Iran dan Putin

Iran dan Putin Vladmir Putin dan Ayatullah Kumaini

Covesia.com - Iran dalam beberapa hari ini dilanda beberapa demonstrasi. Demonstrasi yang dipicu oleh naiknya harga-harga kebutuhan pokok. Sebuah konsekuensi logis dari embargo ekonomi yang dialami negeri Mullah tersebut. Ditambah lagi keinginan sekelompok anak muda yang berbasis di Perguruan Tinggi untuk kembali ke "suasana" ketika Iran diperintah Syahreza Pahlevi. 

Suasana yang "sekuler". Butuh informasi yang berimbang untuk melihat penyebab demonstrasi yang "diledakkan" oleh seorang jurnalis muda melalui aplikasi Telegram ini. Jurnalis muda yang merupakan putra dari seorang ulama Syi'ah tersebut, memanfaatkan aplikasi Telegram milik Pavel Durov itu untuk terus mengobarkan ketidakpuasan publik terhadap Pemimpin spritual Iran Ayatullah Ali Khamenei dan Presiden Rouhani.

Sementara Presiden Amerika Serika Donald Trump serta Mossad Israel seakan-akan mendapat "darah segar" untuk menghantam Iran dibalik tameng Hak Asasi Manusia (HAM). Hal itu merupakan pola lain yang sering digunakan dari keinginan untuk mengintervensi secara politik sebuah negara.

Bagaimana pendapat anda tentang demonstrasi di Iran beberapa hari belakangan ini? Tanya seorang kawan. Saya hanya menunggu reaksi Presiden Rusia Vladmir Putin. Ia menjadi "pemain kunci" dalam langgam politik di Timur Tengah bersama-sama dengan Obama (dulu) dan Trump (kini).

Bila Putin bereaksi, saya yakin Trump tak akan "seganas" seperti ketika mengancam negara-negara OKI sehubungan dengan dengan kasus Yerusalem.

Dan, dua hari lalu, Associated Press( 5/1/2018) mengutip pernyataan Putin, "Trump jangan intervensi persoalan internal Iran! Permainan dimulai.

Muhammad Ilham Fadli

Muhammad Ilham Fadli ( Ketua Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Imam Bonjol )