalami hal seperti itu, termasuk Ahok. Mungkin tampilan selama ini begitu bahagia. Kita tak tahu apa yang berlaku dalam interaksi keluarga mereka. Hanya Tuhan dan mereka yang tahu.

Berarti Ahok bukanlah tokoh yang ideal?

Untuk hal seperti itu, tidak. Saya selalu menjadikan kemampuan seorang tokoh dalam membina keluarga mereka sebagai salah satu parameter di antara banyak parameter melihat ketokohan seseorang. Hari ini, tokoh tersebut mengajukan gugatan cerai pada istrinya, setidaknya demikian yang diberitakan beberapa media massa. Kalau memang betul, berarti satu parameter di antara parameter yang lain yang saya miliki untuk menilai ketokohan seseorang, hilang.

Sebagaimana halnya berita-berita yang berseliweran pasca lengsenya Soeharto pertengahan tahun 1998 lalu, Prabowo bercerai dengan Titiek Soeharto. Ketidakmampuan ‘beliau’ menjaga keharmonisan keluarganya itu, selalu "mengikuti" perjalanan karir politiknya hingga hari ini. 

Dan, ke depan, Ahok juga akan demikian. Kita tak bisa menyalahkan mengapa Ahok bercerai dengan Vero, sebagaimana halnya Prabowo dengan Titiek Soeharto. Tentu mereka memiliki alasan yang mungkin tak bisa mereka rasionalisasikan pada orang lain. 

Mereka yang merasakan. Ditambah lagi, mana ada di dunia ini, seorang laki-laki atau perempuan yang berkeluarga ingin agar rumah tangganya hancur. Kemudian, tak bisa pula disalahkan, apabila ada yang kecewa bahkan sinis ketika seorang tokoh bercerai. 

Kecewa bagi yang (terlampau) mengidolakan. Sinis bagi yang tidak menyukainya. "Bagaimana mengatur negara, mengatur rumahtangga saja tak becus?". Salahkah bila penilaian ini muncul di tengah-tengah publik? Sekali lagi, tak salah. Tinggal kita menimbang-nimbang secara objektif.

Bukankah bercerai di kalangan tokoh itu biasa? Bahkan, di kalangan selebritis justru menjadi sesuatu yang lumrah. Perhelatan pernikahan mereka digelar luar biasa mewah lalu hanya dalam beberapa purnama, berpisah jalan!

Dunia politik, apalagi politisi yang sedang diperbincangkan secara hangat, tentu berbeda dengan dunia selebritis. Ariel Noah saja, justru makin terkenal setelah kasus "eheemmmnya" itu. Bahkan seorang seniman waktu kasus video mesum ini meledak pernah berucap, "Ariel itu entertainer dan musikus sejati, pantas ia Playboy dan melakukan hal itu."

Banyak lagi kasus dalam dunia selebritis seperti ini. Pernikahan mewah dilakukan, bercerai kemudian hanya dalam hitungan beberapa purnama. Silih berganti. Itu yang kita tonton di beberapa infotainment. Orang yang menonton menganggapnya biasa saja. Siapa yang mau nikah ataupun bercerai, semuanya mengalir sedemikian rupa. Mungkin hanya perceraian Bradd Pitt dan Angelina Jolie saja yang banyak membuat orang ‘patah hati’.

Tapi dalam dunia politik, tidak. Seorang politisi dituntut ideal untuk ukuran umum yang dimiliki publik. Kesalahan seorang politisi, apalagi seorang politisi yang memiliki daya tawar tinggi, selalu akan dicari celah-celah untuk kemudian dikapitalisasi agar pertanyaan, ‘apakah ia tokoh ideal?’, bisa terjawab. 

Saya ingat dengan Elly Kasim. Penyanyi Minang yang tetap cantik di usianya yang menua itu, dahulu pernah bersenandung, "bilo takuik dilamun ombak, jan barumah di tapi pantai" (bila takut dihantam ombak, jangan mendirikan rumah di tepi pantai). Mengingat senandung ini, di rentang tahun 2011-2013, teringatlah saya dengan Aburizal Bakrie yang super-kaya.

Ketika si-Ical, demikian biasanya beliau dipanggil dengan akrab, belum menjabat sebagai ketua umum salah satu Partai Politik terbesar di republik ini (Partai Golkar), geliat bisnis dan aktivitas sosial pemilik TV One dan ANTV ini tidak pernah diungkit-ungkit. Bahkan ia disanjung-puja sebagai pengusaha pribumi yang mampu bersaing dengan pengusaha "mata sipit".

Kalaulah pemilik Bakrie Pasaman Plantation ini bukan (ketika itu) ketua umum Partai Golkar (dipastikan) posisi Nirwan Bakrie di organisasi PSSI tidak akan diutak-atik, dan besar kemungkinan kesalahan Nurdin Halid akan "dimaafkan". Tapi mereka memiliki kesalahan fatal, Nirwan Bakrie adalah adik kandung Ical Bakrie, sementara Nurdin Halid "tangan kanan" Nirwan dan Ical Bakrie. Saya yakin, seandainya Aburizal Bakrie bukan ketua partai Golkar (lagi), Lapindo-Gate di Sidoarjo akan ‘senyap’. Ical salah, mengapa ia mau berdiri di puncak gunung politik. Anginnya banyak.

Lalu, apa hubungan antara cerainya Ahok dengan lagu Elly Kasim tersebut ? Entahlah!

Tapi yang pasti, bercerai dengan pasangan hidup itu perih. Apapun alasannya, bercerai itu juga membuktikan sebuah kegagalan, karena tak ada orang yang berkata, "saya pernah bercerai dalam membina rumah tangga, maka saya berhasil dalam hidup ini!"

Tak elok kita menghakimi seseorang sebagai orang yang gagal karena dalam salah satu fase kehidupannya, ia gagal menjaga keutuhan rumah tangganya. Sebab kita yakin, tak ada orang yang ingin mengalami keperihan itu.


Muhammad Ilham Fadli

Muhammad Ilham Fadli ( Ketua Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Imam Bonjol )